Telaah

Ilmu dan Buku

81
×

Ilmu dan Buku

Sebarkan artikel ini
Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Buku dan Ilmu

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.

Oleh Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.

Tagar.co – Di tengah riuhnya dunia digital, manusia modern tampak semakin terhubung, tetapi diam-diam merasa semakin sepi.

Notifikasi tak pernah berhenti, percakapan berlangsung cepat, namun sering kali dangkal. Dalam situasi seperti ini, ada satu sahabat lama yang justru semakin dijauhkan: ilmu. Salah satu jalannya adalah melalui buku.

Ungkapan sederhana ini layak direnungkan: siapa yang akrab dengan ilmu, tak akan merasa sepi. Siapa yang bersahabat dengan buku, tak akan kehilangan bahagia.

Ia bukan sekadar kalimat motivasi, tetapi cerminan dari pengalaman panjang peradaban.

Sejak awal, Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa peradaban dibangun dari tradisi literasi. Membaca bukan sekadar aktivitas, tetapi pintu pembebasan dari kebodohan dan kekosongan makna.

Nabi Muhammad juga menegaskan, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Kewajiban ini tidak hanya berdimensi intelektual, tetapi juga spiritual—karena ilmu membimbing manusia untuk mengenal dirinya dan Tuhannya.

Baca Juga:  Ketika Hidup Bekerja seperti Algoritma

Dalam khazanah ulama, banyak penekanan tentang pentingnya menjadikan ilmu sebagai teman hidup. Ibnu Jama’ah dalam kitab Tadzkirah as-Sami’ wal Mutakallim fi Adab al-‘Alim wal Muta‘allim menjelaskan, penuntut ilmu akan menemukan kelezatan tersendiri dalam belajar.

Bahkan ketika ia sedang sendiri. Kesendirian tidak lagi menjadi kesepian, karena diisi dengan dialog bersama ilmu.

Sementara itu, Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih menegaskan ilmu adalah teman terbaik yang tidak mengkhianati.

Ia menemani dalam sepi, mengangkat derajat, dan menjaga dari kesesatan. Perspektif ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki dimensi eksistensial—ia mengisi ruang batin manusia.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Imam Syafi’i dalam berbagai nasihatnya tentang pentingnya kesungguhan dalam belajar. Dalam Diwan Asy-Syafi’i, ia menggambarkan, ilmu memberikan kemuliaan, bahkan ketika seseorang tidak memiliki banyak hal lain.

Secara ilmiah, kedekatan dengan buku memang membawa dampak nyata. Penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan membaca dapat meningkatkan empati, memperkuat fokus, serta mengurangi stres. Aktivitas membaca menciptakan ruang refleksi yang jarang ditemukan dalam interaksi digital yang serba cepat.

Baca Juga:  Book Venture, Cara Bakti Nusa dan Rumah Kepemimpinan Surabaya Perkuat Literasi

Berbeda dengan hiburan instan yang cepat hilang, kebahagiaan dari membaca memiliki kedalaman. Ia tidak bergantung pada keramaian, tetapi tumbuh dari pemahaman. Ia tidak bergantung pada validasi sosial, tetapi lahir dari kepuasan intelektual.

Masalahnya, budaya membaca hari ini menghadapi tantangan besar. Generasi muda lebih akrab dengan konten singkat daripada bacaan mendalam. Informasi tersedia melimpah, tetapi tidak selalu diolah menjadi pengetahuan. Akibatnya, banyak yang terhubung, tetapi kehilangan kedalaman berpikir.

Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali hubungan dengan buku. Bukan sekadar untuk menambah wawasan, tetapi untuk membangun ketahanan mental dan kedewasaan berpikir. Buku mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan kemampuan memahami sesuatu secara utuh.

Kesepian sering kali bukan karena tidak ada teman, tetapi karena tidak ada makna. Dan ilmu menghadirkan makna itu—pelan, tetapi pasti.

Karena bagi mereka yang menjadikan ilmu sebagai teman, kesendirian bukan lagi kekosongan, melainkan ruang untuk bertumbuh.

Bagi mereka yang bersahabat dengan buku, kebahagiaan tidak lagi bergantung pada dunia luar, tetapi tumbuh dari dalam dirinya sendiri. (#)

Baca Juga:  Peristiwa Langit yang Menyapa Akal dan Iman

Penyunting Sugeng Purwanto