Telaah

Lailatulqadar, Momentum Menjemput Takdir Terbaik

105
×

Lailatulqadar, Momentum Menjemput Takdir Terbaik

Sebarkan artikel ini
Ridwan Ma’ruf

Lailatulqadar bukan sekadar malam penuh kemuliaan, tetapi momentum spiritual bagi setiap muslim untuk memperbanyak ibadah, doa, dan memperbaiki jalan hidup.

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co – Lailatulqadar merupakan malam istimewa di bulan Ramadan yang sering dipahami sebagai momen menentukan arah hidup. Pada malam inilah ketentuan Allah bagi kehidupan manusia selama satu tahun ke depan ditetapkan.

Karena itu, Lailatulqadar juga menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk melakukan transformasi diri menuju kehidupan yang lebih baik.

Baca juga: Memuliakan ART: Cermin Ihsan dalam Rumah Tangga

Secara bahasa, kata qadar berasal dari kata:

قَدَرَ – قُدْرَةٌ وَمَقْدِرَةٌ

yang bermakna kuasa atau mampu. Adapun makna Lailatulqadar adalah malam ketika Allah Ta’ala menetapkan berbagai ketentuan bagi makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Qadr  1:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.”

Malam ini disebut Lailatulqadar karena kemuliaan dan keagungannya di sisi Allah. Pada malam tersebut ditetapkan berbagai ketentuan takdir manusia selama satu tahun, seperti ajal, rezeki, dan berbagai peristiwa kehidupan lainnya. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Qamar ayat 49:

Baca Juga:  Malam Ganjil

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”

Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu diciptakan Allah dengan ukuran dan ketentuan yang telah ditetapkan. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu dan telah tertulis di Lauhulmahfuz.

Karena takdir tahunan ditetapkan pada malam ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan, untuk menjemput takdir terbaik dari Allah.

Lalu, mengapa Lailatulqadar menjadi momen yang tepat untuk memperbaiki arah hidup?

Lebih Baik dari Seribu Bulan

Ibadah pada malam ini memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada ibadah selama seribu bulan, atau lebih dari 83 tahun. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa mendirikan salat pada malam Lailatulqadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa malam Lailatulqadar adalah kesempatan luar biasa bagi seorang muslim untuk memperoleh ampunan Allah.

Turunnya para Malaikat Membawa Rahmat

Pada malam Lailatulqadar, para malaikat turun ke bumi dengan membawa rahmat, ketenangan, dan keberkahan. Bahkan Malaikat Jibril turut turun bersama mereka. Allah Ta’ala berfirman:

Baca Juga:  Iktikaf: Reset Spiritual di Tengah Kegelisahan Zaman

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Ayat ini mengandung makna bahwa malam Lailatulqadar dipenuhi kedamaian, keselamatan, dan keberkahan sejak matahari terbenam hingga terbit fajar. Para malaikat menebarkan salam, rahmat, dan ampunan bagi orang-orang beriman yang menghidupkan malam tersebut dengan ibadah.

Malam Penentuan Takdir Setahun ke Depan

Lailatulqadar juga dikenal sebagai malam ketika ketentuan takdir tahunan (takdir sanawi) ditetapkan. Ketentuan tersebut kemudian dicatat dan diserahkan kepada para malaikat untuk dilaksanakan selama satu tahun ke depan. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Ad-Dukhan ayat 4:

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”

Ayat ini menunjukkan bahwa berbagai ketentuan kehidupan—seperti rezeki, keberhasilan, kegagalan, dan berbagai peristiwa lainnya—ditetapkan dengan penuh hikmah oleh Allah.

Memperbanyak Doa pada Sepuluh Malam Terakhir

Salah satu cara terbaik memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadan adalah dengan memperbanyak doa. Dalam ajaran Islam, sebagian takdir dapat berubah melalui doa dan ikhtiar, terutama yang dikenal sebagai takdir muallaq, yaitu ketentuan yang bergantung pada usaha manusia.

Baca Juga:  Wacana Dana Zakat untuk MBG dalam Sorotan Syariah

Rasulullah Saw bersabda:

لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ

“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.” (Tirmizi)

Karena itu, Nabi Saw menganjurkan umatnya untuk memperbanyak doa pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Aisyah Ra. pernah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang doa yang sebaiknya dibaca ketika mendapatkan malam Lailatulqadar. Nabi Saw menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.”

Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.(Tirmizi dan Ibnu Majah)

Penutup

Lailatulqadar adalah waktu terbaik untuk bertobat, memperbaiki diri, dan menata kembali arah hidup. Malam ini menjadi momentum bagi setiap muslim untuk melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik—lebih disiplin dalam memanfaatkan waktu, lebih fokus pada kebaikan, serta lebih dekat kepada Allah.

Dengan memaksimalkan ibadah, doa, dan refleksi diri pada malam-malam terakhir Ramadan, seorang muslim berharap memperoleh keberkahan hidup, ketenangan batin, dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan di dunia. Wallahua’lam. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni