Feature

Kisah Karmini, Sopir Ambulans Perempuan di Garis Depan Kemanusiaan

193
×

Kisah Karmini, Sopir Ambulans Perempuan di Garis Depan Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini
Karmini (51) Drvier Ambulanmu di PCM Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Di saat banyak orang memilih menjauh, Karmini justru mendekat. Dari ketakutan di awal pandemi, ia menemukan panggilan hidup sebagai driver ambulans—menemani pasien di momen paling genting.

Tagar.co – Deru sirene ambulans sering kali identik dengan kepanikan. Jalanan dibelah tergesa, waktu seakan berpacu dengan napas yang tersisa. Namun di balik kemudi salah satu ambulans di Bantul, ada sosok perempuan yang memilih tetap tenang di tengah situasi genting itu. Namanya Karmini (51).

Perjalanannya tidak dimulai dari keberanian yang utuh. Justru sebaliknya—dari rasa takut yang sangat manusiawi.

Baca juga:  Masjid Al-Fattah Tulungagung Jadi Contoh Tempat Ibadah Ramah dan Aman bagi Perempuan

Awal 2019, ketika pandemi Covid-19 mulai menyelimuti dengan ketidakpastian, masyarakat diliputi kecemasan. Di Bambanglipuro, Bantul, seorang warga yang terindikasi Covid-19 harus menjalani swab. Namun situasinya mencekam—tak satu pun berani mengantar.

Di tengah kebingungan itu, Karmini mengambil keputusan yang mengubah hidupnya.

“Waktu itu tidak ada yang berani. Saya juga sebenarnya takut, tapi kalau tidak ada yang bergerak, bagaimana nasib pasien?” kenangnya pada Tagar.co, Sabtu (2/5/26).

Baca Juga:  Dari Kuitansi Digital hingga Laporan SDGs, Simziska Perkuat Tata Kelola Lazismu Daerah

Dia ditemui menghadiri kegiatan Silaturahmi II Ambulans Muhammadiyah Se-Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY yang digelar di Kopi Bara, Desa Sidododol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Jumat–Sabtu, 1–2 Mei 2026.

Langkah itu sederhana, tetapi sarat makna. Dari situlah ia pertama kali mengemudikan ambulans, sekaligus membuka jalan sebagai salah satu driver ambulans perempuan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagi Karmini, mengemudi ambulans bukan sekadar pekerjaan. Ada dorongan yang lebih dalam—panggilan kemanusiaan yang telah tertanam sejak kecil. Ia tumbuh dalam keluarga yang akrab dengan aktivitas sosial. Ayahnya dikenal aktif membantu masyarakat, dan nilai itu secara alami diwariskan kepadanya.

“Dari kecil sudah terbiasa melihat orang tua membantu masyarakat,” ujarnya.

Dokumentasi Kartini saat menjadi Driver Ambulans di masa Covid-19 tahun 2019. (Tagar.co/Istimewa)

Kini, sebagai ibu dari dua anak, Karmini tetap melangkah di jalur yang sama. Dukungan keluarga, terutama suami yang juga bekerja sebagai driver di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul, menjadi fondasi penting.

“Selama suami masih meridhoi, saya akan terus mengabdi,” katanya tegas.

Sejak 2022, Karmini mengemudikan ambulans milik PCM Banguntapan Selatan. Namun jauh sebelum itu, ia sudah aktif sebagai driver ambulans di lembaga kemanusiaan, bahkan kerap bertugas seorang diri di masa paling berat pandemi.

Baca Juga:  Pererat Ukhuah, Alumni Haji Jabal Nur 2024 Gelar Silaturahmi

Hari-harinya dipenuhi perjalanan yang tak pernah sama. Ia mengantar pasien kontrol, menangani kondisi darurat, hingga membawa jenazah korban kecelakaan. Tak jarang pula ia menangani pasien dengan gangguan jiwa.

Pada puncak pandemi, ritmenya nyaris tanpa jeda.

Dalam sehari, ia bisa melakukan hingga tiga kali perjalanan mengantar jenazah, di tengah kebijakan pembatasan yang membuat suasana semakin sunyi sekaligus menekan.

Namun di balik semua itu, Karmini belajar satu hal penting: menjaga ketenangan adalah bagian dari pertolongan itu sendiri.

Dokumentasi Karmini (51) Driver Ambulanmu yang juga aktivitis Kokamwati, Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Tagar.co/Istimewa)

Sakah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika mengantar seorang ibu dengan patah tulang. Sepanjang perjalanan, pasien itu terus menangis dan berteriak kesakitan.

Alih-alih terbawa suasana, Karmini memilih tetap tenang. Ia bahkan mencoba mencairkan suasana dengan candaan ringan.

“Saya tidak boleh panik. Kalau saya ikut panik, pasien makin takut,” ujarnya.

Pendekatan sederhana itu ternyata meninggalkan kesan mendalam. Seorang pasien bernama Siti Aminah (64) bahkan pernah berkata hanya ingin diantar olehnya.

“Kalau bukan Bu Karmini, saya tidak mau.”

Baca Juga:  Rakorsus Kurban 2026, Ketua Lazismu Jatim Soroti Sinergi Program dan Layanan Dam

Kepercayaan seperti itu tidak datang dari sekadar kemampuan mengemudi, tetapi dari rasa aman yang ia berikan.

Dalam menjalankan tugasnya, Karmini juga kerap didampingi relawan perempuan. Baginya, pelayanan ambulans harus inklusif—terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang.

Ia tidak banyak berbicara tentang dirinya. Bahkan saat ditemui dalam kegiatan silaturahmi komunitas ambulans lintas daerah di Magetan pada awal Mei 2026, Karmini lebih sering mendengarkan daripada menceritakan.

Namun dari setiap kisah yang terselip, tergambar jelas satu hal: keberanian bukan berarti tanpa rasa takut.

Keberanian adalah keputusan untuk tetap bergerak, justru saat rasa takut itu ada—karena ada yang lebih penting dari diri sendiri.

Dalam diri Karmini, rasa itu punya nama: kemanusiaan. (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni