Cerpen

Azan Terakhir Pak Sam

103
×

Azan Terakhir Pak Sam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seorang pengusaha yang menemukan hidayah lewat azan di negeri jauh memilih meninggalkan segalanya. Hidup sederhana sebagai muazin membawanya pada sebuah akhir yang menggetarkan.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Pagi di Kabupaten Rempah selalu dimulai dengan langkah pelan seorang pria paruh baya yang mendorong gerobak kayu berwarna biru. Namanya Pak Samuel, tetapi orang-orang lebih akrab memanggilnya Pak Sam.

Usianya lima puluh tujuh tahun. Rambutnya mulai memutih, tetapi sorot matanya tetap teduh.

Baca juga: Rahasia Manis Sumi Cake

Setiap hari, tepat pukul 07.30, Pak Sam keluar dari kamar kosnya yang kecil di Desa Kemiri. Kamar itu hanya berukuran dua kali tiga meter, cukup untuk sebuah kasur tipis, rak pakaian sederhana, dan sebuah mushaf Al-Qur’an yang selalu ia letakkan di dekat bantal.

Gerobak birunya ia dorong perlahan. Jaraknya hanya sekitar empat ratus meter menuju Masjid Al Jannah, tetapi langkah Pak Sam tidak pernah tergesa. Ia berjalan pelan, sesekali berhenti sejenak untuk menarik napas.

Butuh waktu sekitar dua puluh lima menit sampai ia tiba di tempat mangkalnya, tepat di seberang masjid.

Namun sebelum membuka dagangan, ada satu kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan.

Pak Sam membuka tas selempang kulit cokelat tuanya, lalu mengeluarkan sehelai sarung.

Setiap hari sarungnya berbeda.

Ia masuk ke masjid, mengganti celananya dengan sarung itu, lalu duduk sejenak di sudut ruangan. Kadang ia memejamkan mata. Kadang hanya memandang mihrab dengan tenang.

Bagi Pak Sam, masjid bukan sekadar tempat ibadah.

Masjid adalah rumah yang menyelamatkan hidupnya.

Tiga tahun lalu hidup Pak Sam sangat berbeda.

Saat itu ia seorang pengusaha yang cukup sukses. Ia sering bepergian ke luar negeri untuk urusan dagang. Hidupnya mapan. Rumah besar, mobil mewah, dan keluarga terpandang.

Sampai suatu siang di Cape Town, Afrika Selatan, segalanya berubah.

Hari itu ia makan siang di sebuah restoran bernama Marco’s African Place. Ketika sedang menunggu pesanan, tiba-tiba terdengar alunan azan dari kejauhan.

Baca Juga:  Menjaga Jalan Pulang

Suara itu datang dari Masjid Auwal, masjid tertua di kota itu.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Pak Sam membeku.

Ia tidak mengerti mengapa, tetapi bulu kuduknya berdiri. Tubuhnya terasa ringan, seperti ada sesuatu yang menyentuh bagian terdalam hatinya.

Saat muazin mengucapkan,

“Asyhadu allaa ilaaha illallah…”

Air mata Pak Sam tiba-tiba mengalir.

Ia bahkan tidak tahu mengapa ia menangis.

Ia hanya duduk terdiam sampai azan selesai.

Sejak saat itu, suara azan itu terus terngiang di kepalanya.

Sekembalinya ke Indonesia, kegelisahan itu tidak hilang.

Suara azan yang ia dengar di Cape Town terus teringat. Bahkan kadang ia terbangun di malam hari dengan perasaan aneh yang sulit ia jelaskan.

Akhirnya ia menceritakan semuanya kepada seorang relasi bisnisnya, Pak Muammar.

Pak Muammar mendengarkan dengan tenang.

Lalu ia tersenyum.

“Kalau hati sudah dipanggil, jangan dilawan,” katanya lembut.

Pak Sam menatapnya bingung.

“Maksud Bapak?”

“Datang saja ke Masjid Munawar,” kata Pak Muammar. “Temui Imamnya. Namanya Ustaz Akhyar.”

Di masjid kecil itulah Pak Sam mulai belajar.

Suatu malam ia bertanya dengan ragu,

“Ustaz… kenapa Tuhan harus satu?”

Ustaz Akhyar tersenyum.

“Karena jika lebih dari satu, dunia ini sudah lama kacau.”

Pak Sam terdiam.

Malam demi malam ia datang ke masjid itu.

Ia belajar tentang tauhid.

Belajar tentang salat.

Belajar tentang makna hidup.

Dan pada hari ketujuh, dengan suara bergetar, ia mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Ustaz Akhyar.

Hari itu hidup Pak Sam berubah selamanya.

Namun hidayah sering datang bersama ujian.

Ketika keluarga Pak Sam mengetahui keputusannya, rumah yang dulu hangat tiba-tiba berubah tegang.

Istrinya menangis.

“Kenapa harus agama itu?” katanya dengan suara patah.

Anaknya marah.

“Papa memalukan keluarga!”

Namun yang paling keras adalah mertuanya.

Suatu malam pria tua itu berkata dengan dingin,

Baca Juga:  Azan yang Menghentikan Langkahnya

“Kalau kamu tetap memilih agama itu, jangan pernah kembali ke rumah ini.”

