Telaah

Jumat dan Masjid sebagai Poros Persatuan

154
×

Jumat dan Masjid sebagai Poros Persatuan

Sebarkan artikel ini
Jumat
Salat berjemaah di Masjidilharam

Jumat adalah hari berkumpul umat muslim di seluruh dunia di masjid untuk menyembah dan berzikir kepada Allah. Ini gambaran kesatuan umat membangun kejayaan Islam.

Oleh Ridwan Ma’ruf, Majelis Pemberdayaan Wakaf Tanah PDM Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, Spiritual Parenting Islam Sidoarjo.

Tagar.co – Kata Jumat (الجمعة  – al-jumu’ah ) berasal dari akar kata Arab jama’a  (جَمَعَ) yang berarti  berkumpul .

Sebelum Islam, hari Jumat dikenal oleh penduduk Madinah sebagai hari Arubah. Penamaan Jumat untuk menandai tradisi berkumpulnya umat muslim dalam satu waktu khusus untuk melaksanakan salat Jumat berjemaah yang diwajibkan.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Jum’ah ayat 9

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Ayat itu menjelaskan pentingnya memenuhi seruan azan salat Jumat daripada jual beli. Ketika terdengar seruan itu segera bergegas menuju zikir kepada Allah.

Maka makna  dari ayat ini disamping peran masjid sebagai pusat ibadah, juga sebagai pusat sosial, dan budaya. Pelaksanaan salat Jumat menjadi momen yang tepat untuk mengumpulkan umat, mempererat persaudaraan (ukhuah), dan memperkuat identitas bersama.

Baca Juga:  Bolehkah Wanita Haid Membaca Al-Qur’an di HP?

Berikut penjabaran konsep Jumat dan masjid sebagai poros persatuan.

Pertama, Penyampaian Pesan Persatuan

Melalui khotbah Jumat, pesan-pesan persatuan, kedamaian, dan solidaritas umat Islam disampaikan secara rutin, memperkuat ukhuah islamiah atau persaudaraan muslim. Terutama dalam konteks kekinian perang Iran melawan Zionisme Israel dan Amerika.

Isinya bisa penyampaian pesan membangun narasi Persatuan Melawan Zionisme, yaitu  wacana solidaritas global umat muslim untuk bersama menentang ideologi politik zionis yang dianggap sebagai gerakan penjajahan, kezaliman, dan ancaman terhadap kedaulatan umat Islam, khususnya di Palestina.

Narasi ini mendorong umat Islam untuk mengesampingkan perbedaan mazhab, golongan, atau kedaerahan demi membangun kesatuan, solidaritas, dan kekuatan bersama (ukhuah islamiah) untuk membela Palestina.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Imran ayat 105.

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخْتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

Makna ayat ini adalah larangan bercerai-berai setelah penjelasan tentang amar makruf dan nahyu anil mungkar, adalah isyarat bahwa salah satu penyebab kelemahan dan  tercerai berainya umat Islam adalah meninggalkan perintah mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran, juga berselisih dalam hal cabang agama (furuiyyah).

Baca Juga:  Ucapan Lebaran yang Lebih Dekat dengan Sunah

Dalam Islam, persatuan sangat penting untuk menjaga kekuatan umat, berpegang teguh pada tali agama Allah (sunnah), serta menghindari fitnah dan kelemahan.

Kedua, Syiar dan Edukasi

Khotbah Jumat berfungsi sebagai media penyampaian pesan moral, ajaran Islam yang moderat, dan pembaruan informasi yang relevan untuk masyarakat. Yaitu menjadikan khotbah tidak sekadar sebagai syarat sah salat Jumat, melainkan sebuah media strategis untuk menyebarkan nilai-nilai Islam (syiar) dan memberikan pemahaman keagamaan yang mendalam serta aplikatif kepada jemaah (edukasi).

Edukasi dalam khotbah Jumat bertujuan meningkatkan pengetahuan (kognitif) dan memperbaiki akhlak (afektif) jemaah.   Di samping khotbah membahas topik akidah, hukum fikih, moralitas, atau isu kontemporer yang relevan dengan kehidupan masyarakat  sehari-hari.

Maka hendaknya juga  khotbah  disampaikan dengan nada lugas, jelas dan mudah dipahami jauh dari kesan bertele-tele. Nabi Saw bersabda

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ

Dari Jabir bin Abdullah Ra, ia berkata: Apabila Rasulullah Saw berkhotbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangat marahnya meningkat, seolah-olah beliau adalah panglima perang yang memberi peringatan, beliau bersabda: (Musuh) akan menyerang kalian di waktu pagi dan petang. ( HR Muslim, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Baca Juga:  Sunni dan Syiah Memandang Perang Iran-Israel

Hadis ini menjadi dasar bagi para khatib untuk menyampaikan materi khotbah dengan tegas dan lantang agar perhatian jemaah terjaga . Wajah dan mata memerah, suara lantang, dan kemarahan dalam hadis ini bukan menunjukkan amarah pribadi, melainkan bentuk kesungguhan, keseriusan, dan semangat yang tinggi dalam memperingatkan umat.

Khotbah yang baik disampaikan dengan penuh penekanan, tegas, dan membangkitkan kesadaran, tidak sekadar membaca teks.

Ketiga, Pemberdayaan Umat

Masjid berfungsi sebagai pusat pendidikan, sosial, ekonomi, dan manajemen administrasi untuk kesejahteraan masyarakat.

Allah berfirman dalam At Taubah ayat 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. 

Memakmurkan masjid terbagi dua. Zahir dan batin. Zahir berkaitan dengan fisik, seperti bersih dan nyaman. Sedangkan batin berkaitan dengan zikrullah dan syiar-syiar Islam, seperti azan, salat Jumat, dan salat berjemaah, membaca Al-Qur’an, berzikr, beribadah, pengajian, dan pendalaman agama lainnya.

Dengan demikian, Jumat dan masjid bertindak sebagai pusat kegiatan yang menyatukan umat secara rutin untuk memperkuat nilai spiritual dan sosial. Wallaahu alam. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto