
Selain mengajar matematika, ayah juga menjadi wali kelas sembilan dengan jumlah dua puluh lima murid. Salah-satunya bernama Farid. Dia memiliki karakter berbeda.
Cerpen oleh Kamas Tontowi, Ketua Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani PDM Trenggalek dan guru bahasa Inggris MTsN 2 Trenggalek
Tagar.co – Senin pagi, setelah mandi, ayah masuk ke dalam kamar, memakai seragam hitam putih, khas hari Senin. Lantas ayah duduk menatap televisi tabung usang diatas meja sembari menikmati kopi buatan ibu. Kopi pahit.
Ayah sangat menyukai kopi tanpa gula, pahit memang, tapi aman dan menyehatkan untuk dikonsumsi.
Ayah baru sebulan diangkat menjadi guru kontrak. Karena baru diangkat, maka gajinya belum bisa cair. Masih di proses. Gaji ayah sebagai guru sudah cukup untuk membiayai sekolah kami, anak anaknya, dan membayar listrik. Ibu membantu ekonomi keluarga dengan menjahit baju atau tas rusak milik tetangga.
Wajah ayah terlihat sangat tua, tua akan pengalaman. Beliau memikirkan keadaan kami, anak anak dan istrinya. Sebagai kepala keluarga, ia merasa kurang mampu menghidupi keluarganya.
Tapi di saat saat resah gelisah dengan beban hidup, ibu selalu menguatkan dengan ketulusan cintanya.
“Ohhh, pahit kopiku, pahit pula nasibku. Guru kontrak baru diangkat. Hingga saat ini belum cair.” Ayah mengeluh lirih.
“Jangan berkecil hati Yah. Dulu guru honorer, sekarang sudah guru kontrak. Sebentar lagi cair, bisa untuk membeli ban sepeda. Ban motormu sudah usang. Banyak banyak bersyukur. Dengan bersyukur, nikmat kita akan terus bertambah. Bukankah itu sudah menjadi janji-Nya.” Hibur ibu penuh kelembutan.
Ayah mengajar matematika. Mata pelajaran menakutkan bagi anak-anak. Ayah tegas dalam mengajar, maklum banyak anak-anak yang putus asa dengan pelajaran matematika.
Jika ayah tidak tegas, maka anak-anak akan menyepelekan dan berbuat seenaknya sendiri, meski demikian, ayah berusaha tegas dalam keterbatasan. Agar ketegasan ayah masih dalam kerangka mendidik. Di sekolah tempat ayah mengajar, anak-anak kurang berminat Matematika.
Percakapan murid-muridnya beberapa waktu lalu membekas di hati ayah.
“Untuk apa pelajaran matematika pak Bakri? Setelah lulus SMA aku ke Taiwan,” kata Rinda, seorang murid perempuan.
“Nikah sama aku saja,” sahut Kamto cekikikan.
“Heleh,” Rinda mencibir.
“Paling paling aku juga akan mencari rumput. Untuk kambing ayah ayahku. Sedikit lebih baik lagi jika aku jadi sopir pikep,” jawab Andi.
“Wkkwkwkwk,” semua murid-murid tertawa.
“Sudah, sudah, jangan putus asa. Putus asa itu dosa besar,” ayah menasihati.
Tugas terberat ayah adalah meningkatkan kepercayaan diri dan semangat murid muridnya. Boleh miskin tapi jangan putus asa.
Selain mengajar matematika, ayah menjadi wali kelas sembilan dengan jumlah dua puluh lima murid. Salah-satunya bernama Farid. Dia memiliki karakter berbeda.
Farid sering tidur di dalam kelas. Guru-guru lain sering mengeluh dengan kelakuannya. Ayah sedih dan gundah. Kadang ayah membangunkan dan menyuruh Farid wudu di musala. Setelah dibangunkan Farid mengucek-ucek matanya yang merah dan melangkah menuju musala sekolah.
Sikap anehnya membuat ayah gelisah. Dia ingin pergi ke rumah Farid, tapi belum sempat dilakukannya. Dia berencana ke rumah Farid hari Senin ini.
“Hari ini aku akan ke rumah Farid, aku ingin mengingatkan orang tuanya, agar lebih serius mendidik Farid,“ ucap ayah dalam hati.
Waktu menunjukkan pukul 06.30, ayah bersiap siap berangkat bekerja. Setelah menghabiskan kopinya, ayah segera beringsut malas menuju parkiran motornya.
“Buk, aku berangkat yaaa. Assalamualaikum,” ayah berpamitan.
“Waalaikum salam Yah. Hati hati di jalan. Nggak usah tergesa-gesa,” jawab istrinya.
Ayah memacu motor, menembus ramainya jalanan di pagi hari. Beberapa anak sekolah menyalip motor butut ayah sembari membunyikan bel.
“Monggo Pak Bakri,” sahut mereka.
“Ya,” jawab ayah pelan.
Di antara suara bising knalpot, ayah perlahan-lahan menyusuri aspal jalanan, sepuluh kilometer dari rumah menuju kantor. Belok kanan, belok kiri, berhenti di lampu merah, menyapa teman sejawat, menyapa sopir-sopir angkot, menjawab sapaan murid. Itulah rutinitas paginya.
Tiba-tiba kendaraan ayah oleng. Spontan ayah mengerem sambil mengendalikan laju sepeda.
“Ciiiiiiiiiit,” suara rem sepeda motor berhenti mendadak.
“Sepedaku bocor,” ungkapnya dalam hati.
Ayah berhenti di pinggir jalan. Tukang tambal ban masih jauh. Dalam keadaan bingung, ayahku berusaha mendorong motornya. Semakin lama semakin jauh.
“Sudah lebih sekilo perjalanan aku mendorong motor, tak ada tambal ban buka. Peluhku menjalar sekujur tubuh. Tapi tidak ada tukang tambal ban,” ayah bersedih.
Ketika putus asa menjalar di sekujur tubuh, tiba tiba seseorang menyapa dari belakang.
“Ada apa pak?” dia bertanya.
“Hei Farid. Bocor Nak, ban belakang,” keluh ayah.
Farid sejenak melihat lihat kendaraan ayah. Mengecek ban motor. Sesaat kemudian Farid melangkah kembali ke motor. Ayah berpikir Farid akan meninggalkan ayah dan berangkat ke sekolah.
“Ahhh Farid, untuk apa bertanya jika kau tak akan berbuat apa-apa,” pikir ayah dalam hati.
“Tolong diparkir Pak, biar saya tambal,” ungkap Farid.
“Lho, kamu bisa ta?” tanya ayah heran.
“Insya Allah bisa. Nggak usah khawatir Pak. Tiap malam aku selalu buka tambal ban. Mencari penghasilan untuk menghidupi adik dan ibuku. Ayah baru saja meninggal. Aku harus membantu ibu,” Farid menerangkan.
“Ya Allah. Ternyata kamu sering tidur di kelas karena bekerja tiap malam,” jawab ayah.
“Iya Pak Bakri, karena itu aku sering mengantuk hingga tertidur di kelas. Alhamdulillah, dalam kesusahan begini, kami menjadi pribadi tegar dan sabar. Inilah yang dinamakan berkah tersembunyi. Blessing in disguise,” ucap Farid.
Ayah berlinang air mata penuh haru. Dia menyesal telah berprasangka buruk.
Sambil berlinang air mata ayah bertaubat. “Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan yang aku sembah kecuali Engkau yang telah menciptakanku. Menciptakanku sebagai hamba-Mu dan anak dari hamba sahaya-Mu. Hidupku ada dalam genggaman-Mu. Aku hidup atas janji dan ancaman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat. Aku telah menyia-nyiakan nikmatmu. Dan aku berbuat dosa. Maka ampunilah dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.” (#)
Penyunting Ichwan Arif












