Cerpen

Suara dari Gang Pandan

91
×

Suara dari Gang Pandan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seorang pemuda tuna netra dan remaja tetangganya mengubah gang sempit menjadi panggung harapan lewat TikTok Live. Dari suara yang tulus, rezeki dan harapan perlahan menemukan jalan.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Gang Pandan tak pernah benar-benar ramai. Pagi hari hanya dilewati tukang sayur dan suara knalpot yang saling mengalah di jalan selebar dua motor. Sore menjelang, gang itu kembali sunyi, seolah menahan napas.

Di ujung gang yang temboknya mulai berlumut, berdirilah rumah bercat putih kusam milik Rian Dinari.

Baca juga: Ayat-Ayat di Ujung Senja

Rumah itu sempit—tiga kali dua belas meter—dengan kusen cokelat yang mulai lapuk. Pintu triplek di bagian depan selalu berderit setiap dibuka, suara yang sangat akrab di telinga Rian.

Rian tuna netra sejak lahir.

Namun Tuhan seakan mengganti keterbatasan itu dengan pendengaran yang tajam dan suara yang hangat. Sejak sekolah di SLB Bina Aksara, ia belajar gitar dan suling. Gurunya pernah berkata, kalimat yang sampai kini masih menempel kuat dalam ingatannya, “Rian, kamu mungkin tak bisa melihat dunia, tapi suaramu bisa membuat dunia melihatmu.”

Dulu Rian hanya tersenyum mendengar itu. Ia tak benar-benar yakin.

Kini, yang paling sering mendengar suara itu hanyalah Nenek Hesti—enam puluh delapan tahun—perempuan tangguh yang membesarkannya sejak kedua orang tua Rian meninggal karena kecelakaan. Setiap pagi, sebelum musibah datang, nenek berkeliling menjajakan sayur dari kampung ke kampung.

Penghasilannya tak besar, tetapi cukup untuk hidup sederhana.

Sampai awal Januari 2026.

Pagi itu kamar mandi basah. Sebuah bunyi jatuh yang keras membuat Rian panik meraba-raba dinding. Sejak nenek terpeleset hari itu, semuanya berubah. Nenek tak lagi kuat berjalan jauh. Kini ia hanya menggelar lapak kecil di depan rumah.

Baca Juga:  Agenda Sunyi di Balik Meja Rapat

Penghasilan yang dulu lima puluh hingga delapan puluh ribu rupiah per hari merosot jadi dua puluh ribu. Itu pun sering habis untuk kulak sayur, listrik, dan air.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rian mulai merasa takut.

Sore pertengahan Februari, angin berembus pelan membawa bau tanah lembap. Rian duduk di kursi kayu, gitar akustik pemberian gurunya terpangku. Di sampingnya, nenek duduk di kursi plastik yang warnanya telah pudar. Kruk kusam bersandar di dinding.

“Rian, jangan capek-capek nyanyi terus,” ujar nenek pelan.

Rian tersenyum kecil. “Rian gak capek, Nek. Nenek suka lagu ini, kan?”

Ia mulai memetik gitar, menyanyikan “Sepanjang Jalan Kenangan”. Suaranya lembut, mengisi ruang sempit gang itu.

Biasanya, lagu itu membuat nenek tersenyum mengenang almarhum suaminya.

Tapi sore ini tidak.

Nenek lebih sering mengibaskan kipas bambu untuk mengusir lalat, lalu menyeka keningnya yang berkerut. Rian tak bisa melihat wajah itu, tetapi ia bisa mendengar napas nenek yang lebih berat dari biasanya.

Petikan gitarnya sempat goyah.

Dari arah utara terdengar langkah kaki cepat—ritmenya ringan, hampir berlari kecil.

“Itu Danu, ya?” tanya Rian.

“Iya, Mas Rian!” sahut suara remaja ceria.

Danuarta Putra, lima belas tahun, siswa kelas sepuluh SMA Sasongko, tinggal empat rumah dari situ. Ia penggemar musik, meski lebih sering terlihat menunduk menatap ponsel.

“Ayo, Danu, kita nyanyi bareng!” ajak Rian.

“Siap, Mas!”

Mereka menyanyikan lagu Slank. Di sela-sela itu, Danu melirik nenek Hesti. Ia masih ingat benar dua hari lalu nenek datang ke rumahnya meminjam lima puluh ribu rupiah untuk bayar listrik.

