
Dalam gelaran Akademi Marbot Muhammadiyah, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung Dr. Aji Damanuri mendorong transformasi masjid agar tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat yang berdampak luas.
Tagar.co — Upaya mengembalikan fungsi strategis masjid sebagai pusat pemberdayaan umat kembali ditegaskan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui penyelenggaraan Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah.
Kegiatan yang digagas oleh Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pemberdayaan Masjid (LPCRPM) PP Muhammadiyah ini memasuki batch kedua untuk wilayah Jawa Timur, dan kali ini digelar di Masjid Al-Fattah Tulungagung.
Sebanyak 15 masjid dari berbagai daerah di Jawa Timur turut ambil bagian dalam program ini. Masing-masing masjid mengirimkan lima orang perwakilan yang terdiri atas marbot, takmir, dan kader penggerak masjid. Total peserta mencapai 75 orang.
Masjid: Dari Simbol Ibadah ke Infrastruktur Peradaban
Dalam sesi hari kedua Sabtu (2/6/26), panitia menghadirkan Dr. Aji Damanuri, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Tulungagung. Ia membawakan tema “Pemberdayaan Umat Berbasis Masjid” dengan gaya khasnya: kritis, sistematis, namun tetap membumi.
Dalam pemaparannya, Aji Damanuri memulai dengan satu tesis penting: krisis umat hari ini bukan karena kekurangan masjid, melainkan karena hilangnya fungsi masjid.
“Masjid kita megah, tetapi umatnya lemah. Ini bukan soal bangunan, ini soal fungsi,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa secara historis, masjid pada era Nabi bukan hanya tempat ritual, tetapi juga pusat peradaban. Masjid menjadi ruang spiritual, sosial, politik, bahkan ekonomi. Di sanalah keputusan strategis umat diambil, konflik diselesaikan, dan kesejahteraan dirancang.
Namun, dalam realitas kekinian, fungsi masjid mengalami penyempitan. Masjid kerap direduksi menjadi sekadar ruang ibadah mahdhah: salat, zikir, dan pengajian. Sementara itu, fungsi sosial-ekonomi yang dahulu menjadi denyut kehidupan umat justru terpinggirkan.
Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam materi yang dia sampaikan, masjid sejatinya memiliki spektrum fungsi yang luas: sebagai pusat spiritual, pusat edukasi, pusat pemberdayaan sosial, hingga pusat ekonomi umat.
Akar Masalah: Mindset, Sistem, dan Jejaring
Lebih lanjut, Aji mengurai secara tajam akar persoalan yang menyebabkan stagnasi fungsi masjid. Ia merumuskannya dalam tiga problem utama: mindset, sistem, dan jejaring.
Pertama, mindset yang sempit. Banyak takmir masih memandang masjid sebagai wilayah sakral yang tidak boleh “dikotori” oleh urusan dunia, termasuk ekonomi. Akibatnya, berbagai inovasi sering kali ditolak dengan alasan menjaga kesucian.
“Kita terlalu takut memuliakan masjid dengan cara yang salah, akhirnya justru mematikan potensinya,” ujarnya reflektif.
Kedua, sistem yang lemah. Banyak masjid dikelola secara tradisional tanpa perencanaan strategis, indikator kinerja, maupun evaluasi yang terukur. Pengelolaan berjalan apa adanya dan bergantung pada individu, bukan sistem.
Ketiga, jejaring yang terbatas. Masjid sering berjalan sendiri tanpa kolaborasi dengan pihak lain, baik lembaga ekonomi, pemerintah, maupun komunitas masyarakat. Padahal, dalam era network society, kekuatan justru terletak pada kolaborasi.
Masjid sebagai Pusat Ekonomi Sirkular
Salah satu gagasan kunci yang dia angkat adalah konsep ekonomi sirkular berbasis masjid: dari jemaah, oleh jemaah, dan untuk jemaah.
Dalam skema ini, masjid tidak hanya menjadi tempat konsumsi spiritual, tetapi juga pusat produksi dan distribusi ekonomi. Jemaah didorong untuk bertransaksi di lingkungan masjid, membangun usaha bersama, serta mengelola dana secara produktif.
Aji mencontohkan bagaimana halaman masjid dapat difungsikan sebagai ruang ekonomi—tempat tumbuhnya usaha mikro, bazar jemaah, hingga koperasi syariah. Sementara teras masjid menjadi ruang interaksi sosial dan advokasi umat, dan ruang utama tetap menjadi pusat spiritualitas.
“Masjid itu harus hidup 24 jam, bukan hanya saat azan berkumandang,” tegas Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo ini.
Tiga Pilar Transformasi: Trust, System, Network
Untuk menjawab problem yang ada, Aji menawarkan tiga pilar transformasi masjid.
Pertama, trust (kepercayaan sosial). Tanpa kepercayaan, jemaah tidak akan terlibat. Oleh karena itu, transparansi pengelolaan, akuntabilitas keuangan, dan integritas pengurus menjadi kunci utama.
Kedua, system (sistem yang kuat). Masjid harus dikelola secara profesional melalui perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga peningkatan berkelanjutan. Pendekatan manajerial seperti PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, Peningkatan) perlu diterapkan.
Ketiga, network (jejaring yang luas). Masjid tidak boleh eksklusif. Ia harus terbuka terhadap kolaborasi dengan berbagai pihak: lembaga zakat, koperasi, pemerintah daerah, hingga sektor swasta.
“Masjid yang besar bukan yang bangunannya luas, tetapi yang jejaringnya kuat,” ungkapnya.
Marbot sebagai Agen Perubahan
Dalam konteks ini, peran marbot mengalami redefinisi. Marbot bukan lagi sekadar penjaga kebersihan atau penanggung jawab teknis, tetapi menjadi agen perubahan (agent of change) dalam pemberdayaan umat.
Akademi Marbot Muhammadiyah hadir untuk membekali para marbot dengan kapasitas spiritual, intelektual, dan sosial. Mereka didorong memiliki visi besar tentang masjid serta keberanian untuk melakukan inovasi.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari strategi besar Muhammadiyah dalam memperkuat basis akar rumput (grassroots) melalui cabang dan ranting.
Menyalakan Kembali Cahaya Masjid
Di akhir sesi, Aji Damanuri menutup dengan refleksi yang menggugah: bahwa perjuangan memakmurkan masjid sejatinya merupakan bagian dari misi besar membebaskan umat dari kegelapan menuju cahaya—min az-zulumat ila an-nur.
Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat bangkit.
Aji tidak hanya menyampaikan materi secara monolog, tetapi juga mengajak diskusi terkait problem masjid dan meminta peserta merancang satu kegiatan pemberdayaan yang akan dilakukan setelah pulang dari Akademi Marbot.
Setiap masjid duduk berkelompok, mendiskusikan programnya, memaparkannya di hadapan peserta lain, serta memperoleh masukan, saran, dan kritik.
Dengan cara ini, para peserta pulang dengan membawa program yang siap dilaksanakan.
Dalam suasana dialogis, Akademi Marbot Muhammadiyah di Tulungagung ini menjadi bukti bahwa gerakan Islam tidak boleh berhenti pada retorika, tetapi harus menjelma dalam sistem, gerakan, dan aksi nyata. Dari masjid, perubahan itu dimulai. Dari marbot, peradaban itu dibangun. (#)
Jurnalis Muhammad Khoirun Nizam Penyunting Mohammad Nurfatoni












