
Di antara waktu yang terus berjalan dan hidup yang perlahan usai, ada jejak-jejak sunyi yang justru bertahan paling lama—buku Hidup Berkah, Jejak Tak Terhapus Waktu mengajak kita melihat kembali, apa yang benar-benar akan tinggal ketika kita telah tiada.
Tagar.co – Apa yang benar-benar tersisa dari hidup seseorang ketika ia tak lagi ada?
Pertanyaan sederhana ini menjadi gerbang masuk bagi Hidup Berkah, Jejak Tak Terhapus Waktu—sebuah buku yang tidak hadir dengan gebrakan keras, melainkan dengan bisikan yang pelan namun menggugah.
Ia tidak sekadar mengajak pembaca berpikir, tetapi perlahan mengusik kesadaran yang selama ini mungkin kita diamkan.
Baca juga: Dari Madrasah, Nurkhan Menulis Manusia: Resensi Buku-Buku Bekas Abdul Mu’ti
Di tengah dunia yang sibuk mengukur keberhasilan lewat angka dan pengakuan, buku ini justru menawarkan perspektif yang berbeda—bahwa hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa dalam kita memberi arti bagi orang lain.
Sebuah sudut pandang yang terasa sederhana, tetapi justru itulah yang membuatnya relevan dan mengena.
Kekuatan buku ini terletak pada cara ia mengingatkan tanpa menghakimi. Penulis seperti menggandeng pembaca, bukan mendorong atau menggurui. Ia menunjukkan bahwa setiap orang, siapa pun ia, memiliki peluang yang sama untuk meninggalkan jejak kebaikan.
Dan menariknya, jejak itu tidak harus lahir dari hal-hal besar. Justru dari tindakan kecil—sebuah kepedulian, bantuan sederhana, atau harapan yang diberikan—makna itu tumbuh dan perlahan menetap.
Bahasanya mengalir ringan, nyaris seperti percakapan batin. Tidak rumit, tidak berjarak. Justru dalam kesederhanaan itulah refleksi demi refleksi terasa dekat, bahkan personal. Pembaca tidak sedang digiring menuju kesimpulan tertentu, melainkan diajak untuk menemukan jawabannya sendiri.
Ada satu gagasan yang terus berulang dan terasa mengendap: waktu akan terus berjalan, sementara hidup manusia memiliki batas. Namun kebaikan tidak tunduk pada batas itu. Ia memiliki caranya sendiri untuk bertahan—menyebar, berkembang, dan memberi manfaat, bahkan setelah pelakunya tiada. Seperti benih yang tak terlihat, tetapi suatu hari menjelma menjadi pohon yang menaungi banyak orang.
Pada titik ini, buku ini tidak lagi sekadar bacaan. Ia berubah menjadi ruang hening—tempat pembaca berhadapan dengan dirinya sendiri. Sebuah cermin yang tidak hanya memantulkan, tetapi juga mempertanyakan: sudahkah hidup ini benar-benar berarti bagi orang lain?
Penulisnya, Fathurrahim Syuhadi, menghadirkan gagasan yang terasa selaras dengan perjalanan hidupnya. Kiprahnya dalam dunia dakwah, sosial, dan pendidikan memberi bobot tersendiri pada setiap pesan yang disampaikan. Apa yang ditulisnya bukan sekadar wacana, tetapi jejak yang juga ia jalani.
Pada akhirnya, buku ini meninggalkan kesan yang tenang, tetapi bertahan lama. Ia tidak menggelegar, namun justru karena itu ia mudah menetap di dalam benak. Seolah mengingatkan dengan lembut: bahwa yang akan dikenang dari kita bukanlah apa yang kita miliki, melainkan apa yang kita tinggalkan.
Dan tanpa kita sadari, setiap hari, setiap pilihan, kita sedang menulis jejak itu—pelan, tetapi pasti. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohamamd Nurfatoni












