Cerpen

Jejak Mimpi Dina

46
×

Jejak Mimpi Dina

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi cerpen Jejak Mimpi Dina
Ilustrasi cerpen Jejak Mimpi Dina (AI)

Malam hari seperti biasa, keluarga Dina selalu makan bersama. Saat itu Dina teringat bahwa bulan depan ada pekan seni, ia memberanikan diri untuk untuk mengungkapkan keinginannya.

Cerpen oleh Eka Miftahul Safitrah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Tagar.co – Di sebuah desa bernama Karang Kembang, hiduplah kakak beradik dengan paman dan bibinya. Namanya Dina, siswi kelas XII SMA. Ia murid yang berprestasi, sering kali mengikuti berbagai lomba seperti cipta baca puisi, mendongeng, bermain musik, dan masih banyak lagi.

Hari ini Dina sedang mengikuti Olimpiade Sains tingkat provinsi bersama para sahabatnya. Sore hari sesampainya di rumah Dina mencari pamannya.

“Paman, paman?” ucap Dina.

“Dina, kemari Nak, tolong bantu bibi…,” sahut bibi Marni (adik dari paman)

“Paman ke mana, Bi?” Dina menghampiri bibi Marni.

“Belum pulang,” jawab bibi Marni.

“Tumben ya Paman,” ucap Dina.

Tak lama kemudian terdengar suara dari luar.

“Assalamualaikum,” ucap laki-laki itu.

“Sepertinya ada tamu ya, Nak?”  Bibi Marni bergegas membuka pintu.

“Eh temannya Dina ya, Nak?”

“Ibu kok tahu kalau saya temannya Dina,” ucap laki-laki itu.

“Iya karena seragam kalian,” sahut bibi Marni.

“Maaf ibu, apakah Dina ada di rumah?”

Tiba-tiba Dina menyahut dari dalam. “Eh Aksa, ada apa kamu ke sini?” Ternyata Aksa datang ke rumah Dina dengan maksud ingin mengerjakan tugas bersama.

Tak lama kemudian paman dan Haris (adik Dina) pulang.

“Assalamualaikum,” ucap Paman dan Haris.

“Hayoo sedang apa Mas Aksa dan Kak Dina.” Haris dengan sengaja menggoda mereka berdua. “Mengerjakan tugas, tak sepertimu hanya main saja,” sahut Dina sembari membaca buku.

Tak terasa hari sudah petang, namun Dina dan Aksa masih belum selesai mengerjakan tugas. “Dina, ajak Nak Aksa makan dahulu, itu sudah disiapkan oleh bibi Marni,” ucap Paman.

Tetapi Aksa menolak ajakan Dina untuk makan bersama, tiba-tiba Aksa mendapatkan telepon dari Rangga (tetangga Aksa), dia mendapat kabar bahwa saudara Aksa harus dilarikan ke rumah sakit akibat demam berdarah.

Dina ikut merasa cemas, ia ingin ikut Aksa ke rumah sakit.

Baca Juga:  Undangan Pulang Datang lewat Ketaatan

“Sebaiknya kamu tetap dirumah saja, ini sudah malam Dina, besok saja yaa…,” ucap Aksa.

Keesokan harinya Aksa tidak masuk sekolah, Dina mencari tahu tentang keadaan keluarga Aksa saat ini.

“Dinaa…,” teriakan Ica dari arah kantin. Dina bingung karena suasana begitu ramai.

“Heii..,” Ica menepuk pundak Dina dari arah belakang. Dina sontak terkejut.

“Oh, kamu ternyata.”

“Tumben kamu sendirian, mana Aksa?” tanya Ica.

“Dia tidak masuk hari ini, ada saudaranya yang sakit. Tapi aku  sedikit cemas,” sahut Dina.

Tanpa diduga Rangga mengejutkan mereka. Rangga tertawa merasa puas.

“Ya ampun kamu ini,” ucap Ica dengan kesal.

“Bagaimana kondisi keluarganya Aksa? Kan kamu tetangganya,” ucap Ica.

“Kalian ini selalu bicara tentang Aksa mulu, kan ada aku, kok ngomongin Aksa sih,” sahut Rangga sengaja menggoda Ica dan Dina.

“Rangga ngga boleh seperti itu,” ucap Ica.

Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi, tanda waktu istirahat telah usai. Mereka pun masuk kelas masing-masing.

Saat pelajaran dimulai, Dina tidak bisa fokus dengan materi yang disampaikan oleh gurunya, ia terpikirkan kondisi keluarga Aksa.

Sepulang sekolah Dina berdiri di depan kelas Rangga.

“Rangga, memangnya saudaranya Aksa dirawat di mana? Maukah kamu mengantarkanku ke sana?” ucap Dina dengan wajah gelisah, sedikit memohon pada Rangga.

“Kamu terlihat begitu khawatir ya,” sahut Rangga. Dina hanya bisa terdiam.

“Eh itu paman kamu kan?” ucap Rangga sembari menunjuk ke arah paman.

Dina menoleh lalu berkata, “Ya sudah aku pulang dulu ya.” Ia berpamitan pada Rangga. Pada hari itu wajah Dina nampak murung seharian.

Hari Rabu pun tiba, hari yang di nanti-nanti oleh siswa yang mengikuti Olimpiade Sains, karena hasilnya akan diumumkan pada saat itu. Dina bersama para sahabatnya mendapatkan 10 besar, dan Dina menempati posisi juara 2.

Mendengar pengumuman tersebut, Dina merasa bingung antara senang atau bersedih, namun itu semua hasil kerja kerasnya.

