BudayaCerpen

Powerbank di Barisan Demonstran

91
×

Powerbank di Barisan Demonstran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ucup datang ke demonstrasi dengan bayangan idealisme seperti dalam buku sejarah. Namun di barisan demonstran, ia justru menemukan pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Cerpen oleh Aji Damanuri, Dekan FEBI UIN Ponorogo

Tagar.co – Nama gue Ucup. Bukan nama keren memang, tapi orang tua gue dulu pengin gue “up to date”, makanya dikasih nama Ucup. Iya, logika gila memang.

Gue mahasiswa semester lima jurusan Ilmu Politik di kampus merah-hitam yang katanya kampus pergerakan. Dulu pas gue mau masuk, tetangga pada bilang, “Wah, lo pasti jadi aktivis, turun ke jalan, demo, bikin perubahan!”

Baca cerpen Aji Damanuri lainnya: Rentenir Religius

Tiga tahun kemudian, perubahan yang gue bikin cuma satu: dari yang tadinya sarapan nasi jadi sarapan mi, karena bokap kirim uang telat.

Inilah realita pahit anak kos: idealisme setinggi langit, saldo e-wallet sedalam kuburan.

Hari itu gue diundang rapat BEM. Sudah dua bulan gue nggak datang-datang, dan hari ini ketua umum—orangnya galak, badan besar, suaranya kayak speaker TOA—ngancam bakal mencopot jabatan.

Jabatan gue apa? Sie Humas BEM. Tugas gue: nge-post Instagram, balas komentar, dan kadang-kadang jadi tukang foto kalau ada acara.

Kerennya: Humas.
Realitanya: admin media sosial.

Baca Juga:  Manusia di Balik Linimasa

Gue datang ke sekretariat. Tempatnya kecil, ber-AC, tapi AC-nya cuma kipas angin dua yang bunyinya kayak traktor tua.

Dindingnya penuh poster usang dari tahun dua ribu lima belas. Ada foto-foto demo lawas: mahasiswa teriak, polisi menyemprot, spanduk robek. Generasi emas, katanya.

Sekarang? Di sudut ruangan, anak-anak BEM pada main Mobile Legends.

“Woi! Serius lo!” teriak ketua umum, si Galih. Badannya memang gede, tapi sayang ototnya cuma di tubuh, otak belum tentu. “Kita mau bahas program kerja. Matiin itu game!”

“Bentar, Bang, push nih,” jawab anak BEM tanpa menoleh.

Gue cuma bisa geleng-geleng sambil nunggu rapat dimulai.

Rapat akhirnya dimulai setelah Galih berhasil merebut hape anak-anak BEM satu per satu. Pemandangan langka: anak muda ngumpul tanpa gawai. Rasanya kayak lagi di penjara.

“Oke, kita bahas agresi militer Israel ke Palestina,” buka Galih serius.

Gue refleks tegak. Wah, ini baru politik.

“Gue usul kita bikin petisi daring,” kata Galih.

Gue manggut-manggut. Keren.

“Terus kita post di Instagram, pakai twibbon, dan challenge kampus lain buat ikutan.”

Gue masih manggut.

“Terus biar rame, kita kasih hadiah voucher GoFood buat yang repost paling banyak.”

Baca Juga:  Tiket Terakhir Menuju Pulang

Gue berhenti manggut.

Ini serius? Perang Palestina–Israel, terus hadiahnya voucher GoFood?

Gue angkat tangan.
“Bang, maaf. Bukannya gue nggak setuju, tapi… ini agak off dikit nggak sih? Maksud gue, orang lagi perang, kita ngasih voucher?”

Galih melotot.
“Terus lo maunya apa? Nyumbang rudal? Emang lo punya duit?”

Gue diam. Poin bagus juga.

Rapat berlanjut. Bahasannya makin absurd: dari Palestina, tiba-tiba bahas kenaikan UKT, lalu bahas kasus dosen yang selingkuh, terus malah bahas harga ayam geprek naik.

Dan seperti biasa, ujung-ujungnya bikin petisi dan twibbon.

Gue nyoba protes.

“Bang, kenapa kita nggak turun ke jalan aja? Kayak dulu-dulu. Biar kita dengar langsung suara rakyat.”

Semua mata memandang gue. Lalu pada ketawa.

“Lo kira ini masih sembilan delapan, Cup?” kata Wati, sekretaris jenderal yang lebih sibuk jualan scarf online daripada ngurus administrasi. “Orang sekarang maunya praktis. Demo capek, kena panas, kena gas air mata. Mending rebahan sambil like and share. Efeknya sama.”

Gue bengong.

Efeknya sama? Sejak kapan like and share bisa nurunin harga sembako?

Tapi gue diam. Nggak enak sama yang punya voucher.

Gue ingat pesan bokap sebelum berangkat kuliah.

“Cup, lo kuliah yang benar. Kalau perlu jadi aktivis, tapi ingat, jangan sampai telat bayar UKT.”

Baca Juga:  "Ia Sudah Memaafkanmu. Tapi Kamu Tidak Pernah Tahu"

Idealisme memang penting, tapi UKT lebih penting. Karena kalau UKT nunggak, lo bisa di-drop out, dan idealisme lo bakal tumpah di jalanan benar-benar—tanpa ijazah.

Hari itu, grup WA BEM rame. Ada rencana demo ke DPRD.

Akhirnya!

Gue bersemangat. Akhirnya kita akan turun ke jalan, bikin perubahan, kayak di film-film.

Gue baca pesan selengkapnya:

“Besok demo ke DPRD. Kumpul jam tujuh pagi di sekretariat. Wajib bawa: topi, masker, sunscreen (biar nggak item), minum, camilan, powerbank, dan kabel data. Jangan lupa bawa spanduk. Yang bawa spanduk terkeren dapat e-wallet lima puluh ribu dari donatur. ABSOLUT WAJIB DATANG! Absen dimulai jam 06.45.”

Gue baca ulang.

Ada yang aneh.

Sunscreen?
Camilan?
Powerbank?

Gue chat Galih.

“Bang, ini demo atau piknik?”

“Lo pikir demo sekarang kayak dulu? Sekarang sudah modern. Kita demo tapi tetap harus nyaman. Jangan sampai dehidrasi. Lo tahu sendiri, harga air mineral di DPRD mahal.”

Gue nggak bisa tidur semalaman. Bukan karena deg-degan mau demo, tapi mikirin: gue harus pakai baju apa biar tetap estetik pas difoto orang? (#)

Penyuntng Mohuriammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…