Sejarah

Mengapa Masjidilaqsa Tak Pernah Boleh Dilupakan

×

Mengapa Masjidilaqsa Tak Pernah Boleh Dilupakan

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Isra Mikraj bukan hanya soal perintah salat. Singgahnya Nabi di Masjidilaqsa menyimpan pesan iman, sejarah, dan amanah solidaritas umat Islam terhadap Palestina yang terus relevan lintas zaman hingga hari ini bersama.

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co — Setiap kali peristiwa Isra Mikraj diperingati, perhatian umat Islam kerap tertuju pada perintah salat. Namun, ada pesan lain yang sering luput dari kesadaran bersama: mengapa perjalanan suci Nabi Muhammad Saw justru diawali dengan singgah di Masjidilaqsa, Yerusalem, Palestian, sebelum menuju Sidratulmuntaha.

Pilihan ilahiah ini bukan tanpa makna. Masjidilaqsa bukan sekadar titik persinggahan, melainkan simpul pesan iman, sejarah kenabian, dan tanggung jawab umat yang terus relevan lintas zaman. Dari tempat yang diberkahi inilah, perjalanan agung Isra Mikraj dimulai menuju dimensi langit, menautkan bumi dan wahyu dalam satu rangkaian mukjizat.

Baca juga: Wali Allah atau Wali Setan?

Pesan Masjidilaqsa di balik peristiwa Isra Mikraj menunjukkan signifikansinya sebagai titik krusial dalam sejarah Islam. Peristiwa ini tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa di Palestina, sebelum kemudian diangkat menuju Sidratulmuntaha.

Baca Juga:  Generasi Digital: Prestasi Gemilang di Tengah Ancaman Kesehatan Mental

Seluruh rangkaian peristiwa tersebut terjadi atas kehendak dan izin Allah Taala serta menjadi bagian dari mukjizat besar yang dianugerahkan-Nya kepada Rasulullah Saw.

Di samping pesan berupa kewajiban melaksanakan salat lima waktu sehari semalam, Isra Mikraj juga membawa amanah besar bagi umat Islam: menjaga, membela, dan memperjuangkan keberadaan Masjidilaqsa. Allah Taala berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ayat ini menjadi penghibur Nabi Saw di tengah beratnya tantangan dakwah, sekaligus meneguhkan keimanan umat Islam bahwa setiap peristiwa besar dalam sejarah kenabian selalu sarat makna dan amanah.

Setidaknya terdapat dua pesan utama Masjidilaqsa di balik peristiwa Isra Mikraj.

Baca Juga:  Wacana Dana Zakat untuk MBG dalam Sorotan Syariah

Pertama, meningkatkan kewaspadaan. Masjidilaqsa pernah menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya dipindahkan ke Ka’bah. Selain itu, Bumi Palestina merupakan bumi para nabi dan rasul. Hampir seluruh mata rantai kenabian pernah singgah, menetap, dan berdakwah di wilayah yang sama, menjadikannya tanah yang sarat nilai sejarah, spiritual, dan peradaban.

Menurut penelitian pada tahun 1938, seorang geolog bernama A. Bonne memublikasikan riset berjudul Natural Resources of Palestine. Dalam riset tersebut, Palestina disebut sebagai “harta karun” di kawasan Timur Tengah.

Ia menjelaskan bahwa bumi Palestina mengandung kekayaan alam yang melimpah, seperti tembaga, mangan, aspal, dan minyak bumi. Inilah makna dari firman Allah Taala ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ (yang telah Kami berkahi sekelilingnya) sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Isra ayat 1.

Tidak mengherankan jika hingga kini Palestina terus menjadi sasaran penjajahan dan penindasan. Di antara sebabnya adalah karena tanah ini menyimpan kekayaan alam dan posisi strategis yang sangat besar nilainya.

Kedua, meneguhkan solidaritas. Peristiwa Isra Mikraj mengajarkan bahwa Masjidilaqsa bukan milik satu generasi atau satu bangsa, melainkan amanah seluruh umat Islam. Karena itu, ukhuah (persaudaraan) dan solidaritas terhadap Palestina merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan.

Baca Juga:  Mandi Jumat: Hukum, Waktu Pelaksanaan, dan Hikmahnya

Bahkan Nabi Muhammad Saw secara tegas menganjurkan umat Islam untuk berziarah, beribadah, dan melaksanakan salat di Masjidilaqsa. Dalam sebuah hadis sahih beliau bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidilharam, dan Masjidilaqsa.” (Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan kemuliaan Masjidilaqsa dan keutamaan beribadah di dalamnya. Salat yang ditegakkan di sana memiliki nilai pahala yang besar, sekaligus menjadi simbol keterikatan spiritual umat Islam terhadapnya.

Kesimpulan

Dengan demikian, Masjidilaqsa tidak pernah boleh dilupakan. Ia bukan hanya bagian dari sejarah Isra Mikraj, tetapi juga simpul iman, amanah, dan solidaritas umat Islam.

Dari Masjidilaqsa, Nabi Muhammad Saw melanjutkan perjalanan menuju Sidratulmuntaha dan menerima perintah salat langsung dari Allah Taala. Maka, melupakan Masjidilaqsa berarti mengabaikan salah satu pesan terpenting dari perjalanan suci tersebut. Wallahualam. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni