Telaah

Akhir Tahun, Awal Kesadaran: Menimbang Umur, Harta, dan Waktu

66
×

Akhir Tahun, Awal Kesadaran: Menimbang Umur, Harta, dan Waktu

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Akhir tahun bukan sekadar pergantian angka, melainkan momentum menata diri, mengevaluasi hidup, dan meneguhkan kembali arah perjalanan menuju masa depan yang lebih bermakna.

Tagar.co – Akhir tahun 2025 bukan sekadar peralihan angka dalam kalender. Ia adalah undangan sunyi bagi setiap jiwa untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan bertanya dengan jujur: ke mana sebenarnya arah hidup ini sedang berjalan?

Tahun ini kita hidup di tengah perubahan yang cepat—ekonomi yang bergejolak, teknologi yang melompat jauh, serta nilai-nilai sosial yang terus bergeser. Dalam pusaran itu, manusia kerap sibuk menyesuaikan diri dengan dunia, tetapi lupa menyesuaikan dirinya sendiri.

Di sinilah refleksi menjadi penting. Bukan sekadar mengingat peristiwa, melainkan menimbang makna dan arah.

Muhasabah: Cermin Kehidupan

Refleksi diri dalam Islam dikenal sebagai muhasabah—evaluasi jujur atas perjalanan hidup. Ia mengajak kita mengukur bukan seberapa banyak yang telah kita raih, tetapi seberapa benar cara kita melangkah.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (Al-Hasyr: 19)

Lupa kepada Allah pada akhirnya membuat manusia lupa siapa dirinya dan ke mana tujuan hidupnya.

Tiga Amanah yang Tak Terelakkan

Setiap manusia memikul amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban: umur, harta, dan waktu.

Rasulullah Saw bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ…

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, ilmunya, hartanya, dan tubuhnya.” (Bukhari dan Muslim)

Umur adalah modal kehidupan. Bukan panjangnya yang menentukan nilai, melainkan bagaimana ia diisi—apakah untuk mendekat kepada Allah atau sekadar habis dalam kelalaian.

Harta adalah ujian. Dari mana ia diperoleh dan ke mana ia dibelanjakan akan menjadi soal besar di hadapan-Nya. Al-Qur’an menegaskan: “Dan sungguh, kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Nahl: 93)

Rasulullah Saw mengingatkan:

“Harta yang paling baik adalah harta yang digunakan untuk berinfak di jalan Allah.” (Bukhari)

Waktu adalah nikmat yang paling sering terbuang. Padahal Nabi Saw telah berpesan:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ…

“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskin, waktu luangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati.” (Hakim)

Waktu tidak pernah kembali. Yang tersisa hanyalah catatan amalnya.

Menutup Tahun, Membuka Kesadaran

Refleksi akhir tahun sejatinya bukan ritual emosional, tetapi proses pembenahan arah. Kita diajak menengok bagaimana kita memperlakukan diri sendiri, bagaimana hubungan kita dengan sesama, dan sejauh mana kedekatan kita dengan Allah.

Dari refleksi lahir resolusi—bukan sekadar daftar keinginan, tetapi komitmen perubahan: memperbaiki niat, menata amal, menguatkan iman, dan menyederhanakan hidup.

Akhir tahun adalah pintu kesadaran. Siapa yang masuk melaluinya dengan jujur, akan keluar dengan arah hidup yang lebih terang.

Semoga 2025 menjadi guru yang bijaksana, dan 2026 menjadi lembaran baru yang kita tulis dengan iman, amal, dan harapan yang lebih kokoh. (#)

Artikel ini disarikan dari ceramah Ustaz Eddy Muhidin, S.Pd dalam Pengajian Rutin Ahad Sore di Masjid Darul Falah Pelangwot, Laren, Lamongan, Jawa Timur, 28 Desember 2025.

Penyunting Mohammad Nurfatoni