Buku

Sembuh tanpa Kambuh: Ikhtiar Medis dan Spiritualitas Menuju Kesehatan Sejati

200
×

Sembuh tanpa Kambuh: Ikhtiar Medis dan Spiritualitas Menuju Kesehatan Sejati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Tagar.co/Atho’ Khoironi

Buku Sembuh tanpa Kambuh mengajak pembaca memadukan ikhtiar medis dan spiritual, menumbuhkan optimisme penyembuhan sejati, dari klinik hingga ke ruang batin manusia.

Resensi buku oleh M. Anwar Djaelani

Tagar.co – Judul buku ini menarik: Sembuh Tanpa Kambuh. Bukankah semua manusia pernah diuji sakit? Bukankah saat sakit semua pasti berusaha lekas pulih dan penyakit tak kembali lagi?

Sakit adalah ujian Allah bagi manusia. Terkait hal itu, kita harus bersyukur, karena di setiap penyakit ada jalan penyembuhannya. Caranya beragam, antara lain bisa sembuh melalui pengobatan tradisional, lewat medis, atau melalui pendekatan spiritual.

Baca juga: Di Balik Capita Selecta: Jejak Natsir dan Peran Senyap D.P. Sati Alimin

Buku ini sangat bermanfaat karena menyangkut salah satu kebutuhan mendasar manusia untuk hidup sehat. Hal ini karena ditulis oleh orang yang tepat.

Di sampul buku tertulis namanya: NW Achadiono. Lengkapnya adalah Dr. dr. Deddy Nur Wachid Achadiono, M.Kes., Sp.P.D.-KR. Ia dosen Fakultas Kedokteran UGM. Lelaki itu aktivis dakwah sejak mahasiswa.

Apa latar belakang penulisan buku ini? Sebagai dokter yang sehari-hari mendampingi pasien dengan berbagai penyakit kronis dan autoimun, ia sering menyaksikan perjuangan panjang para pasien. Mereka menghadapi gejala yang tak kunjung reda, ada efek samping obat, dan ketidakpastian akan masa depan kesehatannya.

Tidak sedikit dari mereka yang mengalami fase “sembuh sesaat” tetapi akhirnya harus kembali berhadapan dengan penyakit yang sama. Mereka mengalami kambuh, berulang, bahkan memburuk (h. xvii).

Sebagai pembelajar yang tekun, penulis melengkapi pengetahuannya dalam proses penyembuhan penyakit. Ia mendalami masalah keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa dalam konteks pengobatan modern secara integratif. Basisnya adalah nilai-nilai lokal, spiritual, dan gaya hidup sehat (h. 183–184).

Perlu dan Penting

Buku ini berisi 11 bab, semuanya memuat beberapa bahasan. Dibuka Bab 1 berjudul Mengapa Aku Sakit? Bab 2, Sudah Berobat, Kok, Masih Sakit? Bab 3, Apa yang Harus Dilakukan Ketika Sakit? Bab 4, Jadikan Salat sebagai Penolong. Bab 5, Jadikan Sabar sebagai Penolong Kesembuhan. Bab 6, Memohon Kesembuhan dari Allah. Bab 7, Menjemput Kesembuhan lewat Bersyukur.

Lalu Bab 8, Berserah Diri kepada Allah. Bab 9, Kisah para Nabi dan Sahabat ketika Sakit. Di sini ada kisah Nabi Muhammad Saw dan Nabi Ayyub As. Bab 10, Jangan Putus Asa. Bab 11, Beberapa Cara Menyembuhkan Diri. Dua di antara bahasan penting dari Bab 11 adalah Latihan Pasrah Diri dan metode WIMFY.

Baca Juga:  Rasuna Said: Jejak Perempuan Cendekia yang Mengguncang Kolonial

Alamat Permohonan

Saat sakit, hendaknya benar-benar hanya berharap datangnya kesembuhan dari Allah. Bacalah bab yang berjudul Berserah Diri kepada Allah. Seperti apa ekspresinya? Di bab ini ada kisah menarik, dialog Nabi Ibrahim As. dan Malaikat Jibril. Waktunya menjelang Ibrahim As akan dibakar oleh Namrud, si penguasa zalim. Konteksnya memang tidak langsung pada persoalan sakit, tetapi spiritnya sangat bisa dipakai dalam masalah-masalah lain.

Singkat kisah, kala itu Allah meminta Malaikat Jibril menemui Ibrahim As dan menyampaikan pesan. Intinya, jika Ibrahim yang sedang menghadapi masalah besar meminta tolong kepadanya, maka tolonglah. Namun jika Ibrahim menolak, biarkanlah, sebab Tuhannya akan selalu membersamainya.

Perintah Allah itu dikerjakan Malaikat Jibril. Apa yang terjadi? Ibrahim As menolak tawaran bantuan dari Jibril. Ia berkata, “Kepadamu aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya membutuhkan kepada Allah. Cukuplah bagiku bahwa Allah mengetahui keadaanku” (h. 128).

Lalu penulis buku mengambil pelajaran: siapa pun yang berserah diri kepada Allah ketika menerima ujian hidup, Allah akan mengganti kesulitannya dengan kemudahan. Allah akan menukar rasa takutnya dengan keselamatan (h. 130). Lewat kalimat itu, ada pesan tersirat bahwa siapa pun yang sedang berusaha sembuh dari sakit harus tetap memelihara semangat bahwa hanya Allah Yang Mahapenyembuh.

