Buku

Perlima Fantasia: Menyemai Kepedulian Sosial Anak melalui Cerita

59
×

Perlima Fantasia: Menyemai Kepedulian Sosial Anak melalui Cerita

Sebarkan artikel ini
Peluncuran Buku Kumpulan Cerita Anak Perlima Fantasia, di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, Balai Pemuda Surabaya, Ahad18/1/2026 (Tagar.co/Vivi D).

Buku cerita anak Perlima Fantasia menunjukkan bahwa literasi dapat menjadi medium strategis untuk menanamkan empati dan filantropi sejak usia dini.

Tagar.co – Saya tidak pernah membayangkan bahwa kisah sederhana tentang uang saku bisa menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk memahami makna berbagi.

Namun, itulah yang ingin saya sampaikan melalui cerita “Uang Saku untuk Korban Banjir” dalam buku kumpulan cerita anak Perlima Fantasia yang diluncurkan di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, Balai Pemuda Surabaya, Ahad (18/1/2026).

Baca juga: Petualangan di Dam Kekep: Saat Literasi Bertemu Deru Mesin Jip

Peluncuran buku ini bagi bukan sekadar perayaan literasi anak. Ia menjadi ruang perjumpaan gagasan tentang bagaimana nilai filantropi dapat ditanamkan sejak dini, tanpa ceramah, tanpa nada menggurui, melainkan melalui cerita yang dekat dengan dunia anak.

Perlima Fantasia ditulis oleh 31 penulis perempuan yang memiliki kegelisahan dan harapan yang sama: bagaimana menghadirkan bacaan anak yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membentuk kepekaan sosial.

Cerita-cerita di dalamnya berangkat dari pengalaman sehari-hari—tentang persahabatan, keluarga, dan lingkungan sekitar—yang memungkinkan anak belajar memahami perasaan orang lain.

Baca Juga:  Momen Ustaz Wijayanto Menunjukkan Ijazah Asli Alumnus UGM

Dalam cerita yang saya tulis, saya menghadirkan tokoh Nisa, Bella, dan Sinta—tiga sahabat yang belajar menyisihkan uang saku ketika sekolah mereka menggalang dana untuk korban banjir. Tidak ada tokoh yang digurui untuk berbuat baik. Yang ada hanyalah proses kecil: berdiskusi, menimbang, lalu memutuskan berbagi dengan kesadaran sendiri.

Bagi saya, di situlah letak pentingnya edukasi filantropi. Anak-anak tidak perlu dijejali nasihat moral. Mereka cukup diajak merasakan empati dan melihat bahwa tindakan kecil dapat memberi arti besar bagi orang lain.

Melalui Perlima Fantasia, saya percaya literasi anak dapat memainkan peran strategis dalam membangun karakter generasi muda yang peduli dan berjiwa sosial. Buku ini saya harapkan menjadi bacaan alternatif di rumah dan di sekolah—bacaan yang menghibur, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa berbagi adalah bagian dari kemanusiaan kita sejak usia dini. (#)

Penyuting Mohammad Nurfatoni