Telaah

Kecemasan Status

57
×

Kecemasan Status

Sebarkan artikel ini
Kecemasan diri di zaman digital bisa muncul karena budaya pamer di media sosial. Suka membandingkan secara berlebihan dengan orang lain.
Ilustrasi kecemasan gara-gara media sosial

Kecemasan diri di zaman digital bisa muncul karena budaya pamer di media sosial. Suka membandingkan secara berlebihan dengan orang lain.

Oleh Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.

Tagar.co – Di era media sosial, banyak orang merasa gelisah bukan karena kekurangan, tetapi karena perbandingan. Melihat pencapaian orang lain, gaya hidup yang ditampilkan, atau pengakuan yang diterima orang lain sering kali memunculkan perasaan tertinggal.

Inilah yang dalam kajian modern disebut status anxiety—kecemasan terhadap posisi diri di mata orang lain.

Istilah ini dipopulerkan oleh Alain de Botton dalam karyanya Status Anxiety. Tulisan itu menjelaskan manusia modern cenderung menilai dirinya berdasarkan standar sosial: pekerjaan, kekayaan, popularitas, dan pengakuan. Ketika standar ini tidak terpenuhi, muncullah kecemasan, bahkan rasa rendah diri.

Secara ilmiah, fenomena ini berkaitan dengan social comparison theory, yaitu kecenderungan manusia untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan, perbandingan yang berlebihan—terutama melalui media sosial—dapat meningkatkan kecemasan, depresi, dan ketidakpuasan hidup. Ketika seseorang terus-menerus melihat ke atas (membandingkan dengan yang lebih sukses), maka ia akan merasa kurang, meskipun sebenarnya cukup.

Baca Juga:  Mapak Balen: Dari Arisan Sampah Tumbuh Gerakan Sosial Berbasis Ibu-Ibu

Dalam perspektif Islam, kegelisahan semacam ini memiliki akar yang sama dengan penyakit hati: terlalu bergantung pada penilaian manusia dan lupa pada penilaian Allah.

Dalam Al-Qur’an, Allah Swt mengingatkan, Janganlah kamu iri terhadap apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (QS. An-Nisa: 32)

Ayat ini menegaskan, perbandingan yang tidak sehat dapat merusak ketenangan hati.

Nabi Muhammad juga mengajarkan agar melihat kepada yang di bawah dalam urusan dunia, dan kepada yang di atas dalam urusan akhirat.

Prinsip ini menjadi penyeimbang agar manusia tidak terjebak dalam kecemasan status. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan, hati yang bergantung pada manusia akan mudah gelisah, karena penilaian manusia selalu berubah.

Sebaliknya, hati yang bergantung kepada Allah akan lebih tenang, karena standar yang digunakan bersifat tetap dan adil.

Dalam kehidupan modern, kecemasan status sering kali diperparah oleh budaya pamer, flexing, di media sosial.

Kehidupan yang ditampilkan sering kali hanya sisi terbaik, tetapi dipersepsikan sebagai keseluruhan. Akibatnya, seseorang merasa hidupnya kurang, padahal yang dibandingkan bukanlah realitas yang utuh.

Baca Juga:  Rakerda Lazismu Bakorwil 5 Jatim: Menyatukan Langkah, Menguatkan Dampak Zakat

Dampaknya tidak sederhana. Kecemasan status dapat membuat seseorang:

  1. Terlalu memaksakan diri demi terlihat “berhasil”
  2. Kehilangan jati diri karena mengikuti standar orang lain
  3. Mengorbankan kebahagiaan demi pengakuan sosial

Padahal dalam Islam, nilai manusia tidak diukur dari status sosial, tetapi dari ketakwaan. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan, Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat: 13)

Solusi dari kecemasan ini bukan dengan mengejar pengakuan lebih banyak, tetapi dengan mengubah cara pandang. Mensyukuri apa yang dimiliki, memahami bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda, serta mengembalikan standar nilai kepada Allah menjadi langkah penting untuk menenangkan hati.

Kecemasan status muncul ketika kita terlalu sibuk melihat ke luar, tetapi lupa melihat ke dalam. Maka yang perlu kita ubah bukanlah posisi kita di mata manusia, tetapi posisi hati kita di hadapan Allah. Karena ketika hati sudah merasa cukup, penilaian manusia tidak lagi menjadi sumber kegelisahan. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto