Telaah

Terima Kasih Ya Allah untuk Napas Pagi Ini

149
×

Terima Kasih Ya Allah untuk Napas Pagi Ini

Sebarkan artikel ini
Terima kasih
Terima kasih Ya Allah untuk napas pagi Ini

Terima kasih setiap bangun pagi masih bernapas berarti menyadari bahwa hidup adalah pemberian, dan Allah masih mengizinkan melanjutkan hari ini.

Oleh Ridwan Ma’ruf, Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf  PDM Sidoarjo (2022-2027), Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, dan Spiritual Parenting Islam Sidoarjo.

Tagar.co – Bentuk syukur mendalam atas nikmat kehidupan, kesehatan, dan kesempatan yang masih diberikan Allah Swt untuk memulai hari. Ini merupakan pengakuan tulus bahwa hidup adalah karunia dan doa agar hari tersebut dilalui dengan penuh berkah.

Menyadari bahwa kemampuan untuk bernapas dan bangun tidur adalah anugerah terbesar. Mengawali hari dengan damai dan optimisme bahwa masih ada kesempatan untuk berbuat baik atau memperbaiki diri.

Maksudnya, Allah Ta’ala tidak segera menghukum hambaNya saat melupakanNya dan berbuat  dosa, namun Dia begitu sabar, dan lembut menunggu hambaNya agar sadar, serta meminta ampunanNya  atas perbuatan salah dan dosanya.

Nabi Saw bersabda

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat. (Hadis hasan riwayat Ahmad dan Tirmidzi)

Taubat adalah sumber ketenangan dan  kebahagiaan hidup serta menjadi sebab keridaan Allah Ta’ala. Cara berterima kasih kepada Allah yang utama adalah dengan mengakui dalam hati bahwa semua nikmat berasal dariNya. Mengucapkan alhamdulillah, dan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan, seperti beribadah dan bersedekah.

Baca Juga:  Bolehkah Wanita Haid Membaca Al-Qur’an di HP?

Bersyukur juga mencakup menjaga lisan, rendah hati, serta tidak menggunakan nikmat untuk bermaksiat.

Cara Terima Kasih

Berikut adalah cara berterima kasih kepada Allah.

Pertama, Qanaah (Merasa Cukup)

Menerima apa yang diberikan Allah dengan hati yang lapang dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.

Sifat ini berfokus pada syukur, menjauhkan dari sifat tamak, dengki, dan menciptakan ketenangan batin. Dunia ada di genggaman, bukan dalam hati.

Qanaah bukan pasrah tanpa usaha, melainkan kombinasi ikhtiar (usaha) maksimal dan rida pada hasil. Qanaah adalah bentuk rida terhadap aturan Allah dan meyakini bahwa apa yang diberikan adalah yang terbaik. Ini adalah perwujudan dari sifat sabar dan syukur yang tinggi.

Nabi Saw bersabda :,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya, merasa puas, yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat. (Hadis sahih –  Bukhari dan Muslim)

Baca Juga:  Salat Tarawih 13 Rakaat

Manusia cenderung bersemangat mengumpulkan harta, bahkan setelah memiliki harta banyak, namun  keinginan untuk menambah tetap ada. Dunia tidak akan pernah memuaskan hasrat manusia, kecuali kematian datang.

Kedua, Menggunakan Nikmat di Jalan Allah.

Tidak menggunakan nikmat yang diberikan untuk hal-hal yang dilarang (maksiat). Menggunakan nikmat di jalan Allah (fii sabilillah) berarti memanfaatkan segala pemberian Allah. Berupa harta, kesehatan, waktu luang, ilmu, maupun kedudukan. Sesuai dengan keridaanNya dan untuk tujuan kebajikan.

Menggunakan jabatan atau kemampuan untuk menolong orang lain, menegakkan keadilan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Ini wujud syukur hakiki yang menggabungkan pengakuan hati, ucapan, dan tindakan nyata.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Ad-Duha ayat 11.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu ceritakan (tampakan)

Ayat ini mengandung makna , dibolehkan seseorang untuk  menunjukkan  atau menampakkan nikmat yang diterima dalam bentuk syukur, seperti berpenampilan rapi dan tidak kikir, tanpa berniat menyombongkan diri atau menganggap rendah orang lain. Karena jika hal itu dilakukan karena sombong, maka perbuatan tersebut termasuk perbuatan tercela.

Ketiga, Hidup Sederhana

Hidup sederhana artinya tidak memaksakan diri membeli barang di luar kemampuan. Tidak bergaya hidup konsumtif. Sifat ini membawa ketenangan jiwa dan kekayaan hati karena fokus pada apa yang dimiliki, bukan pada apa yang belum diraih.

Baca Juga:  Khusyuk dan Syukur di Masjid Al-Asy'ari Wonorejo

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 23.

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ayat ini mengandung makna, bahwa Allah  akan menghukum setiap orang yang sombong atas apa yang didapatkannya dengan memamerkan harta dan ketenarannya kepada manusia.

Ayat ini juga terkandung pelajaran yang mendalam. Mengajarkan kepada setiap muslim perlunya bersikap zuhud, qanaah (merasa cukup), dan sabar dalam menyikapi takdir.

Napas adalah nikmat yang sering dilupakan karena terjadi secara otomatis. Bersyukur atas napas pagi berarti menyadari bahwa hidup adalah pemberian, dan Allah masih mengizinkan kita untuk bernyawa hari ini.

Sedangkan waktu di pagi hari melambangkan harapan baru. Syukur juga bisa  berarti mendayagunakan  kesempatan untuk memperbaiki diri, beribadah, dan berbuat kebaikan yang mungkin terlewatkan kemarin. Wallaahu ’alamu bishshawwab. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto