
Julukan Serambi Madinah bukan sekadar identitas religius Gorontalo. Ia juga lahir dari keteladanan Nani Wartabone, tokoh yang memadukan dakwah Islam dan perjuangan kemerdekaan.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Gorontalo kerap dijuluki Serambi Madinah. Julukan ini bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan lahir dari sejarah panjang Gorontalo sebagai pusat penyebaran Islam di kawasan Indonesia Timur.
Kehidupan masyarakatnya religius, adat istiadatnya kental dengan nilai-nilai Islam, dan hukum adatnya berpijak pada falsafah luhur: “Adati hula-hula to Sara’, Sara’ hula-hula to Kuru’ani”—adat bersendikan syariat, dan syariat bersendikan Al-Qur’an.
Nilai-nilai itu membentuk watak masyarakat Gorontalo yang ramah terhadap pendatang, sebagaimana kaum Anshar di Madinah. Letaknya yang strategis di bagian utara Pulau Sulawesi, berbatasan langsung dengan laut, menjadikan Gorontalo sebagai kota pesisir dengan panorama bahari yang indah.
Sektor perikanan tumbuh sebagai tulang punggung ekonomi, disokong pertanian padi, jagung, dan kelapa yang sejak lama menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Di tanah dengan tradisi religius dan semangat keterbukaan inilah lahir seorang tokoh besar bernama Nani Wartabone.
Proklamator Gorontalo yang Mendahului Zaman
H. Nani Wartabone lahir pada 30 April 1907 dan wafat pada 3 Januari 1986. Ia dikenal sebagai politikus dan nasionalis asal Gorontalo yang memiliki garis keturunan bangsawan. Atas jasa-jasanya, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 2003.
Dalam tradisi adat Gorontalo, Nani Wartabone juga dianugerahi gelar Pulanga oleh persekutuan lima kerajaan Gorontalo (Ta Lo Duluwa Lo Lipu), yang bermakna “Sang Pembela Negeri.” Gelar itu seolah menegaskan perannya dalam sejarah: sebagai inisiator sekaligus proklamator kemerdekaan Gorontalo pada 23 Januari 1942, bertepatan dengan 5 Muharam 1361 H.
Peristiwa bersejarah ini terjadi tiga tahun lebih awal sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Karena itulah, Gorontalo dikenang sebagai salah satu daerah pelopor kemerdekaan, tempat Indonesia secara de facto lebih dahulu menyatakan diri bebas dari penjajahan.
Tanggal 23 Januari kemudian diperingati sebagai Hari Patriotik, sebuah penanda keberanian dan kesadaran kebangsaan masyarakat Gorontalo.
Mubalig Muhammadiyah yang Menyatukan Dakwah dan Perjuangan
Menariknya, perjuangan Nani Wartabone tidak hanya bergerak di ranah politik. Dalam buku biografi yang disusun FKIP Unsrat Gorontalo (1985), tercatat bahwa ia aktif melakukan safari tabligh Muhammadiyah dari kampung ke kampung. Melalui dakwah, ia menyampaikan ajaran Islam sekaligus menanamkan kesadaran berbangsa dan berpolitik—bahwa kemerdekaan adalah hak setiap manusia dan bangsa.
Gaya ceramahnya yang ramah, lugas, dan membumi membuat masyarakat Gorontalo berbondong-bondong menghadiri tablignya. Dakwahnya begitu berpengaruh hingga aktivitas Nani Wartabone kerap dipantau oleh polisi kolonial Belanda. Bagi penjajah, dakwahnya bukan sekadar ceramah agama, melainkan api kesadaran yang membangkitkan keberanian rakyat.
Selain berdakwah, Nani Wartabone juga berkiprah dalam pendidikan dan ekonomi kerakyatan. Pada 1932, ia mendirikan sekolah dan koperasi Muhammadiyah di Suwawa, Gorontalo—sebuah ikhtiar nyata membangun kemandirian umat melalui ilmu dan ekonomi.
Menjaga Warisan Spiritualitas dan Nasionalisme
Peringatan Hari Patriotik 23 Januari bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah momentum untuk meneladani semangat patriotisme, nasionalisme, dan spiritualitas yang diwariskan Nani Wartabone. Semangat itulah yang semestinya terus menghidupkan Gorontalo sebagai Serambi Madinah: daerah yang maju, berkeadaban, dan sejahtera, tanpa kehilangan akar keimanannya.
Semoga jejak dakwah dan perjuangan Nani Wartabone senantiasa menjadi inspirasi bagi generasi hari ini dan masa depan—bahwa iman, ilmu, dan keberanian dapat berjalan seiring dalam membela negeri. Wallaahua‘lam. (#)











