Telaah

Jebakan Nanti: Saat Penundaan Menjauhkan Manusia dari Allah

76
×

Jebakan Nanti: Saat Penundaan Menjauhkan Manusia dari Allah

Sebarkan artikel ini
Menunda kebaikan dengan kata nanti perlahan mengeraskan hati, menjauhkan dari Allah, hingga kesempatan taubat dan amal saleh hilang tanpa terasa.
Ilustrasi AI

Menunda kebaikan dengan kata nanti perlahan mengeraskan hati, menjauhkan dari Allah, hingga kesempatan taubat dan amal saleh hilang tanpa terasa.

Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur.

Tagar.co – Salah satu ilusi terbesar manusia adalah merasa masih punya banyak waktu. Kita menunda kebaikan dengan kalimat yang terdengar sederhana: nanti. Nanti lebih khusyuk saat ibadah, nanti mulai memperbaiki diri, nanti lebih rutin membaca Al-Qur’an, nanti bersedekah ketika rezeki lapang, nanti bertaubat ketika usia mulai senja.

Kata nanti terdengar ringan, tetapi dalam banyak kasus, justru menjadi jebakan paling halus yang menjauhkan manusia dari Allah. Padahal, waktu tidak pernah menunggu siapa pun.

Seorang tabi’in mulia, Khalid ibn Mi’dan Rahimahullah berkata: “Jika dibukakan untuk kalian pintu kebaikan, maka bersegeralah untuk melakukannya. Karena engkau tidak tahu kapan pintu itu ditutup.” (Az-Zuhd, Imam Ahmad, no. 311).

Ucapan tersebut singkat, tetapi sangat tajam. Ia lahir dari kesadaran mendalam bahwa kesempatan berbuat baik bukan sesuatu yang otomatis selalu tersedia. Ada masa ketika hati begitu lembut menerima nasihat, air mata mudah jatuh saat mengingat dosa, kaki ringan melangkah ke masjid, tangan mudah tergerak untuk bersedekah, dan jiwa rindu mendekat kepada Allah. Namun ada pula masa ketika semua itu perlahan memudar.

Baca Juga:  Seni Membuka Hati di Atas Kursi Pembelajar

Mengapa? Bukan selalu karena manusia menjadi lebih sibuk, melainkan karena ia terlalu sering menunda panggilan kebaikan hingga kepekaan ruhani itu melemah.

Bahaya Menunda

Al-Qur’an memberi peringatan serius dalam QS. Al-Baqarah ayat 74:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”

Kerasnya hati bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia sering dimulai dari penundaan kecil yang terus diulang. Menunda istighfar. Menunda salat berjamaah. Menunda membaca Al-Qur’an. Menunda memperbaiki akhlak. Menunda meminta maaf. Menunda sedekah.

Lama-kelamaan, yang dulu terasa ringan menjadi berat. Yang dulu menggetarkan hati menjadi biasa. Yang dulu membuat mata basah, kini tak lagi menyentuh rasa.

Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan, dosa yang terus terulang tanpa taubat akan meninggalkan nuktah sauda’—titik hitam dalam hati—hingga hati kehilangan sensitivitas spiritual. Akibatnya, manusia masih hidup secara fisik, tetapi jiwanya perlahan mati rasa terhadap kebenaran.

Lebih jauh, Ibn al-Jawzi dalam Talbis Iblis mengingatkan, salah satu tipu daya terbesar setan adalah meninabobokan manusia dengan rasa aman terhadap waktu. Setan tidak selalu mengajak manusia langsung pada dosa besar; sering kali ia cukup membisikkan satu kalimat: “Besok saja.” Dan besok itu terus bergeser hingga usia habis. Inilah bahaya menunda.

Baca Juga:  Mengapa Lailatulqadar Dirahasiakan?

Baca Juga: Iqra di Tengah Banjir Notifikasi

Saat Hati Masih Peka

Padahal, ketika Allah masih membuat hati gelisah karena dosa, itu nikmat. Ketika seseorang masih merasa rindu sujud panjang, itu nikmat. Ketika jiwa masih tergerak ingin berubah, itu nikmat. Ketika nasihat masih bisa mengetuk batin, itu nikmat yang sangat mahal.

Sebab tidak semua orang masih memiliki hati yang hidup. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging; jika ia baik, baiklah seluruh jasad; jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan, inti kehidupan spiritual ada pada hati. Jika hati masih peka, segeralah rawat. Jika hati masih mudah luluh, segera sambut panggilan Allah. Jangan tunggu momentum “sempurna”, karena kesempurnaan itu sering hanya alasan untuk menunda.

Amal saleh tidak menunggu kesiapan total. Justru kesiapan lahir dari langkah kecil yang segera dilakukan.

Segera Melangkah sebelum Terlambat

Maka mulailah dari yang sederhana: satu rakaat sunah, satu halaman Al-Qur’an, satu istigfar yang sungguh-sungguh, satu sedekah meski kecil, satu permintaan maaf yang tulus, satu langkah menuju majelis ilmu. Jangan remehkan kebaikan kecil, sebab bisa jadi itulah pintu besar yang Allah bukakan untuk perubahan hidup.

Baca Juga:  Ramadan Usai, Ujian Dimulai

Manusia perlu sadar: bukan kita yang mengatur kapan masih diberi kesempatan, tetapi Allah. Bisa jadi esok jasad masih hidup, tetapi hati telah kehilangan cahaya. Bisa jadi usia masih panjang, tetapi semangat beramal telah dicabut perlahan.

Maka beramal lah hari ini, bukan karena yakin masih ada besok, tetapi karena takut tidak lagi mendapat kesempatan. Sebab ketika pintu kebaikan masih terbuka, yang paling bijak bukanlah menunggu, melainkan segera masuk sebelum pintu itu tertutup. (#)

Penyunting Sayyidah Nuriyah