
Melalui Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji merangkai nasihat tentang iman, akhlak, ilmu, dan kepemimpinan. Puisi Melayu klasik ini menjadi sumber gizi rohani yang tetap relevan lintas zaman.
Oleh M. Anwar Djaelani, peminat masalah pendidikan dan penulis 14 buku
Tagar.co – Verba volant, scripta manent (kata-kata yang diucapkan bisa dilupakan, sementara kata-kata yang ditulis akan abadi). Ungkapan Latin ini populer dan sering disandingkan dengan nasihat lain: Menulislah, engkau akan kekal.
Makna kalimat itu mudah dibuktikan. Banyak penulis yang meski telah lama wafat tetap terasa hidup melalui karya-karyanya. Misalnya Imam Malik (93–179 H) yang pemikirannya terus hidup melalui kitab Al-Muwaththa’. Demikian pula Imam Syafi’i (150–204 H) lewat kitab Al-Umm, serta Imam Al-Ghazali (1058–1111 M) melalui karya monumentalnya Ihya Ulumuddin.
Baca juga: Energi Bacaan Hasbunallah
Di negeri ini pun banyak contoh serupa. Para tokohnya telah lama berpulang, tetapi pemikirannya tetap membersamai kita melalui karya tulis mereka. Salah satunya adalah Raja Ali Haji, seorang ulama, sejarawan, sekaligus pujangga Melayu yang menghasilkan banyak karya tulis. Di antara karya-karyanya, yang paling menonjol adalah Gurindam Dua Belas, yang ditulis pada 1847.
Sejumlah buku membahas karya ini. Misalnya buku Gurindam Dua Belas terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung (2007), setebal 48 halaman. Buku ini memuat teks Gurindam Dua Belas yang berisi petuah dan nasihat yang tak lekang oleh zaman. Di dalamnya juga terdapat uraian tentang kehidupan dan karya Raja Ali Haji, serta reportase mengenai Pulau Penyengat di Riau—tempat kelahiran sekaligus wafatnya sang pujangga.
Ada pula buku berjudul Pesan-Pesan Tasawuf dalam Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji, hasil telaah M. Hatta. Buku setebal 142 halaman ini diterbitkan oleh Unri Press, Pekanbaru, pada 2007.
Asyik dan Menarik
Allah memiliki Asmaul Husna. Salah satunya adalah Al-Jamil, Yang Maha Indah. Terkait hal ini, renungkan hadis berikut:
“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan.” (Muslim)
Ketika kita berbusana dengan indah—tentu sesuai kemampuan masing-masing—itu termasuk bagian dari usaha menjadi hamba Allah yang baik. Demikian pula ketika kita berkata-kata dengan indah dan santun.
Ucapan yang elok bahkan dapat menjadi media dakwah yang efektif. Pada masa Nabi Muhammad Saw., misalnya, terdapat seorang penyair terkenal bernama Hassan bin Tsabit. Ia membela Islam melalui syair-syair yang dibacakannya.
Di negeri ini, ada pula sejumlah penyair yang melalui karya-karyanya dapat disebut sebagai pembela agama. Salah satunya adalah Raja Ali Haji. Ia lahir—menurut sebagian sumber—pada 1808 di Pulau Penyengat, Riau. Ia dikenal sebagai ulama, sejarawan, sekaligus pujangga.
Raja Ali Haji dinilai berjasa memimpin kebangkitan sastra dan budaya Melayu pada abad ke-19. Hal ini antara lain karena ia menghasilkan sejumlah karya monumental sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan bangsa. Di antara karyanya, yang paling menonjol adalah Gurindam Dua Belas.
Naskah ini selesai ditulis di Pulau Penyengat pada 23 Rajab 1263 Hijriah (1846 M).
Apa itu gurindam?
Gurindam adalah sajak dua baris yang berisi petuah atau nasihat. Gurindam Dua Belas memiliki ciri khas karena memuat banyak istilah Islami dan ungkapan kiasan. Disebut Gurindam Dua Belas karena terdiri dari dua belas pasal dan termasuk jenis puisi didaktik, yakni puisi yang mengandung ajaran moral.