Pak Sam terdiam.

Ia menatap rumah besar yang selama ini ia banggakan.

Mobil mewah di garasi.

Foto keluarga di ruang tamu.

Semua terasa tiba-tiba jauh.

Malam itu Pak Sam tidak tidur.

Ia hanya duduk lama di dekat jendela kamar, memandangi langit.

Akhirnya ia berbisik pelan,

“Jika ini jalan-Mu, aku memilih Engkau, ya Allah.”

Keesokan harinya Pak Sam pergi.

Ia meninggalkan rumah besar, mobil, dan semua kemewahan hidupnya.

Ia hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhnya.

Dengan bantuan Ustaz Akhyar, Pak Sam akhirnya sampai di Kabupaten Rempah.

Di sana ia bertemu Pak Sukrianto, takmir Masjid Al Jannah.

Setelah mendengar kisah hidupnya, Pak Sukri terdiam lama.

Lalu ia berkata pelan,

“Kalau Bapak ingin memulai hidup baru, masjid ini rumah Bapak juga.”

Pak Sukri membantu mencarikan kamar kos kecil untuknya.

Takmir masjid juga patungan membelikan gerobak kayu bekas agar Pak Sam bisa berdagang.

Sejak saat itu kehidupan sederhana Pak Sam dimulai.

Ia menjual kopi, gorengan, minuman hangat, dan nasi bungkus daun pisang.

Kadang jika pelanggan sepi, Pak Sam bersenandung pelan.

Lagu yang sering ia nyanyikan adalah lagu Bimbo.

“Tuhan…
Tempat aku berteduh…”

Suara Pak Sam ternyata merdu.

Suatu hari Pak Sukri berkata padanya,

“Pak Sam, mau mencoba mengumandangkan azan?”

Pak Sam terkejut.

“Saya? Saya baru belajar…”

Pak Sukri tersenyum.

“Tapi hati Bapak sudah lama mengenalnya.”

Tanggal 26 Desember 2025, Pak Sam mengumandangkan azan pertamanya.

Azan Zuhur.

Tangannya gemetar. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Suara itu awalnya bergetar.

Namun saat sampai pada kalimat,

“Asyhadu allaa ilaaha illallah…”

Suara Pak Sam tiba-tiba terhenti.

Tangisnya pecah.

Ia menutup wajahnya beberapa detik.

Masjid menjadi hening.

Setelah menarik napas panjang, ia melanjutkan azan itu sampai selesai.

Baca Juga:  Sebotol Air di Lantai Delapan Belas

Sejak hari itu, Pak Sam menjadi muazin tetap untuk Zuhur dan Asar.

Hidupnya kini sederhana, tetapi damai.

Pagi ia berdagang.

Menjelang Zuhur ia menutup gerobak dan mengumandangkan azan.

Setelah Asar ia pulang ke kos, membeli bahan dagangan, lalu kembali ke masjid untuk membantu membersihkan halaman.

Malamnya ia belajar membaca Al-Qur’an kepada Ustaz Hadi.

Pak Sam sering berkata,

“Saya terlambat mengenal Islam. Tapi saya tidak mau terlambat mencintainya.”

Ramadan 2026 adalah Ramadan pertama dalam hidupnya.

Sejak Januari ia menabung dari hasil jualan agar bisa lebih fokus beribadah di masjid selama Ramadan.

Setiap hari ia membersihkan halaman, kamar mandi, tempat wudu, dan karpet masjid.

Suatu malam di Ramadan ke-17, ia membaca ayat yang membuat hatinya bergetar.

Surah Al-Baqarah ayat 152.

“Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu.”

Pak Sam memegang mushaf itu erat.

Matanya basah.

“Ya Allah… jika Engkau mengingatku saja sudah cukup,” bisiknya.

Hari Ramadan ke-19.

Matahari tepat di atas langit Kabupaten Rempah.

Pak Sam berdiri di depan mikrofon.

Ia menarik napas panjang.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Azan Zuhur itu terdengar lebih merdu dari biasanya.

Jemaah yang sedang berjalan menuju masjid berhenti sejenak. Mereka mendengarkan.

Suara Pak Sam penuh ketenangan.

Saat sampai di kalimat terakhir,

“Lailahaillallah…”

Tubuh Pak Sam tiba-tiba lemas.

Ia jatuh perlahan di atas sajadah.

Mikrofon masih menyala.

Masjid menjadi sunyi.

Beberapa jemaah berlari mendekat.

Namun Pak Sam telah pergi.

Dengan wajah tenang.

Dengan tangan masih menyentuh sajadah.

Seolah Allah benar-benar menepati janji-Nya.

Ia mengingat hamba yang selalu berusaha mengingat-Nya.

Innalillahi wainnailaihi raji‘un.”

Kabupaten Rempah kehilangan seorang muazin.

Namun langit mungkin sedang menyambut seorang hamba yang pulang dengan azan terakhirnya.

Ketika seseorang benar-benar menaruh Allah di dalam hatinya, Allah pun menempatkannya di tempat yang paling mulia. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni