
Tagar.co – Nama bulan kalender Hijriah lekat dengan tradisi masyarakat dan musim di jazirah Arab. Ketika Islam berkembang kalender itu tetap dipakai kemudian diisi dengan nilai ajaran Islam.
Pemberian angka tahun dan penamaan Hijriah diputuskan zaman Khalifah Umar bin Khattab untuk kepentingan administrasi surat menyurat negara.
Peristiwa umat muslim hijrah dari Makkah ke Madinah dipilih menjadi patokan tahun pertama. Ini terjadi pada tahun 622 Masehi.
Kalender Hijriah terdiri 12 bulan. Tiap bulan ada yang 29 hari atau 30 hari berdasarkan lama bulan mengitari bumi.
Nama bulan dan asal usulnya dalam kalender Hijriah, mengutip muhammadiyah.or.id sejarahnya sebagai berikut.
Muharam
Bulan pertama Muharam artinya yang dihormati, yang dimuliakan. Muharram termasuk empat bulan haram berperang. Penghormatan ini mulai zaman pra Islam dan zaman Nabi Muhammad Saw menyebarkan Islam. Tiga lainnya Zulqa’dah, Zulhijjah, dan Rajab.
Shafar
Bulan ini dinamakan Shafar karena kondisi kampung kosong atau shifrun. Penduduknya keluar berperang atau berdagang.
Ada juga yang berpendapat, kosongnya kampung karena ada wabah penyakit kuning, sehingga penduduk mengungsi. Warna kuning dalam bahasa Arab adalah ashfar.
Rabi’ul Awwal
Rabi’ artinya semi. Jadi Rabi’ul Awwal artinya musim semi pertama. Ketika pohon mulai tumbuh daun muda setelah berguguran. Begitu juga rerumputan mulai bersemi. Dataran mulai menghijau.
Rabi’ memiliki beberapa arti. Seperti hujan di musim semi, sungai kecil, warna hijau tumbuh-tumbuhan, dan rerumputan.
Rabi’uts Tsani
Rabi’ut Tsani” disebut juga Rabi’ul Akhir artinya musim semi kedua. Ditandai dengan pepohonan yang rimbun daunnya dan rerumputan sudah panjang. Tanaman kam’ah (jamur truffle) dan naura’ mulai tumbuh. Buah-buahan mulai tampak.
Di musim ini saatnya penggembala melepas ternaknya karena makanan berlimpah.
Jumadil Awwal
Bulan ini memasuki musim dingin. Air ada yang membeku. Jumud artinya membeku. Musim dingin di negara Arab terkadang cukup ekstrem. Sesekali bisa turun salju di beberapa lokasi.
Jumadits Tsani
Jumadil Tsani atau Akhir cuaca masih sangat dingin hingga berkurang pada hari-hari terakhir.
Rajab
Rajab banyak arti. Salah satunya bermakna pengagungan. Termasuk empat bulan haram perang. Menurut tradisi zaman dulu pada bulan ini orang-orang Arab saling mengatakan urjubuu yang berarti “berhentilah dari perang dan pengepungan”.
Ada yang menjelaskan penggunaan nama bulan ini sebelumnya karena mereka takut perang. Makna rajab berarti takut.
Ada juga yang menjelaskan nama bulan Rajab mengacu pada kegiatan pemupukan pohon.
Syakban
Kata Syakban berasal dari asal kata sya’b. Artinya bangsa, suku, dan sekelompok orang. Karena pada bulan ini zaman dahulu orang-orang Arab berkelompok-kelompok (tasya’ub) atau berpencar mencari air, atau berdagang.
Ramadan
Bulan ini memasuki musim panas. Suhu udara sangat panas. Ramdha bahasa Arab artinya sangat panas. Orang Arab jahiliyyah zaman pra Islam ada yang menamakan bulan Al- Asham atau tuli. Karena saat bulan ini tiba tidak terdengar suara senjata, karena dilarang berperang. Tapi perang Badar terjadi di bulan Ramadan karena umat muslim di Madinah ditantang perang kaum kafir Makkah.
Syawal
Dari kata syawwiluu yang bermakna pergilah. Ada juga yang mengatakan, kata Syawwal merujuk pada gerakan ekor unta yang bergerak karena memasuki musim kawin. Maka orang-orang Arab di masa jahiliyah melarang pernikahan di bulan Syawal. Islam datang menghapus kepercayaan itu dan membolehkan nikah di buolan Syawal.
Zulqa’dah
Berasal dari kata qu’ud. Artinya duduk. Jadi ini bulan masanya warga duduk-duduk bersantai. Setelah pulang dari perang atau berdagang, di rumah waktunya istirahat. Juga persiapan menjelang bulan haji.
Zulhijjah
Bulan melaksanakan ibadah haji bagi orang-orang Arab. Tata cara ibadah haji dikenalkan kembali oleh Nabi Ibrahim setelah merenovasi Kakbah bersama anaknya, Nabi Ismail. Beberapa abad setelah itu tata cara ritual haji bercampur dengan paham syirik oleh kaum penyembah berhala.
Zaman Nabi Muhammad Saw tata cara ibadah haji diluruskan kembali dan terpelihara sampai sekarang. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












