
Melalui Mujahid Dakwah, Isa Anshary memberikan penilaian tajam tentang kekuatan pidato dan tulisan para tokoh Islam Indonesia, dari Natsir hingga Agus Salim. Sebuah pelajaran berharga tentang dakwah yang hidup ketika lisan dan pena berjalan seiring.
Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 13 judul lainnya.
Tagar.co – Isa Anshary dan Natsir, keduanya adalah “orang besar” di bidang dakwah. Oleh karena itu, patut menjadi teladan. Pendapat-pendapat mereka perlu disimak, langkah-langkah dakwahnya bisa menjadi sumber inspirasi. Kedua ulama itu sama-sama berasal dari Sumatera Barat.
Isa Anshary lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, pada 1 Juli 1916. Natsir lahir di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat, pada 17 Juli 1908.
Baca juga: Titik Temu Jazir, Isa Anshary, dan Natsir
Sekadar menyebut perjuangan dakwahnya, Isa Anshary pernah menjadi Ketua Umum Persis (Persatuan Islam). Adapun Natsir adalah salah satu pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) sekaligus ketua umumnya yang pertama.
Jejak Dakwah
Pada diri Isa Anshary, olah lisan dan tulisan sama-sama memukau. Jika ia berceramah atau berpidato, para pendengarnya sanggup mengikuti dengan penuh antusias. Ceramahnya bahkan didengar dan diperhatikan pula oleh mereka yang “tidak sepemikiran”.
Selain piawai berbicara, Isa Anshary juga cekatan menulis. Setidaknya, ada dua puluh judul karya buku yang dihasilkannya. Salah satunya berjudul Mujahid Dakwah, yang kali pertama terbit pada 1966. Buku ini, hingga tulisan ini dibuat, masih beredar dan dapat dibeli. Isinya benar-benar menggugah dan selaras dengan judul di sampulnya.
Buku Mujahid Dakwah merupakan salah satu karya Isa Anshary yang ditulis saat ia ditahan rezim Orde Lama. Pada masa itu, sebagian besar tokoh yang berseberangan dengan pemerintah dipenjarakan secara sewenang-wenang tanpa proses hukum yang jelas.
Di antara mereka adalah tokoh-tokoh umat Islam dari Partai Masyumi. Sekadar menyebut, yang ditahan kala itu ialah Isa Anshary, Natsir, Mohammad Roem, Prawoto Mangkusasmito, Hamka, Yunan Nasution, Kasman Singodimedjo, dan tokoh-tokoh lainnya.
Seiring Serempak
Sungguh berbahagia jika seorang Muslim aktif berdakwah. Hal ini karena semua umat Islam memang diminta untuk berdakwah sesuai dengan kapasitas masing-masing. Dakwah tidak harus selalu berbentuk ceramah.
Seseorang, misalnya, dapat berdakwah melalui keteladanan sikap dalam kehidupan sehari-hari yang berakhlak baik. Bisa pula dengan menjaga performa ketika mendidik anak, bertutur kata secara santun, atau menunjukkan sikap yang baik saat berdiskusi, dan berbagai bentuk lainnya.
Secara lebih khusus, media penyampaian dakwah dapat dibagi ke dalam dua kategori. Pertama, dakwah dengan lisan, seperti ceramah, khutbah, dan sejenisnya. Kedua, dakwah melalui media tulisan, seperti artikel, makalah, dan buku.
Mari kita cermati buku Mujahid Dakwah karya Isa Anshary. Buku ini terdiri atas 17 bab yang seluruhnya menarik dan bernilai. Termasuk Bab IX berjudul Latihan dan Kegiatan—yang di dalamnya memuat bahasan tentang Latihan Lidah, Latihan Dakwah, Kegiatan, dan Cara Berpidato.
Kini, perhatian diarahkan pada Bab IV berjudul Pena dan Tinta (hlm. 27–34). Dalam berdakwah, sebaiknya “lisan dan tulisan berjalan seiring”, tulis Isa Anshary. Pidato dan pena harus bergerak serempak, tegasnya.
