Telaah

Ramadan: Madrasah Cinta bagi Jiwa yang Rapuh

72
×

Ramadan: Madrasah Cinta bagi Jiwa yang Rapuh

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Melalui puasa, salat malam, dan zikir, Ramadan melatih hati manusia yang lemah agar kembali menemukan kekuatan cinta kepada Allah.

Oleh Agus L. Hidayat; Tim Task Force Fundraising Lazismu Jatim

Tagar.co – Meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepada-Mu, namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu. Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintai-Mu, dalam dada kuharap hanya diri-Mu yang bertahta. (“Rapuh” oleh Opick)

Lirik lagu Rapuh dari Opick ini menyentuh sisi terdalam manusia: “Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintai-Mu….”

Baca juga: Lebih dari Sekadar Jago Negosiasi: Tiga Kaidah Usul Fikih Bekal Fundraiser

Kalimat ini mencerminkan hakikat jiwa manusia yang rapuh. Kita ingin mencintai Allah sepenuh hati, namun sering dikalahkan oleh hawa nafsu, kesibukan dunia, dan kelemahan diri. Inilah kenyataan manusia: lemah, mudah lalai, dan sering lupa kepada Pencipta.

Allah sendiri menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Kita mudah terpengaruh oleh harta, jabatan, pujian, bahkan kesenangan kecil yang menjauhkan dari-Nya.

Cinta kepada Allah bukan sekadar ucapan, tetapi perjuangan sepanjang hidup. Hati sering terombang-ambing antara cinta dunia dan cinta akhirat. Karena itu doa seorang hamba selalu dipenuhi permohonan ampun: Ya Allah, kuatkanlah hatiku dalam mencintai-Mu.

Rapuhnya jiwa bukan berarti hina, tetapi tanda bahwa manusia membutuhkan Allah. Justru saat kita merasa lemah, di situlah pintu cinta terbuka. Ketika hati sadar akan kekurangannya, ia akan mencari pertolongan Rabb-Nya. Tangisan dalam doa, istigfar di malam hari, dan kerinduan dalam zikir adalah bukti cinta yang sedang tumbuh.

Baca Juga:  Mengenang Suasana Ramadan di Kampung Halaman Sumenep

Di sinilah Ramadan menjadi momentum luar biasa. Ramadan adalah madrasah cinta kepada Allah. Puasa mengajarkan kita menahan lapar dan haus, bukan sekadar menahan makan, tetapi melatih hati agar lebih dekat kepada-Nya. Saat kita meninggalkan hal yang halal demi ketaatan, kita sedang belajar mencintai Allah lebih dari diri sendiri.

Salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, sedekah, dan qiyamul lail adalah latihan membersihkan hati. Setiap ayat yang dibaca melembutkan jiwa. Setiap sujud memadamkan kesombongan. Setiap sedekah mengikis cinta dunia. Dalam Ramadan, hati yang rapuh diperbaiki, cinta yang lemah dikuatkan.

Ramadan juga mengajarkan kejujuran. Tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa selain Allah. Ketika kita tetap menjaga puasa meski sendiri, itu tanda cinta yang tulus. Kita ingin Allah rida, bukan manusia.

Namun Ramadan bukan sekadar ritual sebulan. Ia adalah titik awal perjalanan cinta. Setelah Ramadan, kita membawa kebiasaan baik itu ke bulan-bulan berikutnya. Jika hati masih sering lalai, jangan putus asa. Cinta kepada Allah tumbuh perlahan, seperti tanaman yang disiram setiap hari dengan doa dan amal.

Baca Juga:  Menemukan Ketenangan dalam Sunah Tarawih

Akhirnya, rapuhnya jiwa manusia yang memang adalah kesempatan meraih jalan menuju Allah. Kita tidak diminta menjadi sempurna, tetapi diminta terus kembali kepada-Nya. Ramadan mengajarkan bahwa cinta kepada Allah bukan teori, melainkan latihan nyata dalam kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan kepada-Nya.

Semoga Ramadan ini menjadikan hati kita lebih lembut, lebih bersih, dan lebih mencintai Allah. Jika cinta itu belum sempurna, jangan berhenti berdoa: Wahai yang membolak-balik hati manusia, tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu.

Ya Allah, jadikanlah Engkau satu-satunya yang bertahta di dalam dada kami. Amin Allahumma amin, ya Arhamarrahimin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni