
Seperti padi yang tak pernah menuntut langit, Sartono tetap mengajar di tengah gaji tipis dan masa depan yang tak pasti. Ia tetap berdiri di kelas—menumbuhkan mimpi anak-anak desa.
Cerpen oleh Aji Damanuri
Tagar.co – Pagi selalu datang terlalu cepat bagi Sartono. Subuh belum lama berlalu ketika ia sudah duduk di serambi rumahnya yang berdinding anyaman bambu, secangkir kopi hitam mengepul tipis di tangannya. Udara desa masih menyimpan embun. Suara ayam bersahutan dengan azan yang tersisa di langit.
Baca juga: Putri dari Bayang-Bayang
Di kejauhan, gunung berdiri seperti saksi bisu dari segala yang tak pernah dicatat sejarah—termasuk kisah seorang guru honorer bernama Sartono.
Ia mengajar di sebuah sekolah swasta kecil di pinggiran desa. Bangunannya tak megah. Cat dindingnya terkelupas, atapnya bocor jika hujan turun terlalu lama.
Namun di ruang-ruang kelas sederhana itulah Sartono menanam mimpi-mimpi, seperti petani menanam padi dengan keyakinan bahwa musim panen akan datang—meski ia sendiri belum tentu ikut merasakan hasilnya.
Gajinya tak pernah cukup. Bahkan menyebutnya “cukup” terasa seperti lelucon yang kejam.
Ia sering tersenyum getir ketika menerima amplop tipis di akhir bulan.
“Untuk makan tiga hari,” gumamnya suatu kali pada istrinya, Sulastri.
Selebihnya mereka bertahan dengan kebun kecil di belakang rumah dan sesekali bantuan dari orang tua Sulastri yang juga tak berlebih.
Namun Sartono jarang mengeluh di depan anak-anaknya. Ia punya dua anak yang masih kecil, dan di mata mereka ia adalah pahlawan sungguhan—bukan pahlawan tanpa tanda jasa yang sering menjadi slogan murahan di spanduk Hari Guru, melainkan pahlawan yang membetulkan sepeda rusak, mengajari membaca, dan memeluk ketika malam terasa dingin.
Di sekolah, Sartono berdiri di depan kelas dengan sepatu yang sudah menipis di tumitnya. Ia mengajar Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila.
Baginya, kata-kata adalah jembatan.
Ia percaya, jika seorang anak mencintai kata, ia akan belajar mencintai makna. Dan jika ia mencintai makna, ia tak akan mudah terseret arus kebodohan dan kebencian.
Namun dunia di luar kelas tak selalu ramah pada keyakinan itu.
Suatu hari seorang wali murid datang dengan wajah berang. Anak laki-lakinya mendapat nilai yang tidak memuaskan.
“Saya sudah bayar sekolah ini!” katanya lantang di ruang guru yang sempit. “Kenapa nilai anak saya begini? Bapak ini guru atau apa?”
Sartono berdiri. Dadanya bergetar.
Ia ingin berkata bahwa nilai adalah cermin usaha, bukan barang yang bisa dibeli. Namun di kepalanya terlintas nasib beberapa rekannya yang kehilangan pekerjaan karena dianggap tak mampu “memuaskan pelanggan”.
Ia menelan kata-katanya sendiri.
“Anak Bapak sebenarnya cerdas,” ujarnya pelan. “Tapi ia perlu lebih disiplin. Saya siap membimbingnya.”
Wali murid itu mendengus, lalu pergi tanpa berjabat tangan.
Sartono duduk kembali. Ruang guru tiba-tiba terasa sempit. Ia merasa bersalah karena tak mampu membela harga dirinya sendiri, tetapi juga takut kehilangan pekerjaan yang sudah rapuh sejak awal.
Di mejanya menumpuk administrasi: laporan, perangkat pembelajaran, formulir evaluasi, data daring yang harus diunggah di tengah sinyal yang sering putus.
Kadang ia pulang hampir magrib, bukan karena mengajar, tetapi karena mengurus kertas-kertas yang lebih sering dibaca mesin daripada manusia.
“Pak, kenapa Bapak kelihatan sedih?”
Suara itu datang dari Rina, salah satu muridnya.
Sartono tersenyum. Senyum yang ia latih agar tidak mudah runtuh.
“Tidak, Rina. Bapak hanya capek.”
Rina mengangguk, lalu mengeluarkan selembar kertas.
“Ini puisi yang Bapak suruh buat kemarin.”
Sartono membacanya perlahan. Puisi itu sederhana. Tentang ibunya yang menjual sayur di pasar. Tentang keinginannya menjadi dokter agar bisa mengobati orang-orang desa tanpa biaya mahal.
