
Nuzululqur’an bukan sekadar peringatan tahunan yang diisi ceramah, melainkan momentum untuk mengembalikan umat kepada Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk.
Oleh R. Arif Mulyohadi, Akademisi, Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, dan Anggota Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Orwil Jatim.
Tagar.co – Ramadan selalu datang dengan janji pemulihan. Bulan ini tidak hanya mengubah jadwal makan dan tidur, tetapi juga membuka peluang untuk menata kembali arah hidup.
Dalam suasana itulah Nuzululqur’an seharusnya dimaknai. Ia bukan sekadar peringatan tahunan yang diisi ceramah seremonial, melainkan momentum untuk bertanya secara jujur: apakah Ramadan benar-benar mengembalikan umat kepada Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk, atau justru kita semakin larut dalam arus distraksi digital yang tak pernah berhenti?
Pertanyaan itu terasa semakin mendesak pada zaman ini. Kehidupan digital telah mengubah cara manusia melihat, membaca, dan merespons dunia.
Setiap hari perhatian kita dibanjiri notifikasi, video singkat, komentar instan, potongan ceramah, serta berbagai informasi yang datang silih berganti tanpa jeda. Akibatnya, ruang batin yang seharusnya tenang menjadi penuh kebisingan.
Waktu yang mestinya dapat digunakan untuk membaca, merenung, dan memperdalam makna ibadah sering habis hanya untuk menggulir layar.
Dalam situasi seperti ini, puasa tidak lagi hanya menguji kemampuan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kemampuan menjaga kejernihan akal dan ketenangan hati.
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa Ramadan memiliki hubungan yang sangat mendasar dengan turunnya wahyu.
Allah Swt. berfirman, “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda antara yang benar dan yang batil” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ayat ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi juga bulan orientasi. Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk hidup, penjelas jalan yang benar, dan pembeda antara yang hak dan batil.
Karena itu, memperingati Nuzululqur’an seharusnya bukan sebatas mengenang turunnya wahyu, melainkan memperbarui komitmen untuk menjadikan wahyu sebagai rujukan utama dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.
Popularitas
Di sinilah tantangan terbesar umat pada era digital muncul. Teknologi memang membuka akses luas terhadap ilmu agama.
Tafsir, hadis, kitab, dan ceramah dapat diakses dengan mudah. Namun, kemudahan itu juga menghadirkan persoalan serius: popularitas sering kali menggeser otoritas keilmuan.
Yang paling banyak tampil belum tentu yang paling mendalam. Yang paling viral belum tentu yang paling benar.
Dalam ruang digital, agama rentan dipotong menjadi kutipan singkat, emosi sesaat, dan slogan yang kehilangan konteks. Akibatnya, sebagian orang mengonsumsi pengetahuan agama secara serba cepat dan dangkal.
Ayat dibaca sepotong-sepotong, hadis disebarkan tanpa verifikasi, dan pandangan keagamaan diterima hanya karena terdengar meyakinkan. Padahal wahyu pertama yang turun justru dimulai dengan perintah membaca: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1).
Perintah iqra’ bukan hanya ajakan melafalkan teks, tetapi juga dorongan untuk memahami, menimbang, dan memaknai realitas dengan bimbingan Tuhan.
Dengan demikian, Islam sejak awal membangun tradisinya di atas budaya ilmu, bukan budaya gaduh.
Karena itu, Nuzululqur’an semestinya dibaca sebagai momentum pemulihan budaya ilmu. Relasi umat dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada tilawah, walaupun tilawah tetap penting dan mulia.
Hubungan itu harus bergerak menuju tadabbur, pemahaman, dan pengamalan. Al-Qur’an seharusnya tidak hanya indah dilantunkan, tetapi juga hidup dalam nalar dan akhlak.
Ramadan adalah waktu yang paling tepat untuk memperbaiki kualitas hubungan tersebut.
Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Al-Bukhari). Hadis ini memberi ukuran yang jelas tentang kemuliaan.
Yang terbaik bukanlah yang paling ramai dibicarakan, bukan pula yang paling menonjol di ruang digital, melainkan yang tekun belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Pesan ini sangat relevan pada masa sekarang.
Umat perlu diingatkan bahwa otoritas agama tidak boleh dibangun di atas sensasi, melainkan di atas proses belajar yang sungguh-sungguh, sanad keilmuan yang jelas, dan tanggung jawab moral yang tinggi.
Etika Media
Di samping itu, kembalinya umat kepada wahyu juga harus tampak dalam etika bermedia. Tidak cukup seseorang rajin membagikan ayat atau kutipan hadis jika pada saat yang sama ia gemar mencela, menyebarkan kabar yang belum jelas, dan melontarkan komentar yang melukai orang lain.
Keberagamaan pada era digital tidak hanya diukur dari apa yang diucapkan di mimbar, tetapi juga dari apa yang ditulis di layar.
Al-Qur’an memberi pedoman tegas, “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya” (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini sangat relevan dalam dunia media sosial. Verifikasi bukan hanya prinsip jurnalistik, tetapi juga perintah moral-keagamaan.
Menyebarkan informasi tanpa tabayun dapat melahirkan fitnah, merusak kehormatan orang lain, dan memperkeruh kehidupan bersama. Maka, puasa semestinya juga dipahami sebagai latihan pengendalian diri dalam bermedia: menahan jempol, menahan emosi, dan menahan hasrat untuk bereaksi secara berlebihan.
Rasulullah saw. juga bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari).
Hadis ini menegaskan bahwa inti puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membentuk integritas.
Dalam konteks hari ini, dusta dapat muncul dalam banyak bentuk: hoaks, potongan konten yang menyesatkan, tuduhan tanpa dasar, atau narasi manipulatif yang sengaja disebarkan. Semua itu memperlihatkan bahwa keberhasilan puasa harus diukur pula dari perubahan akhlak digital.
Titik Balik
Pada akhirnya, Nuzululqur’an mengingatkan umat agar tidak kehilangan pusat orientasi. Dunia digital boleh dimanfaatkan, teknologi boleh digunakan, dan media sosial dapat menjadi sarana dakwah. Namun, semuanya harus tetap berada di bawah bimbingan wahyu.
Ketika algoritma mulai menentukan apa yang kita lihat, baca, dan percayai, maka Al-Qur’an harus hadir sebagai kompas yang menjaga arah hidup.
Ramadan memberi kesempatan besar untuk kembali kepada pusat itu. Bulan ini menyediakan ruang hening, intensitas ibadah, dan kejernihan batin yang tidak selalu hadir pada bulan lain.
Maka memperingati Nuzululqur’an semestinya menjadi titik balik untuk mengurangi konsumsi digital yang tidak perlu, memperbanyak tadabbur, memperdalam literasi keislaman, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pertimbangan etis dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan terpentingnya bukan lagi apakah kita memperingati Nuzululqur’an, tetapi apakah Ramadan kali ini benar-benar mengembalikan kita kepada wahyu sebagai petunjuk.
Jika belum, boleh jadi yang berubah baru suasananya, sementara arah hidup kita masih dikuasai distraksi. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












