
Zaman mengalami perubahan dan menuntut pesantren membuka diri dengan mengambil hal baru yang terstandarisasi. Sehingga pesantren mampu bertahan bahkan berkembang di tengah arus perubahan yang tidak menentu.
Oleh Deny Kurniawan, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Tagar.co – Pendidikan pesantren sudah membuka gerbang pembaruan dalam sistem pendidikan yang melestarikan metode lama dalam kurikulum pendidikannya namun mengambil hal baru yang lebih baik dengan adanya standarisasi adalah jalan menuju keberhasilan dalam pengembangan pesantren saat ini.
Meskipun pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia tidak menutup kemungkinan akan membuka cakrawala berpikir bagi pengambil kebijakan dalam mempertahankan eksistensi pesantren saat ini.
Dahulu pesantren hanya berfokus pada pembelajaran agama dengan metode bandongan, lalu pada perkembangan zaman membuka kelas dengan menyusun kurikulum yang terstruktur dan berjenjang.
Saat ini dunia sudah berubah, keinginan masyarakat bermacam-macam, sehingga pesantren harus mampu menangkap keinginan pasar supaya tetap bertahan di tengah arus yang penuh dengan perubahan.
Perubahan budaya dan perubahan arah pendidikan yang ditopang oleh kemajuan teknologi dan informasi membuat resah murid, orang tua, guru, dan pengambil kebijakan di lembaga pendidikan terutama di lingkungan pesantren.
Cara Memperoleh Ilmu Dulu dan Kini
Dulu ilmu diperoleh dengan mendatangi guru, ditulis, dihafal, dan didiskusikan serta ada keterbatasan dalam mengakses ilmu, akan tetapi sekarang terbuka luas akses mencari ilmu sehingga ilmu mudah didapatkan dengan cara mendownload, menyimpannya lalu mendebatkannya. Sehingga cara memperoleh ilmu berbeda dan kualitas hasil yang didapatkan pun juga berbeda.
Permasalahan yang klasik pendidikan kita adalah 6 M yaitu malas membaca, malas mendengarkan, dan malas menulis. Kita tahu bahwa metode ngaji bandongan di pesantren mengajarkan kita mendengarkan, menyimak dan menulis ilmu serta membacanya setelah selesai metode tersebut.
Baca Juga: Meneladani Pendidikan Raden Ranggawarsita dalam Novel Zaman Gemblung Karya Sri Wintala Acmad
Kita juga memahami bahwa ayat pertama yang turun dalam al Qur’an sebagai perintah membaca bagi insan manusia. Akan tetapi malas membaca menjadi sumber utama kegagalan dalam pendidikan, dengan membaca akan terbuka jendela dunia.
Kita bisa mengenal karya ulama’ seperti syaikh Mahfudz Termas pengarang kitab Manhaj Dzawi An Nadhor dan Syaikh Abu Bakr Syato pengarang kitab I’anatu AtTholibin. Dari tulisan tangan beliau yang penuh ilmu bisa kita baca hingga saat ini meskipun usia karya tulisnya sudah ratusan tahun akan tetapi ilmu itu masih bisa dipelajari dan dirasakan manfaatnya.
Meramu Pembaharuan Pendidikan Pesantren
Pembaruan pendidikan pesantren dengan standarisasi dalam berbagai aspek kultur , budaya, dan tuntutan zaman yang disesuaikan dengan visi dan misi pesantren adalah strategi pembaruan yang adaptif dan tentunya menjadi harapan dan pilihan baru di kemudian hari.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu menyiapkan bekal baik dunia dan akhirat sebagai keseimbangan tujuan hidup manuasia. Maka pendidikan pesantren sebagai lembaga pendidikan harus mampu menjadi rujukan pilihan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.
Pendidikan pesantren harus meramu pembaharuan ketika menyusun kurikulum pesantren dengan menyesuaikan tujuan lulusannya, salah satunya adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, diintegrasikan dengan dasar ilmu agama serta penguatan karakter santri sebagai pondasi akhlak yang baik.
Sudah saatnya kita membuka diri dalam mempertahankan metode lama dalam pesantren, dengan jalan membuka pola pikir baru dalam perkembangan zaman.
Sejatinya santri sekarang tidak sama dengan santri dahulu, sehingga kita tidak boleh menyamakan dan membandingkan keduanya karena mereka hidup pada zaman yang berbeda, lingkungan yang tidak sama dan pastinya situasi teknologi informasi yang berbeda pula.
Pesantren tidak boleh terkurung dalam bayangan tradisi lama yang menghambat jalannya kemajuan arah pesantren yang tranformatif dengan catatan mau membuka diri dengan kurikulum yang relevan, tanpa meninggalkan tradisi lama yang ada di pesantren sehingga masih bisa mempertahankan visi dan misi sesuai dengan situasi zaman yang ada saat ini.
Kita hidup pada zaman yang mudah berubah, teori antar zaman terkadang tidak bisa diaplikasikan pada ruang waktu yang berbeda. Semisal pesantren dahulu tidak membuka sekolah formal dan sekarang sudah banyak pesantren yang membuka sekolah formal mulai TK sampai Ma’had Aly atau bahkan membuka Perguruan Tinggi.
Transformasi Pesantren
Ini merupakan pertanda bahwa pesantren sudah mulai membuka gerbang pembaruan tanpa meninggalkan visi dan misi yang ada. Pesantren sudah bertransformasi menjadi bagian yang mampu mengikuti arus perubahan dengan standarisasi yang disesuaikan sehingga mampu menjadi pusat pendidikan yang mengintegrasikan keilmuan agama dan ilmu umum dengan demikian pesantren tidak ada pembatasan ilmu karena semua ilmu itu esensinya adalah saling terintegrasi.
Pesantren yang mau membuka dan peka pada perubahan zaman akan menjadikan santri yang terbuka pula, terbuka pada perubahan zaman, informasi dan teknolgi sehingga alumni pesantren mampu berkiprah di masyarakat, pemerintahan, dan berbagai bidang lainnya semua itu berkat adanya keterbukaan pada sistem pendidikan pesantren.
Namun bukan berarti teori pendidikan pesantren dulu kurang tepat, akan tetapi teori dulu lebih tepat diaplikasikan pada waktu itu dan sekarang mengambil metode baru dengan adanya standarisasi setiap pesantren.
Sehingga pendidikan pesantren merupakan salah satu modal utama dalam mendidik murid yang berilmu, berpengetahuan luas dan tidak menyimpang dari jalur utama pesantren tanpa mengenyampingkan Al Mukhafadhotu ala al Qadiim as Sholih. (#)







