
Riwayat tentang Nabi Saw. yang bersujud di tanah berlumpur membuka perspektif baru: Lailatulqadar bukan sekadar fenomena langit, tetapi pengalaman spiritual yang lahir dari kesungguhan ibadah.
Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Tagar.co – Banyak di antara kita membayangkan Lailatulqadar sebagai malam yang sunyi, langit cerah, udara sejuk, dan suasana yang tenang. Seolah-olah malam penuh kemuliaan itu datang bersama kondisi yang serba ideal.
Namun sebuah peristiwa dalam kehidupan Rasulullah Saw. justru memberikan gambaran yang sangat berbeda.
Baca juga: Masjid sebagai Bank Amal: Aksi Muhammadiyah Mengembalikan Rumah Ibadah ke Jantung Umat
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri, dikisahkan bahwa pada salah satu malam di sepuluh hari terakhir Ramadan, Rasulullah Saw. bersama para sahabat melaksanakan salat malam di Masjid Nabawi.
Malam itu hujan turun sangat deras. Masjid Nabawi pada masa itu sangat sederhana: dindingnya dari batu yang direkatkan tanah liat, lantainya masih berupa tanah, dan atapnya hanya dari pelepah daun kurma. Ketika hujan turun, air menetes dari atap, bahkan sebagian tanah dinding yang bercampur lumpur ikut meleleh ke lantai masjid.
Namun yang terjadi sungguh luar biasa. Tidak ada sahabat yang mundur. Tidak ada yang pulang. Rasulullah Saw. tetap memimpin salat malam hingga menjelang subuh. Para sahabat tetap berdiri, rukuk, dan sujud di tengah lantai tanah yang mulai bercampur air. Hingga akhirnya, setelah salat Subuh selesai, mereka keluar dari masjid dengan pakaian dan tubuh yang penuh percikan lumpur.
Dalam riwayat tersebut, Abu Sa’id al-Khudri berkata bahwa ia melihat bekas air dan tanah di dahi serta hidung Rasulullah Saw. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, sehingga kedudukannya sangat kuat dalam tradisi hadis.
Esensi Lailatulqadar
Menariknya, Rasulullah Saw. tidak pernah menyatakan secara eksplisit bahwa malam hujan itu adalah Lailatulqadar. Namun dari peristiwa tersebut kita dapat mengambil pelajaran yang sangat dalam tentang makna ibadah, iktikaf, dan pencarian malam kemuliaan itu sendiri.
Pertama, ibadah sejati menuntut tekad yang kuat. Rasulullah Saw. dan para sahabat tidak menghentikan salat hanya karena hujan deras. Mereka tidak menjadikan ketidaknyamanan sebagai alasan untuk mengurangi kesungguhan.
Justru di tengah kondisi yang sulit itulah kualitas penghambaan mereka terlihat nyata. Ibadah bukan sekadar ritual yang dilakukan ketika kondisi nyaman, tetapi sebuah komitmen spiritual yang tetap dijalankan meski ada kesulitan.
Kedua, peristiwa itu mengandung simbol yang sangat indah tentang hakikat kehidupan manusia. Rasulullah Saw. bersujud di tanah yang bercampur air. Tanah mengingatkan kita pada asal penciptaan manusia.
Allah berfirman bahwa manusia diciptakan dari tanah dan pada akhirnya akan kembali ke tanah. Sementara air adalah sumber kehidupan. Al-Qur’an menegaskan bahwa dari air Allah menjadikan segala sesuatu yang hidup.
Ketika sujud Rasulullah Saw. menyentuh tanah yang basah oleh air hujan, seolah-olah seluruh simbol kosmik kehidupan itu hadir dalam satu momen: manusia dari tanah, kehidupan dari air, dan penghambaan kepada Allah dalam sujud.
Air hujan yang membasahi masjid bukanlah bencana, melainkan berkah. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, hujan disebut sebagai rahmat yang menghidupkan bumi setelah mati. Maka lumpur yang menempel di dahi Nabi Saw. bukan sekadar kotoran, tetapi simbol kerendahan hati seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.
Dari sini kita dapat memahami bahwa esensi Lailatulqadar tidak semata-mata terletak pada kapan malam itu datang, tetapi pada apa yang kita lakukan ketika kesempatan ibadah itu hadir. Lailatulqadar adalah malam kemuliaan, tetapi kemuliaannya hanya bermakna jika manusia mengisinya dengan amal.
Bayangkan jika seseorang mengetahui secara pasti kapan Lailatulqadar turun, tetapi ia tidak melakukan apa-apa. Tidak ada salat malam, tidak ada zikir, tidak ada tilawah, tidak ada sedekah. Maka pengetahuan tentang malam itu tidak memberikan manfaat apa pun. Kemuliaan Lailatulqadar justru terletak pada amal yang dilakukan manusia.
Pencapaian Personal
Karena itu para ulama sering mengatakan bahwa pengalaman Lailatulqadar bersifat spiritual dan personal. Ia tidak selalu hadir sebagai fenomena yang dapat diukur secara lahiriah. Bagi sebagian orang, ia hadir sebagai ketenangan hati. Bagi yang lain, ia hadir sebagai kesadaran mendalam tentang makna hidup. Ada pula yang merasakannya sebagai momentum perubahan batin yang besar.
Dalam perspektif ini, Lailatulqadar bukan sekadar malam yang dicari secara astronomis, tetapi sebuah pengalaman spiritual yang lahir dari kesungguhan ibadah.
Rasulullah Saw. sendiri memberikan teladan tentang kesungguhan ini. Dalam riwayat Aisyah disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah Saw. “menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” Hadis ini juga diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim
Ungkapan “mengencangkan ikat pinggang” dipahami oleh para ulama sebagai simbol kesungguhan total dalam ibadah. Rasulullah Saw. mengurangi aktivitas duniawi dan memusatkan seluruh energi spiritualnya pada ibadah di sepuluh malam terakhir. Termasuk meninggalkan hubungan suami istri meski tidak dilarang.
Menariknya, Rasulullah Saw. juga pernah melakukan iktikaf sejak sepuluh hari pertama Ramadan, kemudian sepuluh hari pertengahan, hingga akhirnya beliau menegaskan bahwa Lailatulqadar dicari pada sepuluh malam terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pencarian malam kemuliaan itu bukan proses instan, melainkan perjalanan spiritual yang bertahap.
Ujian Lonsistensi Spiritual
Namun jika kita melihat realitas umat Islam hari ini, sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Semangat ibadah sangat tinggi di awal Ramadan, tetapi perlahan menurun ketika Ramadan mendekati akhir. Masjid yang semula ramai mulai sepi. Sebaliknya, pusat perbelanjaan, pasar, dan mal justru semakin ramai.
Energi umat berpindah dari masjid ke pusat konsumsi. Malam-malam terakhir Ramadan yang seharusnya menjadi puncak spiritualitas justru berubah menjadi puncak kesibukan duniawi. Persiapan pakaian baru, makanan lebaran, dan berbagai kebutuhan tradisi sering kali menyita perhatian lebih besar daripada ibadah.
Mungkin di sinilah salah satu hikmah mengapa Rasulullah Saw. sangat menekankan pencarian Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir. Bukan hanya karena kemungkinan turunnya malam itu berada pada waktu tersebut, tetapi juga karena secara psikologis manusia cenderung melemah semangatnya di penghujung perjalanan.
Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah ujian konsistensi spiritual. Ia menguji apakah seseorang benar-benar mencari kedekatan dengan Allah atau hanya mengikuti euforia awal Ramadan.
Beribadah Sepenuh Hati
Kembali pada peristiwa hujan di Masjid Nabawi itu, kita menemukan sebuah pelajaran yang sangat indah. Rasulullah Saw. dan para sahabat tidak sibuk memperdebatkan apakah malam itu Lailatulqadar atau bukan. Mereka tidak berhenti salat untuk mengamati tanda-tanda kosmik di langit.
Mereka hanya melakukan satu hal: beribadah dengan sepenuh hati.
Hujan turun, atap bocor, tanah menjadi lumpur, tetapi ibadah tetap berjalan. Sujud tetap dilakukan. Zikir tetap dilantunkan. Hingga akhirnya fajar menyingsing dan mereka keluar dari masjid dengan wajah penuh lumpur, tetapi hati penuh cahaya.
Mungkin inilah metafora paling indah tentang Lailatulqadar.
Bahwa kemuliaan malam itu tidak selalu hadir dalam cahaya langit yang spektakuler, tetapi justru dalam ketulusan manusia yang bersujud di tanah.
Dan mungkin pula, bagi siapa saja yang menghidupkan malam dengan ibadah, memperbanyak zikir, salat, sedekah, iktikaf, dan tilawah Al-Qur’an, maka setiap malam bisa menjadi malam yang penuh kemuliaan.
Karena pada akhirnya, Lailatulqadar bukan hanya tentang malam yang turun dari langit, tetapi tentang hati yang naik mendekat kepada Allah. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