“Wah selamat ya Dina, kamu juara 2,” ucap teman-teman Dina, ia hanya bisa membalas dengan senyuman.

Baca Juga:  Agenda Sunyi di Balik Meja Rapat

“Dina, karena kamu juara 2, maka kamu bisa mengikuti bimbingan belajar tanpa ada biaya pendaftaran. Nanti ibu akan daftarkan kamu ya. Selamat Dina, sukses selalu, tingkatkan lagi semangat belajarnya,” ucap Bu Diah (wali kelas) dengan tersenyum.

Malam hari seperti biasa, keluarga Dina selalu makan bersama. Saat itu Dina teringat bahwa bulan depan ada pekan seni, ia memberanikan diri untuk untuk mengungkapkan keinginannya.

“Paman, bibi, bulan depan sekolah Dina ada kegiatan pekan seni, siswa yang terlibat agenda pertunjukkan kreatif, maka berkesempatan untuk dilombakan lagi di tingkat kota. Sebenarnya Dina ingin mengikuti kegiatan itu, tapi ibu melarangku,” ucap Dina.

“Begini sayang, apakah kamu memang benar-benar sudah izin ibumu?” ucap bibi Marni.

“Belum Bi, tapi pasti ibu tidak mengizinkanku,” sahut Dina.

“Coba saja dulu,” sahut Paman.

“Jika kamu berkeinginan mengikuti kegiatan itu, cobalah sayang, usahamu itu tunjukkan kepada orang-orang yang meragukanmu Dina, bahwa kamu bisa melakukannya,” sahut bibi Marni.

“Lalu bagaimana dengan ibu?” ucap Dina dengan cemas, bibi Marni hanya membalas dengan tersenyum.

Sudah tiga hari Aksa masih belum ada kabar, Dina bingung harus mencari tahu keadaannya ke mana. Tapi tiba-tiba.

“Hei Dinaa,” ada yang menepuk pundaknya.

Dina langsung menoleh, “Selamat ya atas juara Olimpiade itu,” ternyata Aksa sudah kembali bersekolah.

Mendengar suara Aksa, Dina tak kuasa menahan tangis. “Kamu kenapa?” tanya Aksa.

Dina hanya bisa menangis, tak lama kemudian Dina bercerita. Sebenarnya ia mengikuti Olimpiade itu karena perintah ibunya, ia merasa terpaksa meskipun mendapat juara 2.

Saat ini Dina bingung karena ia ingin sekali mengikuti pekan seni, namun ibunya melarangnya. Ibu Dina memiliki keinginan jika nanti Dina bisa ahli di bidang Sains, dan berharap Dina bisa masuk perguruan tinggi farmasi.

“Hari ini ibu pulang, aku harus bagaimana?” ucap Dina. Aksa meyakinkan Dina bahwa dia berhak melakukan hal yang diinginkan.

“Coba bicarakan dengan ibumu pelan-pelan, semoga ibumu mengerti dengan hal ini, dan tunjukkan usahamu juga tidak akan sia-sia,” ucap Aksa.

Baca Juga:  Suara dari Gang Pandan

Mereka berdua sahabat sejak awal duduk dibangku SMA, apapun yang mereka lakukan saling mendukung.

Sesampainya di rumah Dina memberanikan diri berbicara pada ibunya, namun respon ibu pada Dina.

”Kan yang mempunyai bakat di bidang seni itu Haris, mengapa tiba-tiba kamu ingin mengukti kegiatan itu? Ibu sudah bilang kamu fokus saja di bidang sains,” ucap Ibu.

Dina hanya bisa terdiam, lalu pergi ke kamarnya. Di dalam kamar, Dina mendengar perdebatan antara ibu, paman, dan bibi Marni, ia merasa tak ada harapan keinginannya terwujud.

Hari-hari berlalu dengan cepat, pekan seni hanya kurang dari 3 minggu. Semua teman-teman Dina sudah sibuk mempersiapkan.

“Kamu ikut kan?” Aksa berusaha meyakinkan Dina, namun respon Dina hanya menggelengkan kepala saja. Sebenarnya paman menyuruh Aksa untuk mengajak Dina mengikuti kegiatan itu, tetapi Dina tidak mau karena ia merasa tidak diizinkan oleh ibunya. Aksa meyakinkan Dina “Tenang saja ada aku, aku yakin nanti ibumu akan merasa bangga denga usahamu ini.”

Satu bulan berlalu, pekan seni pun tiba, semua orang tua datang pada acara itu. Dina dengan sengaja hanya mengundang bibi Marni saja pada kegiatan itu. Dina dan teman satu kelasnya mengadakan sendratari. Selesai acara, ibu dan Bu Marni menghampiri Dina dan Aksa. Dina merasa gugup karena sudah melanggar larangan ibunya.

Namun tak disangka ibu memberi apresiasi dan merasa bangga kepada Dina bisa membuktikan keinginannya. Sebenarnya bibi Marni sudah membujuk ibu supaya memberi izin Dina. Ibu juga berpura-pura tidak mengetahui bahwa Dina mengikuti pekan seni itu.

Satu minggu setelah acara, tibalah hasil pengumuman kelas penampilan terbaik.  Tak disangka kelas Dina akan mewakili lomba ditingkat kota. Dengan apa yang sudah terjadi, Dina merasa yakin bahwa semua perlu dicoba dengan keyakinan, usaha dan kerja keras.

Tidak ada yang mustahil sebelum kita memulai. Usaha tidak mengkhianati hasil, semua butuh proses. Jika tidak hari ini maka tidak akan pernah terjadi. (#)

Penyunting Ichwan Arif

 

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…