Cerpen

Perkara Dianggap Selesai

95
×

Perkara Dianggap Selesai

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seorang penjaga sekolah memberi kesaksian atas keracunan massal yang kemudian dinyatakan selesai—setelah itu, ia tidak pernah terdengar lagi.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Ruang pemeriksaan itu pengap. Bau kertas tua bercampur keringat cemas menempel di dinding. Kipas di langit-langit berputar lambat, seperti enggan mengusir apa pun.

Rahman duduk membungkuk. Topi lusuhnya diremas di pangkuan. Ia mantan penjaga SMA Puspa Bangsa. Di depannya, seorang penyelidik membuka berkas tanpa menatap wajahnya.

Baca cerpen lainnya: Batas Persahabatan yang Tidak Terucap

“Mulai dari awal,” kata penyelidik.

Rahman mengangguk pelan.

Ia mengingat rutinitas yang dulu terasa sederhana. Setiap siang, kotak makan datang dari Dapur Sejahtera Melati. Mobil kecil berhenti di depan gerbang. Uap nasi masih hangat saat tutup kotak dibuka.

Anak-anak berbaris. Ada yang bercanda, ada yang tidak sabar.
“Pak, hari ini ayam lagi?” tanya seorang siswa sambil tersenyum.

Rahman biasanya hanya mengangguk. Ia membantu mengangkat dus, menyusunnya di meja panjang. Dari dapur itu, ia pernah melihat sendiri para ibu bekerja sejak subuh—tangan mereka cekatan, air mengalir di ember, sayur dipotong rapi. Panci ditutup kain bersih.

Semuanya terasa wajar. Teratur. Aman.

Hingga pagi berkabut di awal Desember.

Tiga mobil hitam berhenti di depan gerbang. Mesin masih menyala saat pintu terbuka. Seorang lelaki turun—jas rapi, langkah tenang, mata menyapu halaman seperti sedang menilai sesuatu.

Baca Juga:  10 Target Pendidikan Ramadan agar Takwa Tak Sekadar Wacana

Darma Wijaya.

Rahman mengenalnya dari baliho besar di pinggir jalan.

Dua aparat mengikuti dari belakang.

Mereka masuk ke ruang kepala sekolah. Pintu ditutup rapat. Dari pos jaga, Rahman melihat bayangan bergerak di balik kaca buram—seseorang berdiri, seseorang lain duduk, tangan yang sesekali terangkat.

Suara tidak jelas. Hanya nada yang naik turun, seperti percakapan yang tidak memberi ruang bantahan.

Ketika pintu terbuka, kepala sekolah keluar lebih dulu. Senyumnya kaku. Keningnya basah.

“Semua baik-baik saja, Pak?” tanya Rahman ragu.

Kepala sekolah hanya mengangguk cepat. “Lanjutkan kerja saja.”

Sore itu, papan pengumuman diganti.

Kerja sama dialihkan ke Dapur Pangan Sentosa.

Guru-guru membaca tanpa suara. Seseorang berdeham, lalu diam lagi. Tidak ada yang bertanya.

Malamnya, Rahman mendengar bisik-bisik di ruang guru.

“Kalau menolak, bisa dipindah,” kata seseorang pelan.
“Katanya sudah ada laporan siap naik,” sahut yang lain.

Nama Darma disebut tanpa benar-benar diucapkan.

Hari pertama distribusi dari dapur baru, truk besar datang dari arah pabrik tua di ujung jalan. Catnya mengelupas. Pintu bak dibuka dengan bunyi berderit.

Kotak makan tampak sama. Tetapi ketika Rahman mengangkatnya, ia mencium bau yang tidak biasa—sedikit asam, seperti nasi yang terlalu lama tertutup.

Baca Juga:  Batas Persahabatan yang Tidak Terucap

Ia berhenti sejenak.

“Cepat, Pak,” kata sopir singkat.

Rahman mengangguk. Ia tetap membawa kotak itu masuk.

Hari ketiga, beberapa siswa mengeluh pusing.

Hari keempat, semuanya pecah.

Seorang anak tiba-tiba muntah di depan kelas. Kursi bergeser keras. Guru berteriak memanggil nama. Dalam hitungan menit, satu per satu siswa mulai lemas.

Halaman sekolah berubah gaduh.

“Baringkan di sini!”
“Ambulans sudah di jalan!”

Rahman berlari, mengangkat tubuh kecil yang panas dan gemetar. Bau muntah bercampur nasi basi menusuk hidung. Tangan anak-anak mencengkeram bajunya.

“Pak… pusing…” bisik seorang siswa.

Rahman tidak menjawab. Ia hanya berlari.

Sirene datang terlambat dan terlalu banyak.

Malam itu, berita menyebar. Ratusan siswa keracunan.

Keesokan harinya, pejabat berdatangan. Kamera menyala. Pernyataan dibacakan dengan suara tenang.

“Kelalaian teknis dalam distribusi.”

Rahman berdiri di belakang kerumunan. Ia mendengar kalimat itu seperti sesuatu yang tidak selesai.

Beberapa hari kemudian, ia teringat sesuatu.

Malam sebelum kejadian, Darma pernah datang sendirian. Di pos jaga, Rahman mendengar suaranya dari telepon.

“Tenang saja. Semua sudah diatur. Dapur itu aman.”

Nada suaranya ringan. Terlalu ringan.

Kalimat itu tidak pergi dari kepala Rahman.

Ia mulai bertanya pada warga sekitar pabrik. Jawabannya tidak pernah utuh, tapi cukup untuk membuatnya mengerti: bahan murah, penyimpanan sembarangan, pengawasan hanya di atas kertas.

Baca Juga:  Surat Keterangan Miskin yang Terlambat

Malam-malamnya menjadi panjang.

Rahman duduk di pos jaga, memandangi gerbang. Ia mengingat wajah-wajah anak yang diangkatnya ke ambulans. Tangan kecil yang menggenggam bajunya.

Ia tahu ia diam terlalu lama.

Akhirnya, ia datang ke kantor penyelidik.

Di ruang pengap itu, ia menceritakan semuanya. Nama disebut. Tempat dijelaskan. Waktu diingat satu per satu.

Penyelidik mencatat tanpa ekspresi.

“Cukup,” katanya.

Rahman menandatangani berkas. Tangannya sedikit gemetar. Saat keluar, dadanya terasa ringan, seolah sesuatu akhirnya dilepas.

Namun, beberapa minggu kemudian, kasus itu meredup.

Pengumuman keluar singkat.

Penyebab: kelalaian distribusi.
Tidak ada tekanan. Tidak ada nama.

Seolah tidak pernah ada.

Suatu malam, Rahman menerima paket bantuan. Kotaknya rapi, berlabel program gizi. Ia duduk di lantai, membuka tutupnya perlahan.

Aromanya biasa saja.

Ia makan dalam diam.

Keesokan paginya, Rahman ditemukan tak bernyawa di kamar kontrakannya.

Penyebab: keracunan makanan.

Kasus ditutup cepat.

Beberapa hari setelah pemakamannya, sebuah koran lokal memuat berita kecil di halaman belakang. Seorang saksi kunci meninggal dunia karena sebab serupa.

Tidak ada lanjutan.

Tidak ada pertanyaan.

Di ruang arsip kantor penyelidik, berkas kesaksian Rahman tersimpan rapi.

Di pojok halaman terakhir, dengan tinta biru, seseorang menulis:

Saksi wafat.
Perkara dianggap selesai. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…