Isinya berupa petunjuk hidup, antara lain tentang ibadah, kewajiban pemimpin, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti, serta kehidupan bermasyarakat.
Mengapa Raja Ali Haji menulis karya ini?
Tujuannya agar nilai-nilai keislaman tidak terkikis oleh situasi sosial yang tidak kondusif pada masa itu. Dengan menulis, Raja Ali Haji menjalankan tanggung jawab sosial untuk memelihara dan mempertahankan agama serta budaya Islam. Karya monumental ini berisi petunjuk menuju kehidupan mulia yang diridai Allah.
Raja Ali Haji wafat—menurut sebagian sumber—pada 1873 di Pulau Penyengat. Berkat karya dan perjuangannya melalui tulisan, ia kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 5 November 2004.
Nasihat Kuat
Sebenarnya judul tulisan ini kurang tepat. Hal ini karena dalam Gurindam Dua Belas, setiap gurindam mengandung banyak “gizi ruhani” berupa nasihat. Namun, dalam tulisan ini dari setiap gurindam hanya diambil satu nasihat yang dianggap paling kuat.
Harapannya, tulisan ringkas ini dapat menjadi pengenalan awal terhadap karya besar Raja Ali Haji.
Kita mulai dari Gurindam I. Raja Ali Haji menulis:
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.
Syair ini mengingatkan kita pada ayat:
“Tetapi kamu memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A‘la: 16–17)
Pada Gurindam II, Raja Ali Haji menulis:
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Kata temasya dalam bahasa Melayu bermakna sama dengan tamasya. Syair ini mengingatkan kita pada hadis:
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (Muttafak ‘alaihi)
Pada Gurindam III, ia menasihati:
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat darinya faedah.
Syair ini mengingatkan kita pada hadis:
“Keselamatan manusia bergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (HR Bukhari)
Pada Gurindam IV, ia menulis:
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Frasa “sudah besar” dapat dimaknai sebagai orang yang telah menjadi pemimpin atau pejabat. Syair ini mengingatkan pada hadis:
“Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang memudahkan mereka, maka mudahkanlah baginya.” (Muslim)
Pada Gurindam V:
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Syair ini mengingatkan kita pada ayat:
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Al-Baqarah 197)
Pada Gurindam VI:
Carilah olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Syair ini mengandung kiasan bahwa sahabat yang baik akan memberi pengaruh baik. Kita diingatkan pada hadis:
“Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Pada Gurindam VII:
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapaknya letih.
Syair ini mengingatkan pada nasihat Luqman kepada anaknya:
“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang besar.” (Lukman 13)
Pada Gurindam VIII:
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.
Kita diingatkan pada hadis:
“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.”
(HR Muslim)
Pada Gurindam IX:
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.
Syair ini mengingatkan pada ayat:
“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah 168)
Pada Gurindam X:
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Kita diingatkan pada hadis tentang siapa yang paling berhak diperlakukan baik:
“Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.” (Bukhari)
Pada Gurindam XI:
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Syair ini mengingatkan pada ayat:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa: 58)
Terakhir, pada Gurindam XII:
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Syair ini mengingatkan pada hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat, salah satunya pemimpin yang adil.
Kaya Gizi
Gurindam Dua Belas berisi petuah yang melimpah. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari dalamnya. Karena nasihat-nasihat itu disampaikan melalui syair yang indah, pesan moralnya menjadi lebih berkesan.
Sebagai contoh, dari Gurindam XII kita juga menemukan nasihat berikut:
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Juga nasihat ini:
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.
Akhirnya, sangat bermanfaat bagi kita untuk membaca secara lengkap Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Dari sana kita dapat meraup berbagai “gizi ruhani” yang terkandung di dalamnya.
Semoga kita termasuk orang yang dimaksud dalam Gurindam V:
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