Kisah-kisah Menggugah

Bagaimana saat Nabi Muhammad Saw sakit, terutama di hari-hari terakhir menjelang wafat? Meski merasakan demam yang cukup tinggi, Rasulullah Saw tetap melakukan tugas dakwah, misalnya memberi pesan, “Salat, salat, dan perhatikanlah orang-orang yang lemah di antara kalian.”

Baca Juga:  Dua Kehati-hatian Menuju Akhirat: Cinta dan Kebiasaan

Dari sikap Rasulullah Saw ketika sakit, berikut ini pelajaran yang bisa kita petik:

  • Sabar dalam menghadapi ujian.

  • Tetap menyampaikan pesan kebaikan.

  • Siap menghadapi kematian dengan tenang dan ikhlas (h. 136).

Jauh sebelumnya, bagaimana ketika Nabi Ayyub As menghadapi sakit? Ini penting, sebab yang terkait masalah sakit, apa yang diderita Ayyub As memang “sering dibicarakan” karena beratnya sakit dan akibat yang ditimbulkannya.

Saat sakit bertahun-tahun, Nabi Ayyub As kehilangan keluarga dan kekayaan. Hampir semua orang meninggalkannya. Meski begitu, Nabi Ayyub As tidak mengeluh dan tidak putus asa. Ia terus berdoa, dengan redaksi yang tidak meminta sembuh secara verbal. Inilah doa Nabi Ayyub As dalam QS al-Anbiya ayat 83:

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’”

Atas kesabaran dan doanya, Allah lalu menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub As dan mengembalikan semua nikmat yang pernah hilang, sebagaimana dalam Al-Anbiya ayat 84 (h. 138).

LPD dan WIMFY

Buku ini mendapat banyak sambutan positif dari berbagai kalangan, dari penyintas autoimun sampai akademisi. Mereka memberi kesaksian positif dan mengabarkan optimisme.

“Sebagai penyintas autoimun, saya sudah melewati berbagai fase rasa sakit hingga akhirnya saya membaca Sembuh Tanpa Kambuh. Buku ini seperti pelukan hangat yang datang di saat paling saya butuhkan,” kata A. Salsabila, penyintas autoimun.

Berikutnya, Dr. Uci Nasution, doktor di bidang Pendidikan Ilmu Al-Qur’an, dengan disertasi berjudul Protokol Kesehatan dalam Perspektif Al-Qur’an, menyampaikan bahwa penulis buku ini telah menyajikan panduan yang konkret, ilmiah, dan aplikatif melalui teknik relaksasi otot progresif, meditasi, MBSR (Mindfulness-Based Stress Reduction), hingga LPD, yang dapat membantu penyembuhan penyakit kronis, autoimun, stres, gangguan tidur, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Baca Juga:  Pandangan Isa Anshary tentang Kekuatan Lisan dan Tulisan Natsir serta Tokoh Lain

LPD (Latihan Pasrah Diri) dikaji di Bab 11: Beberapa Cara Menyembuhkan Diri. LPD adalah aktivitas yang menggabungkan teknik zikir, guided imagery, dan latihan napas. Hasilnya adalah respons relaksasi yang menurunkan stres dan depresi, mengurangi peradangan, serta memperbaiki berbagai kondisi penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi, kontrol gula darah pada pasien diabetes, gangguan tidur, perbaikan gejala lupus, perbaikan fungsi paru pada penyakit paru obstruktif kronis, dan kualitas hidup (h. 173).

LPD membawa suasana religius, termasuk penggunaan doa dan zikir. Hal ini akan mudah diterima oleh masyarakat Indonesia (h. 173).

Terakhir, metode WIMFY—singkatan dari Wa idza maridhtu fa-huwa yasyfin (“Jika aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan”). Metode ini memuat tujuh langkah:

  1. Yakini bahwa yang dapat menyembuhkan hanya Allah.

  2. Berdoa, terutama di waktu-waktu mustajabah.

  3. Perbaiki salat dan bersikap sabar.

  4. Bersyukur dalam semua keadaan.

  5. Mengikuti sesi LPD.

  6. Tidak putus asa.

  7. Membuat pola pikir positif dan hanya mengharap tujuan kehidupan di akhirat (h. 176).

Pupuk Optimisme

Demikianlah, buku ini sangat berguna bagi banyak kalangan. Ditulis oleh akademisi yang melengkapi ilmunya dengan pesan-pesan Islam. Bahasanya bagus dan mengalir.

Jika ada yang perlu ditambahkan pada cetakan kedua dan seterusnya, ialah pencantuman indeks di bagian akhir buku. Indeks akan memudahkan pembaca dan menambah kualitas buku ini.

Selamat membaca. Selamat berusaha. Sebab saat sedang “disapa” Allah melalui sakit, kita perlu berikhtiar untuk sembuh, bahkan dengan harapan untuk tidak kambuh lagi. Alhamdulillah.

Data Buku

Judul buku : Sembuh anpa Kambuh
Penulis : NW Achadiono
Terbit : September 2025
Penerbit : Litera Mediatama, Malang
Tebal : xviii + 184 halaman

Penyunting Mohammad Nurfatoni