
NKRI Harga Mati sekarang banyak diucapkan orang dengan asal bunyi. Melupakan pencetus dan sejarah kembalinya negara dari serikat menjadi republik kesatuan.
Oleh Ridwan Ma’ruf, Majelis Pemberdayaan Wakaf Tanah PDM Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, Spiritual Parenting Islam Sidoarjo.
Tagar.co – Mohammad Natsir, tokoh populer di masa kemerdekaan. Nama lengkapnya Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang. Lahir 17 Juli 1908 dan wafat 6 Februari 1993.
Dia seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Tokoh Islam terkemuka di Indonesia dan dunia. Menjadi Perdana Menteri kelima RI, dan pahlawan nasional.
Pemikiran dakwahnya menekankan integrasi Islam dan politik, dakwah yang moderat-inklusif, dan penekanan pada pendidikan.
Dr. M. Natsir adalah pemimpin Partai Masyumi. Selepas pensiun dari kemelut jagat politik lalu mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada 26 Februari 1967 di Jakarta.
Saat menjabat perdana menteri RIS mengusulkan proposal Mosi Integral pada 3 April 1950 ke parlemen. Isinya membubarkan negara Republik Indonesia Serikat (RIS) bikinan Belanda kembali kepada negara kesatuan sesuai cita-cita Proklamasi.
Proposal itu disetujui anggota parlemen. Pada 17 Agustus 1950 Presiden Sukarno mengeluarkan surat keputusan membubarkan RIS dan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peristiwa tanggal 3 April itu diperingati sebagai Hari NKRI.
Jika kita renungkan, peristiwa bersejarah Mosi Integral tahun 1950 untuk menyatukan kembali Indonesia atau dikenal dengan istilah yang kini populer menjadi NKRI Harga Mati. Itu bersumber dari pemikiran dan gagasannya.
Natsir banyak bergaul dengan pemikir-pemikir intelektual Islam, di antaranya A. Hasan, pendiri Persis. Natsir menganggap A. Hassan sebagai salah satu guru spiritual dan intelektual utama dalam memahami agama Islam, khususnya dalam pemurnian akidah dan ibadah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.
Agus Salim sesama orang Minang menjadi teman berdiskusi. Ia dan Agus Salim bertukar pikiran tentang hubungan Islam dan negara dalam pemerintahan Indonesia di masa depan.
Prinsip Dakwah M. Natsir
Sudah seharusnya ide besar dari pemikiran Natsir ini dijadikan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) para mubalig dan aktivis Islam untuk menyebarkan dakwah Islam yang rahmatan lil alamin.
Dakwah yang menerapkan secara nyata prinsip-prinsip yang dirumuskan M. Natsir dalam kehidupan sehari-hari bukan sekadar menjadikan retorika dan wacana di atas mimbar. Konsep dakwah Natsir fokus pada gerakan dakwah yang transformatif, integratif, dan relevan dengan perkembangan zaman dalam bprinsip syariat Islam.
Prinsip dakwah yang disampaikan M. Natsir adalah:
Pertama, Kemerdekaan Beritikad.
Kebebasan umat Islam dalam menjalankan, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, menggembirakan, dan tanpa paksaan dalam konteks Indonesia.
Hal ini berakar pada nilai tauhid dan hak asasi manusia. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah 256
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.
Ayat ini menerangkan tentang kesempurnaan ajaran Islam, dan ia merupakan ajaran agama akal sehat dan ilmu, agama fitrah dan hikmah, agama kebaikan dan perbaikan, agama kebenaran dan ajaran yang lurus, maka Islam tidak memerlukan pemaksaan terhadap keyakinan, dan ataupun pendapat seseorang.
Sebagaimana Nabi Saw bersabda :
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ.
Sesungguhnya Islam itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit dalam agamanya kecuali akan terkalahkan. Oleh karena itu, berlaku luruslah, dan tidak melampaui batas dan bergembiralah serta mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala saja pada waktu pagi, petang dan sebagian malam. (Sahih Bukhari)
Kedua, Wilayah Dakwah (Pola Pemetaan Medan Dakwah)
Pasca kemerdekaan, wilayah dakwah di Indonesia menjadi lebih terbuka, memungkinkan umat Islam berpartisipasi aktif dalam membangun bangsa yang berdasarkan nilai-nilai kearifan, keadilan, dan tauhid.
Kemerdekaan memberikan kesempatan luas bagi mubalig untuk mendakwahkan Islam melalui cara yang santun, maslahat dan bermartabat, seperti pendidikan, bakti sosial, dan pengajian.
Tujuan dengan adanya pola pemetaan tempat dakwah Islam tersebut, diharapkan para dai akan mengetahui secara data pemetaan siapa objek atau sasaran dakwahnya.
Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu pernah berkata :
ما أنْتَ بمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إلَّا كانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً
“Tidaklah engkau berbicara dengan suatu kaum dengan suatu perkataan yang tidak bisa dicapai (dipahami) oleh akal mereka, kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.” (HR Muslim)
Maksudnya adalah sudah sewajibnya para dai dan guru untuk menyampaikan ilmu sesuai dengan kemampuan pengetahuan objek dakwahnya, yaitu menggunakan bahasa, tema, dan pemilihan kata yang sederhana, santun, dan mudah dipahami .
Ketiga, Pembinaan Mubalig Berkelanjutan.
Perlu ada lembaga formal atau non formal yang fokus untuk menghasilkan para dai yang siap dari sisi keilmuan, mental, dan adab dalam menyampaikan ajaran Islam di tengah masyarakat yang hegemonis.
Menurut sepengetahuan saya untuk mencapai tujuan tersebut Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Persyarikatan Muhammadiyah telah mewujudkannya.
DDII dengan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah M. Natsir, sedangkan Muhammadiyah dengan Korps Mubalig Muhammadiyah.
Kemerdekaan beritikad, pemetaan objek dakwah, dan pembinaan mubalig yang berkelanjutan adalah bagian dari Tupoksi para dai dalam menjalankan dakwah Islami dengan bijaksana berlandaskan ilmu, dan akhlakul karimah mengajak umat kepada kebenaran. Wallaahu ’alamu. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












