Telaah

Muhasabah Akhir Ramadan

64
×

Muhasabah Akhir Ramadan

Sebarkan artikel ini
Muhasabah memasuki sepuluh akhir Ramadan seseorang patut bertanya kepada diri sendiri: apakah berpuasa telah membuat hati ini lebih lembut, lisan lebih terjaga, dan perilaku lebih jujur.
Muhasabah

Muhasabah memasuki sepuluh akhir Ramadan seseorang patut bertanya kepada diri sendiri: apakah berpuasa telah membuat hati ini lebih lembut, lisan lebih terjaga, dan perilaku lebih jujur.

Oleh R. Arif Mulyohadi, Akademisi, Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, dan Anggota Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Orwil Jatim

Tagar.co – Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas dalam kehidupan umat Islam. Masjid menjadi lebih ramai, pengajian lebih hidup, tilawah terdengar di berbagai tempat, dan kegiatan sosial keagamaan meningkat.

Suasana ini tentu patut disyukuri karena menunjukkan bahwa Ramadan masih memiliki daya panggil yang kuat dalam kehidupan umat.

Namun di tengah semarak itu, ada satu pertanyaan yang layak diajukan secara jujur: apakah Ramadan yang kita jalani masih sungguh-sungguh menjadi ruang pendalaman spiritual, atau justru perlahan berubah menjadi rangkaian seremonial yang ramai di permukaan, tetapi tipis dalam penghayatan?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika umat Islam memasuki sepuluh malam terakhir. Waktunya muhasabah.

Dalam ajaran Islam, fase ini bukan sekadar penghujung bulan puasa, melainkan puncak perjalanan ruhani seorang muslim.

Pada malam-malam inilah umat dianjurkan memperbanyak ibadah, memperkuat doa, memperdalam istigfar, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan kesungguhan yang lebih tinggi.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan” (Q.S. Al-Qadr: 1–3).

Ayat tersebut menegaskan bahwa sepuluh malam terakhir tidak dapat dipahami sebagai waktu biasa. Ia adalah momentum pemurnian jiwa.

Baca Juga:  Zakat Fitrah Jadi Urusan Paling Akhir

Di sinilah seorang muslim seharusnya muhasabah, menata kembali arah hidupnya, mengoreksi kekurangan dirinya, dan memperdalam hubungannya dengan Allah.

Karena itu, bila pada fase yang sangat sakral ini umat justru lebih sibuk dengan rutinitas yang bersifat simbolik, maka ada kemungkinan yang hilang bukan keramaian ibadah, melainkan kedalaman makna ibadah itu sendiri.

Pendalaman Ruhani

Puasa sejak awal tidak hanya dimaksudkan sebagai latihan menahan lapar dan dahaga. Tujuan pokoknya telah ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S. Al-Baqarah: 183).

Karena itu, ukuran keberhasilan Ramadan bukan terletak pada banyaknya agenda keagamaan yang diikuti, melainkan pada sejauh mana puasa melahirkan takwa, pengendalian diri, kejernihan hati, dan kepedulian sosial.

Dalam konteks inilah kita perlu jujur membaca kehidupan keagamaan hari ini. Tidak sedikit aktivitas Ramadan yang dijalankan dengan semangat kolektif, tetapi belum tentu diiringi pendalaman ruhani yang memadai.

Buka puasa bersama kadang lebih menonjolkan dokumentasi daripada silaturahmi. Tadarus dilakukan sebagai rutinitas, tetapi tidak selalu diiringi tadabbur.

Sedekah dipublikasikan secara luas, sementara nilai keikhlasan justru menuntut ketenangan batin. Bahkan, tidak sedikit ekspresi keagamaan yang kini bergerak dalam logika pertunjukan sosial: semakin tampak, semakin dianggap bermakna.

Tentu, Islam tidak menolak syiar. Kegiatan keagamaan di ruang publik tetap memiliki fungsi penting dalam membangun semangat kebersamaan umat.

Namun, persoalan muncul ketika yang lebih diutamakan bukan lagi penghambaan, melainkan penampilan; bukan lagi makna, melainkan simbol; bukan lagi keikhlasan, melainkan pengakuan sosial.

Baca Juga:  Melatih BMB3 dalam Puasa

Di titik itulah Ramadan berisiko bergeser menjadi seremonial. Ia tetap hidup secara lahiriah, tetapi melemah dalam daya ubah moralnya.

Padahal, Rasulullah Saw. memberi teladan yang sangat jelas tentang bagaimana sepuluh malam terakhir seharusnya dijalani.

Aisyah ra. meriwayatkan,Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir, Nabi Saw. menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa fase akhir Ramadan adalah masa intensifikasi ibadah, bukan masa kelengahan.

Nabi tidak menjadikannya sebagai ruang seremoni, melainkan sebagai waktu untuk meningkatkan kesungguhan, memperkuat disiplin batin, dan mengarahkan seluruh perhatian kepada Allah.

Perubahan Diri

Sepuluh malam terakhir semestinya menjadi ruang muhasabah. Setelah berpuasa hampir sebulan, seseorang patut bertanya kepada dirinya sendiri: apakah Ramadan telah membuat hati ini lebih lembut, lisan lebih terjaga, dan perilaku lebih jujur?

Apakah puasa telah melatih kesabaran, mengurangi amarah, dan memperhalus cara memperlakukan orang lain? Ataukah Ramadan hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan yang tidak benar-benar meninggalkan bekas pada watak dan tindakan?

Rasulullah Saw. juga memberi peringatan yang tegas, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya” (H.R. Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa yang tidak membuahkan perubahan akhlak pada dasarnya telah kehilangan inti nilainya. Dengan kata lain, ritual tanpa transformasi moral hanya menyisakan bentuk, bukan makna.

Baca Juga:  Politik Bebas Aktif Memandang Perang Iran-Israel

Karena itu, spiritualitas Ramadan tidak boleh dipahami hanya dalam dimensi vertikal. Kedekatan kepada Allah harus tercermin dalam kualitas hubungan antarmanusia.

Orang yang berpuasa semestinya semakin peka terhadap kesulitan sesama, semakin ringan menolong, dan semakin hati-hati dalam bersikap.

Takwa yang menjadi tujuan puasa harus tampak dalam kejujuran, tanggung jawab, empati, serta keberpihakan kepada mereka yang lemah.

Allah Swt. menegaskan, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku” (Q.S. Al-Baqarah: 186).

Ayat ini mengingatkan bahwa inti ibadah adalah kedekatan dengan Allah. Kedekatan itu tidak selalu lahir dari keramaian. Sering kali ia justru tumbuh dalam keheningan, dalam doa yang tulus, dalam istigfar yang jujur, dan dalam air mata taubat yang tidak diketahui siapa pun selain Allah.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah Ramadan kita masih spiritual atau sudah seremonial bukanlah pertanyaan untuk orang lain. Itu adalah pertanyaan untuk diri sendiri.

Sepuluh malam terakhir memberi kesempatan kepada setiap muslim untuk menjawabnya dengan amal, bukan dengan slogan.

Ramadan seharusnya tidak berakhir sebagai kalender tahunan yang lewat begitu saja. Ia harus meninggalkan bekas pada jiwa, membentuk akhlak, dan memperhalus cara kita hidup setelahnya. Di sanalah letak kemuliaan puasa.

Di sanalah sepuluh malam terakhir dalam muhasabah menemukan artinya: bukan sekadar penutup Ramadan, melainkan puncak dari proses penyucian diri. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto