Buku

Kumpulan Kultum Zakat dan Keadilan Sosial: Membumikan Nilai Filantropi Islam

97
×

Kumpulan Kultum Zakat dan Keadilan Sosial: Membumikan Nilai Filantropi Islam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Tagar.co/Atho’ Khoironi

Agar mimbar dakwah lebih berwarna dan kesadaran filantropi tumbuh menuju kemakmuran berkeadilan, buku ini hadir.

Tagar.co – Di tengah kegelisahan umat terhadap ketimpangan ekonomi, kemiskinan struktural, dan rapuhnya solidaritas sosial, buku Kumpulan Kultum Inspiratif: Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf, dan Pemberdayaan Umat hadir sebagai oase pemikiran sekaligus panduan praksis dakwah filantropi Islam yang segar, kontekstual, dan transformatif.

Buku karya Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Dewan Syariah Lazismu Tulungagung dan Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, ini tidak sekadar menambah deretan teks keagamaan tentang Ziswaf, melainkan secara sadar memosisikan zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai instrumen peradaban, bukan hanya ibadah individual. Inilah kekuatan utama buku ini: membumikan filantropi Islam dari langit normatif ke bumi realitas sosial.

Dari Ritual Menuju Pilar Peradaban

Bagian I buku ini, Zakat sebagai Pilar Peradaban Umat, membuka horizon berpikir pembaca bahwa zakat bukanlah “penutup kewajiban”, melainkan pintu awal revolusi kesejahteraan. Judul-judul seperti “Berniaga dan Berzakat: Jalan Laba Dunia, Ladang Pahala Akhirat”, “Zakat: Detak Nadi Umat yang Terlupakan”, hingga “Investasi Abadi di Zaman Modern” menegaskan satu pesan penting: Islam tidak alergi terhadap kemakmuran, selama ia dibingkai oleh etika filantropi.

Baca Juga:  Dari Kuitansi Digital hingga Laporan SDGs, Simziska Perkuat Tata Kelola Lazismu Daerah

Di sinilah mimbar dakwah didorong untuk tidak melulu berbicara tentang asketisme pasif, tetapi juga optimisme ekonomi yang berkeadilan. Zakat dipahami sebagai energi sosial yang menghubungkan kesalehan spiritual dengan tanggung jawab struktural.

Zakat sebagai Perlindungan Sosial Umat

Memasuki Bagian II, pembaca diajak melihat wajah zakat yang lebih empatik dan membumi. Tema-tema seperti garimin, mahasiswa rantau, mualaf, hingga ketahanan pangan menunjukkan bahwa buku ini berpijak kuat pada realitas sosial umat.

Zakat tidak lagi tampil sebagai angka statistik atau sekadar distribusi tahunan, tetapi sebagai jaring pengaman sosial strategis. Judul seperti “Ketika Utang Membelenggu, Zakat Jadi Napas Terakhir Harapan” atau “Zakat untuk Negeri Tahan Lapar” menyuarakan dimensi kemanusiaan zakat dengan bahasa yang menyentuh sekaligus kritis.

Di titik ini, dakwah filantropi menemukan ruhnya: membela yang lemah tanpa kehilangan ketertiban syariat.

Filantropi Islam di Era Modern dan Digital

Bagian III dan V memperlihatkan keunggulan buku ini dalam membaca zaman. Zakat dibahas dalam relasinya dengan asuransi syariah, sukuk, digitalisasi, dan profesionalisme amil. Tema seperti “Zakat Digital, Amil Profesional, Umat Percaya” menegaskan bahwa filantropi Islam tidak anti-modernitas, justru mampu bersinergi dengannya.

Baca Juga:  Mood Booster Pergi, Puasa Tetap Tinggal: Pelajaran Emosi bagi Gen Z

Wakaf produktif, wakaf uang, hingga kritik terhadap praktik ekonomi ribawi menjadi bukti bahwa buku ini tidak berhenti pada retorika, tetapi mendorong transformasi sistemik menuju ekonomi umat yang merdeka dari ketimpangan struktural.

Sedekah, Kemanusiaan, dan Spirit Filantropi Sunyi

Bagian IV, VI, dan VII memperkaya buku ini dengan nuansa spiritual-humanistik. Kisah-kisah tentang sedekah sederhana, filantropi tersembunyi, hingga teladan tokoh-tokoh sunyi seperti Zainab binti Jahsy dan penjaga masjid memperlihatkan bahwa filantropi bukan soal besar-kecilnya harta, melainkan keikhlasan dan keberlanjutan dampak.

Bagian ini sangat relevan untuk mimbar dakwah agar tidak kering, tidak elitis, dan tetap menyentuh nurani jemaah dari berbagai lapisan.

Dari Nilai Menuju Aksi Nyata

Sebagai penutup, Bagian VIII menegaskan benang merah seluruh gagasan buku ini: nilai filantropi harus bermuara pada aksi nyata. Ziswaf tidak boleh berhenti sebagai konsep indah, tetapi harus menjadi gerakan sosial yang terorganisasi, profesional, dan berdampak.

Pesan ini selaras dengan harapan penulis agar mimbar-mimbar dakwah lebih berwarna, tidak hanya berbicara tentang salat, sabar, dan tawakal, tetapi juga tentang optimisme kemakmuran umat, keadilan ekonomi, dan pembebasan dari sistem yang timpang.

Baca Juga:  Rentenir Religius

Catatan Penutup

Buku ini layak dibaca oleh dai, khatib, pengelola zakat, akademisi, dan aktivis filantropi Islam. Ia menjembatani bahasa langit wahyu dengan bahasa bumi realitas sosial, menghadirkan dakwah yang mencerahkan sekaligus memberdayakan.

Dengan gaya kultum yang inspiratif namun bernalar, buku ini merupakan ikhtiar penting membumikan nilai-nilai filantropi Islam agar tumbuh kesadaran kolektif menuju kemakmuran ekonomi yang berkeadilan dan berkeadaban.

Data Buku

  • Judul: Kumpulan Kultum Inspiratif Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf, dan Pemberdayaan Umat
  • Penulis Dr. Aji Damanuri, M.E.I.
  • Ukuran : 140 x 200 mm
  • Halaman xviii + 320 hal
  • ISBN : 978-623-6250-85-3
  • Penerbit Kanzun Books
  • Cetakan Pertama: Januari 2026

Cara Memperoleh Buku

Buku ini dapat diperoleh dengan menghubungi:

  • Hendra Purnama: +62 852-3599-2899

  • Faruq Ahmad Futaqi: +62 852-3498-8739

  • Rifqa Najwa Hamdalah: +62 821-3955-9482

Catatan: Seluruh laba penjualan buku ini diinfakkan untuk Lazismu. Membeli buku sekaligus berinfak. Segera dapatkan buku ini. Stok terbatas.

Penyunting Mohammad Nurfatoni