
Usia terus bertambah, waktu terus menyusut. Di antara hiruk-pikuk dunia, kita diingatkan untuk menata hidup, memperbanyak bekal, dan menyiapkan pulang dengan iman yang matang.
Oleh Malikan Saputra
Tagar.co – Setiap kali usia berkurang dan waktu hidup semakin pendek, seharusnya jarak kita dengan Allah justru semakin dekat. Bertambahnya umur bukan sekadar penanda perjalanan biologis, melainkan alarm spiritual agar manusia semakin sadar bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara menuju kehidupan yang kekal.
Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sejati bukanlah harta, jabatan, atau popularitas, melainkan keselamatan dari neraka dan keberhasilan memasuki surga. Sementara dunia, betapapun indahnya, hanyalah kesenangan sesaat yang sering kali memperdaya.
Baca juga: Belajar Sabar dan Ikhlas di Balik Ujian Sakit
Kesadaran akan kematian inilah yang oleh Rasulullah Saw. ditanamkan kepada umatnya. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, beliau bersabda:
“Perbanyaklah mengingat lima perkara: kematian, kebangkitan, perhitungan amal, timbangan amal, surga, dan neraka.”
Mengingat kematian bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menata ulang prioritas hidup. Orang yang selalu ingat mati akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih ikhlas dalam beramal, dan lebih rendah hati dalam menjalani kehidupan.
Rasulullah Saw. bahkan memberikan definisi yang sangat jelas tentang kecerdasan sejati:
“Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.” (Tirmizi)
Al-Qur’an juga memperingatkan bahwa waktu tidak pernah menunggu kesiapan manusia:
ٱقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِى غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ
“Telah dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sementara mereka berada dalam kelalaian dan berpaling.” (Al-Anbiya: 1)
Karena itu, Rasulullah Saw. mengajarkan manajemen waktu spiritual yang sangat mendalam:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, waktu luangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati.” (Hakim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kesempatan beramal tidak selalu datang dua kali. Setiap fase kehidupan adalah modal berharga yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Jalan Mendekat kepada Allah
Untuk semakin dekat dengan Allah, ada amalan-amalan yang perlu dijaga dan diperbanyak, di antaranya:
-
melaksanakan salat dengan khusyuk dan tepat waktu,
-
membaca Al-Qur’an secara rutin disertai tadabbur,
-
memperbanyak zikir dan mengingat Allah,
-
gemar bersedekah dan berbagi kepada sesama,
-
menjalankan puasa wajib dan sunah,
-
menunaikan haji dan umrah bagi yang mampu,
-
serta memperbanyak doa dengan penuh kesungguhan.
Sebaliknya, ada pula perilaku yang harus dijauhi karena menjauhkan hati dari Allah, seperti ghibah, fitnah, riba, zina, minum khamr, marah yang tidak terkendali, kikir, dan enggan berbagi.
Semoga setiap detik usia yang terus berkurang ini benar-benar menjadi sarana untuk semakin mendekat kepada Allah, memperbanyak bekal amal, dan memperhalus jiwa, sehingga ketika saat pulang itu tiba, kita termasuk orang-orang yang beruntung: dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












