
Ruang di tepi Bengawan Solo itu kini dipenuhi lapak kuliner, tawa pengunjung, dan denyut ekonomi lokal yang tumbuh alami dari tangan warga Pelangwot.
Tagar.co — Siapa sangka sudetan Bengawan Solo di Pelangwot, Lamongan, Jawa Timur, yang semula dirancang untuk mengalihkan aliran sungai, kini berubah menjadi magnet keramaian. Di tepi aliran air itu, warga menghadirkan wisata kuliner dadakan yang menyatukan rasa, suasana, dan kebersamaan. Seperti tampak pada Ahad (18/1/25).
Sudetan Pelangwot terletak di Desa Pelangwot, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Ia merupakan bagian dari sistem pengendalian banjir Bengawan Solo—sungai terpanjang di Pulau Jawa—yang sejak lama menjadi urat nadi sekaligus sumber persoalan banjir di wilayah hilir.
Baca juga: Pelangwot dan Cerita di Balik Jembatan Biru Penyelamat Kampung
Sudetan Pelangwot adalah saluran air (sodet) yang berfungsi mengalirkan kelebihan debit Bengawan Solo langsung menuju Laut Jawa melalui kawasan Sedayu Lawas, Brondong, Lamongan.
Dengan memotong alur sungai yang berkelok (meander) menjadi lebih lurus, sudetan ini mempercepat aliran air keluar, sehingga membantu mengurangi luapan dan genangan saat musim hujan, khususnya di wilayah Lamongan.

Aktivitas Kuliner Rakyat
Namun, di luar fungsi teknisnya sebagai infrastruktur pengendali banjir, ruang di sekitar sudetan justru berkembang menjadi ruang sosial baru. Tepian saluran yang awalnya sunyi kini dimanfaatkan warga sebagai tempat berkumpul, bersantai, sekaligus menggerakkan ekonomi melalui aktivitas kuliner rakyat.
Tanpa konsep besar dan tanpa desain pariwisata yang rumit, kawasan ini tumbuh secara organik dari kebutuhan dan kreativitas masyarakat setempat.
Kini, Sudetan Pelangwot dikenal sebagai wisata kuliner dadakan yang menawarkan pengalaman berbeda. Berada persis di tepi aliran Bengawan Solo yang dialihkan, pengunjung dapat menikmati sajian sederhana dengan latar aliran air yang tenang, semilir angin sore, dan suasana pedesaan yang akrab.
Beragam kuliner khas tersaji di sini. Mulai dari minuman tradisional seperti dawet cebong dan es dawet selasih, hingga jajanan klasik seperti serabi Notosuman. Deretan warung makan juga menyuguhkan menu andalan rakyat: ayam dan bebek goreng, pecel pincuk, pecel lele, hingga asem-asem kotok yang segar dan menggugah selera. Aneka gorengan melengkapi pilihan, membuat pengunjung betah berlama-lama.
Tak hanya soal makanan, kawasan ini juga hidup dengan hiburan sederhana. Musik karaoke terdengar dari beberapa sudut, anak-anak bermain riang, bahkan sesekali tampak kuda tunggang sebagai wahana permainan. Suasana yang tercipta cair dan egaliter, menjadikan Sudetan Pelangwot sebagai ruang publik terbuka bagi berbagai lapisan masyarakat.
Fenomena ini sejalan dengan kecenderungan masyarakat yang gemar berburu kuliner dan tempat wisata baru. Lokasi-lokasi semacam ini menawarkan pengalaman unik di luar rutinitas. Media sosial turut mempercepat penyebaran daya tariknya, melalui unggahan pengunjung yang ingin berbagi suasana dan cerita.

Di sisi lain, wisata kuliner rakyat seperti Sudetan Pelangwot juga menghadirkan pengalaman budaya yang autentik. Pengunjung tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga merasakan kehidupan lokal, interaksi sosial, serta kearifan warga yang tumbuh di sekitar sungai.
Sebagian orang memaknai geliat wisata dan kuliner sebagai cerminan zaman yang serba cepat dan materialistis. Namun, penilaian semacam itu bersifat subjektif. Jika dikelola dengan bijak, ruang-ruang seperti Sudetan Pelangwot justru menyimpan potensi sosial dan ekonomi yang besar.
Wisata kuliner rakyat mampu meningkatkan ekonomi lokal, membuka lapangan kerja, serta memperkenalkan budaya dan tradisi setempat kepada khalayak lebih luas. Bahkan, kesadaran untuk menjaga lingkungan dan fungsi ruang publik dapat tumbuh seiring meningkatnya perhatian pengunjung.
Meski demikian, potensi risiko tetap perlu diantisipasi. Komersialisasi berlebihan, kerusakan lingkungan, hingga tergerusnya nilai lokal bisa terjadi jika pengelolaan dilakukan tanpa arah yang jelas. Karena itu, keterlibatan warga, kesadaran kolektif, dan peran pemerintah setempat menjadi kunci keberlanjutan kawasan ini.
Sudetan Pelangwot menunjukkan bahwa infrastruktur tidak selalu berhenti pada fungsi teknis. Dari saluran pengendali banjir, ia berkembang menjadi ruang hidup—tempat rasa, ruang, dan sungai bertemu, serta denyut ekonomi rakyat menemukan jalannya sendiri. (#)
Jurnalis Malikan Saputra Penyunting Mohammad Nurfatoni












