Cerpen

Atma, Ingat Pesan Kunto

117
×

Atma, Ingat Pesan Kunto

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Cerpen Atma, Ingat Pesan Kunto
Ilustrasi cerpen Atma, Ingat Pesan Kunto (AI)

Jangan lelah menulis. Menulis mampu menginspirasi. Itulah semangat dari dalam diri Atma. Dia ingin menaklukan lomba menulis esai

Cerpen oleh Kamas Tontowi, Ketua Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani PDM Trenggalek dan guru bahasa Inggris MTsN 2 Trenggalek

Tagar.co – Ramadan ini, Kamto menjalani pekerjaan di tempat baru. Tempat belajar dulu semasa SMP. Terasa seperti pulang kampung. Kantor baru, murid baru, teman baru suasana baru.

Berada di tempat kerja baru, Kamto berusaha mengenali karakter teman-teman baru, ruang sekolah, latar belakang siswa.

Saat menjemput anak, Kamto ketemu adiknya. Adiknya menyapa. “Mas, sekarang sudah dekat rumah. Nggak naik turun gunung.”

“Alhamdulillah, dulu sehari bisa habis enam puluh ribu, sekarang nggak lagi,” jawab Kamto rileks.

“Kapan sukuran?”

“Nggak tahu.”

“Enak pindah?”

“Alhamdulillah. Tapi harus adaptasi. Dulu kebanyakan muridku anak petani, nelayan, sopir, kerja di Taiwan. Sekarang nggak lagi, ada anak anak pejabat, aku harus agak hati hati.”

“Yang penting sudah pindah, gratis pula, wkwkwkwk.”

“Bersyukur, dulu sehari bisa enam puluh ribu, sekarang ngirit. Cukup ngonthel, hahahaha. Sekarang masih bingung dengan tugasku. Ngurus ini, ngurus itu.“

Suatu pagi, libur awal Ramadan, Kamto duduk santai depan televisi. Menonton informasi liga Inggris. Tiba-tiba hp nya berdering, ada pesan masuk. Dina, pembina osis, mengirim pesan.

“Pak Kamto, minta tolong, ada lomba menulis esai, tolong bantu anak anak ikut lomba.”

“Nggih, Bu.”

“Niki nomor handphone ketua OSIS. Bisa dihubungi sewaktu waktu.”

Baca Juga:  Lagu Hijrotu dan Kalamun Iringi Lomba MIPA Milad Madtsaduta

“Aku sudah punya nomore bu. Aman.”

“Monggo, Pak, anak-anak dilatih, ini flyer-nya.”

“Iya, Bu.”

Ternyata lomba esai.

“Sekarang tanggal enam belas, dikumpulkan tanggal sembilan belas. Bismillah. Dicoba saja. Siapa tau lolos, nggak lolos ya nggak apa apa,” ungkapnya dalam hati.

Waktu berlalu. Kamto berharap anak-anak peserta lomba menghubunginya. Minta bimbingan menulis esai. Ternyata nggak ada yang minat. Mungkin nggak ada minat. Mungkin malu. Canggung.

Akhirnya, dengan sedikit keberanian, Kamto menghubungi Atma, pimpinan OSIS. Mengirimkan flyer lomba esai.

“Bu Dina minta saya memberi bimbingan tentang ini.”

“Injih, Pak.”

“Rumahku dekat, bisa ke rumahku kalau mau konsultasi sewaktu waktu.”

Atma mengirim beberapa tulisan panjang sekali, rupanya tulisan temannya. Wulan.

“Tulisan Wulan, Pak.”

“Gimana caranya ketemu Wulan. Sementara yang ada matahari.” Kamto mencoba mencairkan suasana.

“Nanti lama kalau nunggu Bulan memunculkan diri.”

“Kapan bisa ketemu, face to face. Rumahnya mana.”

“Nggak tahu pak. Saya lupa. Nunggu teman lain ini Pak. Barangkali ada yang mengirim.”

“Wahhhh. Agak sulit kalau nggak face to face.”

Akhirnya Kamto membuat outline tulisan, perkiraan judul, pendahuluan, paragraph satu, dua, tiga, hingga simpulan.

“Biar ditulis sendiri, kalah nggak apa apa, yang penting usaha sendiri,” bisiknya dalam hati.

“Besok saya di sekolah, antara jam tujuh sampai jam sembilan kalau mau bimbingan,” Kamto menambah.

“Iya, Pak,” balas Atma.

Esoknya Kamto bermaksud ke sekolah, tapi canggung. Malu. Maklum guru baru. Dia juga nggak pernah mengadakan bimbingan pribadi. Apalagi perempuan. Pukul setengah sembilan Kamto menuju sekolah. Nggak ada yang datang.

Baca Juga:  Di Antara Beduk Magrib dan Gerobak Sumarni

Waktu terus berlalu, hari terus berganti. Deadline pengiriman tulisan, tanggal 19, telah lewat.

“Sekarang tanggal 21, sudah lewat, apa kabar anak anak? Jadi ikut lomba kah? Kalau ikut lomba alhamdulillah, kalau nggak ikut ya nggak apa apa. Mau tanya kok gak enak, aku kan guru baru, belum kenal anak anak. Mana mungkin membimbing mereka. Ahhh sudahlah, mungkin anak anak masih repot. Ngurus kegiatan a kegiatan b. Maklum anak anak. Aku hubungi bu Dina saja, siapa tahu dia paham,” ungkap Kamto dalam hati.

“Gimana kabarnya anak-anak yang ikut lomba esai. Jadi mengumpulkan kah?” tanya Kamto.

“Sudah pak. Dikirim melalui pos.”

“Ohhhh, alhamdulillah.”

“Berapa anak?”

“Katanya dua.”

“Ohhh, berarti Wulan sama Atma. Mudah-mudahan lolos.”

“Aamiin.”

Hati Kamto lega. Tinggal menunggu waktu pengumuman.

Senin pagi, sekolah mulai menggelar Pondok Ramadan. Anak-anak memakai sarung, baju takwa berbondong-bondong menuju halaman.

Seragam khas kegiatan keagamaan. Tiga hari pertama kegiatan Pondok Ramadan diikuti anak laki-laki kelas tujuh dan delapan.

Tiga hari kedua diikuti anak anak perempuan kelas tujuh dan delapan. Sedangkan anak-anak kelas sembilan mengikuti pelajaran seperti biasa. Sebentar lagi ujian.

Bu Siti, wakil kepala bagian kesiswaan, berdiri gagah di tengah tengah lapangan berteriak teriak menginstruksikan anak-anak mengikuti apel.

“Ayo cepat kumpul, apel, saya hitung sampai sepuluh, kalau tidak kumpul saya hukum,” kalimat yang selalu di ulang ulang setiap mengumpulkan siswa.

Baca Juga:  Doa ke Makkah sebelum Dewasa

Beberapa detik berlalu. Anak anak bergegas menuju lapangan diikuti guru-guru dan pegawai kantor tata usaha.

Setelah siap, kepala sekolah, Pak Hasan, berjalan menuju tengah lapangan, memberikan informasi kegiatan di sekolah dan memotivasi siswa agar mengikuti Pondok Ramadan dengan tertib..

“Anak-anak kelas sembilan pelajaran seperti biasa. Sebentar lagi ujian, pembagian ruangan Pondok Ramadan akan diumumkan Bu Risa, ketua panitia Pondok Ramadan. Bagi anak-anak yang tidak masuk nanti saya pondokkan sendiri di pondok pesantren terdekat, di Desa Pojok dan Sentono,” terang kepala sekolah.

Di antara anak laki-laki yang mengikuti apel pembukaan Pondok Ramadan, terlihat tiga anak perempuan berusia tiga belasan berdiri di belakang mereka. Tiga anak-anak ini menggunakan seragam khusus. Kelihatannya seragam osis.

“Atma dan kawan kawan, apa kabar lombanya? Yang penting bukan menang lombanya. Tapi memiliki gairah menulis. Entahlah. Hanya penulis yang mau menulis esai,” batin Kamto.

Waktu berlalu, hari berganti pekan, pekan berganti bulan. Kamto memberanikan diri menanyakan lomba esai.

“Tulisanmu informasinya kapan,” tanya Kamto.

“Informasi apa, Pak.”

“Lomba esai.”

Atma mengirim data peserta yang lolos.

Ahhhh. Belum saatnya tertawa. Masih harus banyak belajar.

Jangan lelah menulis. Menulis mampu menginspirasi. Ingat pesan Prof. Kuntowijoyo. Ada tiga syarat menjadi penulis. Menulis, menulis, dan menulis. (#)

Penyunting Ichwan Arif

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…