Baca Juga:  Blessing in Disguise

Tiba-tiba Danu berseru, nadanya penuh ide.

“Mas Rian! Kita live TikTok, yuk!”

Petikan gitar Rian berhenti.

Ia ragu.

“Live apa? Mas gak punya HP.”

“Pakai akun saya! Kita nyanyi. Siapa tahu ada yang suka.”

Rian terdiam cukup lama. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

“Orang-orang… nanti kasihan gak, ya, lihat Mas?” suaranya pelan.

Danu langsung menggeleng keras.

“Bukan kasihan, Mas. Mereka bakal denger suara Mas.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Rian menarik napas pelan. “Nyanyi lagu apa?”

Senyum Danu melebar. Ia tahu itu tanda setuju.

Live pertama mereka jauh dari ramai.

Penonton hanya belasan. Komentar pun sepi. Sinyal sempat putus dua kali. Di akhir siaran, gift yang masuk hanya beberapa mawar virtual.

Danu terlihat sedikit kecewa.

Tapi Rian justru tersenyum.

“Gak apa-apa, Dan. Kita coba lagi besok.”

Hari-hari berikutnya mereka konsisten live—sepulang sekolah hingga petang, lalu setelah salat Isya sampai pukul sepuluh malam. Rian menyanyi sepenuh hati. Danu mengatur kamera, membaca komentar, sesekali ikut bernyanyi.

Perlahan, penonton mulai bertambah.

Lalu suatu malam, Danu hampir berteriak.

“Mas! Seminggu ini kita dapat delapan ratus sepuluh ribu rupiah!”

Rian terdiam.

Tangannya yang memegang gitar gemetar tipis.

“Serius?”

“Iya! Ini setelah dipotong biaya koin dan lain-lain.”

Sunyi turun di antara mereka.

Dalam diam itu, Rian teringat tangisan nenek di tengah malam. Doa-doa lirih yang sering ia dengar dari balik kamar.

“Danu,” katanya pelan, “uangnya buat nenek dulu, ya.”

Danu tersenyum lebar. “Memang dari awal buat itu, Mas.”

Keesokan paginya, Rian menyerahkan uang itu.

Baca Juga:  Atma, Ingat Pesan Kunto

“Nek, ini hasil nyanyi Rian.”

Nenek terperanjat. Jemarinya gemetar saat menyentuh amplop itu.

“Dari mana sebanyak ini?”

“Dari orang-orang baik di internet, Nek,” jawab Danu pelan.

Nenek Hesti menangis.

Ia memeluk Rian erat, seolah takut cucunya hilang dari pelukan. “Allah itu Maha Baik…”

Bulan-bulan berikutnya, live mereka makin ramai. Penonton menembus seribu orang tiap sesi. Ada yang datang hanya untuk mendengar, ada yang sengaja berdonasi.

Suatu malam, komentar muncul di layar:

“Mas Rian, jangan pernah berhenti. Suaramu menguatkan kami.”

Rian menengadah, wajahnya tenang.

“Saya memang tak bisa melihat kalian,” katanya pelan, “tapi saya percaya, kebaikan itu nyata.”

Suatu sore yang hangat, Danu bertanya pelan, “Mas, pernah gak sedih karena gak bisa melihat?”

Rian tersenyum.

“Pernah. Bahkan sering.”

Ia memetik gitar pelan sebelum melanjutkan.

“Tapi Mas belajar… setiap orang lahir dengan potensi masing-masing. Mas mungkin gak punya mata yang melihat, tapi Mas punya suara.”

Danu mengangguk.

“Dan kamu,” lanjut Rian, “punya hati yang peka dan mau membantu.”

Danu tersipu.

Rian tertawa kecil. “Media sosial itu seperti pisau, Dan. Bisa melukai, bisa juga dipakai untuk kebaikan. Kita pilih yang mana.”

Danu mematikan notifikasi gim di ponselnya.

“Kita pilih yang baik, Mas.”

Petikan gitar kembali mengalun.

“Manusia Kuat” terdengar memenuhi Gang Pandan yang sempit. Kali ini, beberapa anak kecil duduk di trotoar, ikut bersenandung.

Di gang yang dulu sunyi itu, harapan perlahan menemukan suaranya.

Karena kadang, perubahan besar tidak datang dari tempat yang luas—melainkan dari gang sempit, suara yang tulus, dan dua orang yang memilih untuk tidak menyerah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…