Di ujung puisi itu ada satu baris yang membuat mata Sartono panas.
“Guru bilang mimpi itu jangan dijual murah.”
Ia menahan napas.
Di hadapan anak-anak itu, ia tak ingin menjadi lelaki yang rapuh. Tetapi dalam hatinya ia tahu: mungkin inilah alasan ia bertahan.
Bukan karena gaji.
Bukan karena status.
Melainkan karena satu kalimat yang tumbuh di hati seorang anak.
Malam-malamnya sering diisi kegelisahan. Ia pernah hampir terjerat pinjaman online ketika anaknya sakit dan membutuhkan biaya berobat. Ia akhirnya meminjam dari koperasi desa dengan bunga kecil, tetapi tetap saja terasa berat.
Kadang ia berpikir untuk berhenti mengajar dan menjadi buruh bangunan di kota. Upahnya mungkin lebih pasti.
Tidak perlu menghadapi tuntutan orang tua murid.
Tidak perlu takut satu kesalahan kecil akan viral dan menghancurkan nama baik.
Namun setiap kali ia membayangkan meninggalkan kelas, ada sesuatu yang menahannya.
Suatu pagi kabar buruk datang.
Seorang guru honorer di kecamatan sebelah dipecat karena menegur murid yang dianggap melanggar disiplin. Ada juga yang diproses hukum karena dianggap melakukan kekerasan, padahal ia hanya mencubit ringan sebagai teguran.
Sartono membaca berita itu dengan tangan gemetar.
Ia menatap ruang kelas yang masih kosong.
Ia bukan malaikat. Ia bisa lelah. Ia bisa marah. Ia bisa khilaf.
Lalu bagaimana jika suatu hari emosinya tak terkendali?
Apakah seluruh pengabdiannya akan dilenyapkan oleh satu kesalahan?
Belum selesai kegelisahan itu, kepala sekolah memanggilnya.
Ada pengurangan jam mengajar karena jumlah murid menurun.
Artinya, honor yang sudah kecil itu akan semakin menyusut.
Sartono pulang dengan langkah berat. Di tepi sawah ia berhenti. Angin menggerakkan padi yang mulai menguning.
Ia duduk di pematang.
“Padi tak pernah menuntut langit,” pikirnya.
Ia tumbuh diam-diam, menerima hujan dan panas tanpa memilih.
Air mata Sartono akhirnya jatuh.
Bukan karena marah.
Tetapi karena lelah.
Malam itu Sulastri menggenggam tangannya.
“Kalau Mas mau berhenti, aku tidak apa-apa. Kita cari jalan lain.”
Sartono menatap istrinya lama.
“Aku takut,” katanya lirih. “Takut tak bisa memberi makan kalian.”
“Mas sudah memberi lebih dari itu,” jawab Sulastri. “Mas sudah memberi ilmu.”
Keesokan harinya Sartono kembali berdiri di depan kelas.
Ia mengajar tentang pidato persuasif.
“Kata-kata bisa mengubah dunia,” katanya kepada murid-muridnya. “Tapi lebih dari itu, kata-kata bisa mengubah hati.”
Seorang murid mengangkat tangan.
“Pak, kenapa Bapak tetap jadi guru padahal capek?”
Sartono terdiam sejenak.
“Karena Bapak percaya,” katanya akhirnya, “kalau satu saja dari kalian berhasil meraih mimpi, semua capek Bapak akan terasa ringan.”
Tahun-tahun berlalu.
Beberapa muridnya melanjutkan sekolah ke kota. Ada yang menjadi perawat. Ada yang membuka usaha kecil. Ada yang kembali ke desa menjadi relawan pengajar.
Setiap kali mereka pulang dan menyapanya dengan senyum bangga, Sartono merasa seperti pohon tua yang tak pernah berpindah tempat, tetapi akarnya memberi kehidupan bagi banyak cabang.
Suatu senja, ketika langit memerah di atas sawah, Sartono berdiri di depan kelas yang kosong.
Ia menyentuh papan tulis yang penuh sisa kapur.
“Ya Allah,” bisiknya pelan, “jika Engkau tak memberiku harta, jangan Kau ambil cintaku pada ilmu.”
Angin sore masuk melalui jendela.
Kertas-kertas di mejanya berdesir pelan.
Sartono tersenyum.
Dan esok pagi, seperti biasa, ia akan kembali berdiri di kelas—menjaga mimpi-mimpi kecil yang tumbuh di mata anak-anak desa.
Meski musim baginya seakan tak pernah benar-benar usai. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