Apakah sosok Isa Anshary sendiri memang demikian—lisan dan tulisannya sama-sama kuat? Ya, insya Allah demikian. Karena itu, cukup meyakinkan ketika ia memberikan catatan terhadap sejumlah tokoh ulama dan pergerakan terkait kemampuan lisan dan tulisan mereka. Catatan tersebut tentu dimaksudkan sebagai pelajaran bagi masyarakat luas.
Pelajaran Menarik
Dalam pandangan Isa Anshary, Tjokroaminoto lebih mahir berpidato daripada mengarang. Meskipun demikian, sebagai pengarang, Tjokroaminoto tetap tergolong baik.
Hamka dinilai lebih indah karangannya dibanding pidatonya. Pandangan Isa Anshary ini menarik, sebab ia juga mengakui bahwa Hamka merupakan seorang khatib atau pembicara kenamaan.
Mas Mansur dan A.R. Sutan Mansur, menurut Isa Anshary, lebih kuat dan mendalam pidatonya daripada buah penanya. Kedua tokoh besar ini biasanya mengarang dengan cara mendiktekan kepada sekretaris pribadi atau murid-muridnya.
Adapun tokoh yang seimbang antara lisan dan tulisan ialah Agus Salim, Natsir, dan A. Gaffar Ismail. Agus Salim, misalnya, memiliki silat pena yang setara dengan silat lidahnya—sama-sama mahir, indah dalam filsafat dan balaghah.
Natsir, seorang filsuf Islam, memiliki jangkauan dan analisis yang serupa, baik dalam pidato maupun tulisan: tajam, mendalam, dan penuh isi. Meski demikian, tambah Isa Anshary, Natsir lebih tepat memberikan ceramah dan kuliah dalam forum terbatas daripada berpidato di rapat umum.
Bagaimana dengan A. Gaffar Ismail? Ulama kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, yang kemudian bermukim dan wafat di Pekalongan ini, pada masa kolonial pernah dijuluki “Agus Salim muda”. Julukan tersebut muncul karena kefasihan lidahnya, kekayaan bahasanya, serta keluasan ilmunya.
Bahkan, Isa Anshary berkesaksian bahwa ia belum pernah mendengar mubaligh Islam yang mampu memikat para pendengar seperti A. Gaffar Ismail. Menurutnya, terdapat kelebihan tertentu pada diri A. Gaffar Ismail jika dibandingkan Agus Salim.
Pidato Agus Salim, kata Isa Anshary, lebih menyentuh akal—mengajak pendengar berpikir, memperkaya pengetahuan, dan memberi pemahaman. Sementara itu, pidato A. Gaffar Ismail lebih mengarah ke jiwa—menumbuhkan kesadaran batin, memperkuat ruh semangat, dan membawa hadirin mendekat kepada Ilahi, bertaqarrub ilallah.
Pinta Kita
Berbahagialah siapa pun yang mampu mengolah lisan dan tulisan secara seimbang dalam dunia dakwah. Melalui dua kecakapan itu, seseorang dapat berbakti kepada agama dengan menggunakannya untuk aktivitas amar makruf dan nahi mungkar.
Karena itu, kekuatan lisan dan tulisan sebaiknya sama-sama kita manfaatkan untuk menyebarkan dakwah. Jadilah Isa Anshary, Natsir, A. Gaffar Ismail, atau siapa pun yang dapat kita teladani dalam menggunakan lisan dan tulisan secara baik untuk dakwah.
Demikian, semoga Allah Swt. menguatkan kita. Mudah-mudahan Allah Swt. memudahkan seluruh kerja dakwah kita. Hanya taufik dan hidayah-Nya yang kita harapkan. Amin. (#)
Penyunting Mohammad Nuratoni












