
Ada orang yang kehadirannya membuat kita ingin jadi lebih baik—itulah energi yang diberkahi.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Tagar.co – Ada sesuatu yang sering kita anggap sepele, padahal dampaknya luar biasa: energi. Ia tidak terlihat, namun terasa. Ia tidak terdengar, namun memengaruhi.
Ketika seseorang memiliki aura positif, murah senyum, santun, tidak pamer, dan rajin beribadah, tanpa sadar hati kita ikut tertarik. Kita terdorong menjadi lebih baik, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah.
Baca juga: Sedekah Subuh, Amalan Kecil dengan Dampak Besar dalam Kehidupan
Energi itu memang sangat mudah menular. Kadang kita tidak sadar, suasana hati kita berubah hanya karena berada di dekat seseorang. Ada orang yang ketika hadir, ruangan terasa ringan.
Ada orang yang ketika berbicara, hati seperti disiram air sejuk. Tidak banyak kata, tidak berlebihan dalam penampilan, dan tidak sibuk menunjukkan siapa dirinya. Justru dari kesederhanaan itulah lahir wibawa. Dari ketulusan itulah terpancar cahaya.
Islam sejak awal sudah mengajarkan bahwa pengaruh manusia terhadap manusia lainnya adalah sesuatu yang nyata. Bahkan Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa pertemanan bukan sekadar hubungan sosial, melainkan jalur kuat yang membentuk arah hidup seseorang. Karena itu, energi yang menular bisa menjadi pintu kebaikan atau pintu kehancuran.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119)
Perintah “bersama orang-orang yang benar” bukan sekadar ajakan berkumpul secara fisik. Ini adalah perintah agar kita melekat dengan lingkungan yang sehat, dengan jiwa-jiwa yang lurus, dan dengan orang-orang yang membuat kita takut berbuat dosa serta malu jika meninggalkan ibadah. Sebab karakter bukan hanya dibentuk oleh teori, tetapi oleh kebiasaan yang kita lihat setiap hari.
Maka wajar bila kita merasa terdorong untuk lebih baik ketika dekat dengan orang yang auranya positif. Karena sejatinya, jiwa manusia memiliki kecenderungan meniru.
Jika kita dekat dengan orang yang rajin salat, rajin tilawah, lisannya lembut, dan sikapnya santun, hati kita perlahan ikut menyesuaikan. Inilah yang sering disebut sebagai “energi menular”.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ …
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi…” (Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat kuat. Bahkan jika kita tidak ikut berbuat atau terlibat, tetapi berada dalam lingkungan yang salah, kita tetap akan terkena “bau” yang buruk. Sebaliknya, walaupun kita hanya diam di dekat orang saleh, kita tetap akan mendapatkan aroma kebaikan.
Maka orang yang murah senyum, tidak tebar pesona, tetapi tulus, sebenarnya sedang berdakwah tanpa banyak bicara. Orang yang sikapnya baik, tidak merendahkan orang lain, dan tidak memandang rendah yang lemah, sedang menyebarkan iman dalam bentuk akhlak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (Ahmad)
Akhlak yang baik adalah energi. Ia tidak perlu dipamerkan dan tidak perlu dijelaskan. Cukup hadir dan nyata. Ketika seseorang santun, tidak mudah marah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, kita akan merasa nyaman. Dan kenyamanan itu bukan sekadar psikologis, melainkan juga bagian dari rahmat Allah.
Allah ﷻ menegaskan dalam Al-Qur’an:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ …
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka…” (Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini menunjukkan bahwa kelembutan adalah magnet. Sikap baik adalah daya tarik. Orang yang dekat dengan Allah biasanya lebih lembut karena ia sadar setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban.
Ketika kita bertemu seseorang yang rajin beribadah, muncul rasa malu dalam diri. Bukan malu karena takut dinilai, tetapi malu kepada Allah. Rasa malu ini adalah tanda hidupnya iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Malu itu bagian dari iman.” (Bukhari dan Muslim)
Namun perlu diingat, energi yang menular bukan hanya yang baik. Yang buruk pun menular. Kebiasaan mengeluh, meremehkan ibadah, bergosip, bahkan rasa malas dapat menular jika kita larut dalam lingkungan yang salah.
Karena itu, Islam juga mengajarkan seleksi lingkungan. Jika kita ingin iman meningkat, maka dekatilah orang-orang yang membuat kita ingat Allah.
Allah ﷻ berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ …
“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya…” (Al-Kahfi: 28)
Jika kita bertemu orang yang baik, jangan hanya kagum. Jadikan itu pelajaran. Tiru perlahan. Mulai dari hal kecil: senyum, salam, menjaga ucapan, dan salat tepat waktu. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit.” (Bukhari dan Muslim)
Pada akhirnya, ketika kita merasakan betapa energi baik itu menular, jangan lupa untuk menjadi sumbernya. Jadilah orang yang kehadirannya menenangkan, ucapannya menyejukkan, dan kepergiannya meninggalkan kebaikan.
Sebab seorang mukmin adalah pembawa rahmat, bukan kerusakan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












