Cerpen

Rahasia Manis Sumi Cake

70
×

Rahasia Manis Sumi Cake

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurrfatoni

Resepnya tidak berubah. Tapi sejak hati orang-orang di dapur itu berubah, rasanya ikut berbeda.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Pagi di gang kecil Desa Asem Kunir selalu dimulai dengan aroma gula dan mentega yang menguar dari dapur Sumi Cake.

Usaha kue milik Hj. Sumiati itu telah berjalan hampir delapan tahun. Bangunannya sederhana, berdampingan dengan rumah beliau, tetapi dapurnya selalu hidup oleh tawa para pekerja dan suara mixer yang berdengung sejak pagi.

Baca juga: Ladang Kentang dan Pertolongan yang Tak Terduga

Ada dua belas orang yang bekerja di sana. Sebagian besar tetangga sekitar rumah Hj. Sumiati. Ada yang menyiapkan bahan, mengaduk adonan, memanggang kue, menghias, mengemas pesanan, hingga mengantar kue ke toko-toko di kota.

Sejak awal, Hj. Sumiati mengelola usahanya dengan cukup rapi. Di dinding dapur terpampang daftar pekerjaan yang ditulis dengan spidol tebal.

Bagian bahan baku: Rini dan Sari.
Produksi: Pak Darto, Lilis, dan Hendra.
Packing: Wati dan Siska.
Distribusi: Joko.
Outlet: Lina dan Ratna.

Semua orang bekerja sesuai bagian masing-masing.

Pesanan kue datang hampir setiap hari. Untuk ulang tahun, arisan, syukuran, bahkan beberapa toko di kota sudah menjadi pelanggan tetap. Produksi berjalan lancar. Target selalu tercapai.

Namun entah mengapa, Hj. Sumiati sering merasa ada sesuatu yang kurang.

Suatu pagi ia melihat dua karyawan berdiri di dekat bak cuci.

“Ini loyangnya siapa yang cuci?” tanya Siska.

“Bukan bagianku,” jawab yang lain.

“Kalau begitu nanti saja.”

Loyang itu tetap tergeletak di sana sampai siang.

Baca Juga:  Drama Semalam di IGD

Di hari lain, telur di dapur hampir habis karena tidak ada yang mengecek stok. Pernah juga satu pesanan hampir terlambat dikirim karena semua merasa pengiriman bukan tanggung jawab mereka.

Mereka memang bekerja.

Tetapi sekadar bekerja.

Tidak lebih.

Suatu sore bahkan sempat terjadi kegelisahan kecil. Pesanan kue untuk sebuah acara syukuran hampir terlambat keluar dari oven. Semua orang sibuk di bagiannya masing-masing, tetapi tidak ada yang benar-benar melihat keseluruhan pekerjaan.

Untunglah pesanan itu masih sempat selesai.

Malamnya Hj. Sumiati duduk lama di dapur yang sudah sepi. Ia memandangi papan daftar pekerjaan di dinding.

Usaha ini berjalan, pikirnya.
Tetapi rasanya belum benar-benar hidup.

Ramadan tahun 2026 datang membawa suasana berbeda.

Suatu hari Hj. Sumiati mengadakan pengajian kecil di dapur Sumi Cake setelah salat Ashar. Ia mengundang Ustaz Zakaria, seorang ustaz yang sering mengisi pengajian di desa itu.

Para karyawan duduk melingkar di lantai dapur yang telah dibersihkan. Aroma kue yang baru matang masih terasa hangat di udara.

Ustaz Zakaria berbicara dengan suara tenang.

“Saudara-saudaraku,” katanya, “Allah tidak hanya melihat kita ketika salat di masjid. Allah juga melihat bagaimana kita bekerja.”

Beberapa karyawan mengangguk pelan.

“Kadang kita bekerja karena merasa itu hanya tugas,” lanjutnya. “Kalau hanya tugas, yang kita pikirkan biasanya cuma selesai atau tidak.”

Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum.

“Tapi kalau kita memandangnya sebagai amanah, cara kita bekerja akan berbeda.”

Suasana dapur menjadi hening.

“Tempat kerja ini bisa menjadi ladang ibadah,” kata beliau. “Bukan hanya karena hasilnya, tetapi karena niat dan kepedulian kita terhadap pekerjaan itu.”

Baca Juga:  Suara dari Gang Pandan

Ustadz Zakaria lalu menambahkan dengan ringan,

“Anggap saja dapur ini seperti rumah kita sendiri. Kalau rumah sendiri kotor, kita pasti membersihkannya tanpa disuruh.”

Beberapa orang tersenyum.

“Dan kalau ada rezeki dari usaha ini,” lanjutnya, “sisihkan sedikit untuk berbagi. Rezeki yang diberi jalan berbagi biasanya akan diberi jalan kembali.”

Ceramah itu tidak panjang. Tetapi kata-katanya terasa lama tinggal di hati banyak orang.

Malam itu setelah semua pulang, Hj. Sumiati kembali berdiri di depan papan daftar pekerjaan.

Ia mengambil spidol.

Perlahan ia menghapus satu kata yang selama ini tertulis di atas papan.

TUGAS.

Ia menuliskan kata baru di atasnya.

KOMITMEN.

Keesokan paginya para karyawan berkumpul seperti biasa.

Hj. Sumiati menunjuk papan itu.

“Mulai hari ini,” katanya pelan, “kita tidak lagi menyebut pekerjaan di sini sebagai tugas.”

Para karyawan saling menatap.

“Kita menyebutnya komitmen.”

Ia tersenyum.

“Komitmen untuk bekerja dengan baik. Komitmen untuk saling membantu. Komitmen menjaga usaha ini bersama.”

Suasana dapur terasa sedikit berbeda.

Pak Darto mengangguk pelan.
Siska menatap tulisan di papan itu cukup lama.

Perubahan tidak terjadi seketika.

Hari-hari pertama masih sama seperti sebelumnya. Namun perlahan sesuatu mulai berubah.

Suatu pagi Pak Darto melihat loyang-layang kotor menumpuk di dekat bak cuci. Ia meletakkan spatula yang sedang dipegangnya dan mulai mencuci.

“Bukan bagianmu, Pak,” kata Hendra.

Pak Darto tertawa kecil.

“Komitmen, katanya.”

Beberapa orang ikut tersenyum.

Di hari lain ketika stok telur hampir habis, Sari langsung memberi tahu bagian produksi tanpa menunggu diminta. Joko yang biasanya hanya mengurus pengiriman kini sering membantu mengangkat kotak-kotak kue ketika dapur sedang sibuk.

Baca Juga:  Agenda Sunyi di Balik Meja Rapat

Perlahan suasana dapur berubah.

Lebih ringan.

Lebih hidup.

Suatu hari Pak Darto berseloroh sambil mengaduk adonan,

“Kalau kue kita enak, semoga pahala kita juga ikut manis.”

Tawa pun pecah di dapur.

Sejak itu mereka juga membuat sebuah kotak kecil di sudut meja kasir.

Di atasnya tertulis: Sedekah Sumi Cake.

Setiap Jumat mereka menyisihkan sedikit penghasilan. Kadang untuk membantu tetangga yang sakit, kadang untuk anak yatim di desa.

Beberapa bulan kemudian pesanan semakin banyak.

Toko-toko di kota mulai memesan secara rutin. Bahkan ada pelanggan yang berkata,

“Kue Sumi Cake sekarang rasanya beda. Lebih enak.”

Padahal resepnya tidak berubah.

Yang berubah hanyalah hati orang-orang yang membuatnya.

Suatu sore di bulan Ramadan, setelah produksi selesai, Hj. Sumiati berdiri di pintu dapur memandangi para karyawannya yang sedang tertawa sambil merapikan meja kerja.

Dapur kecil itu kini terasa hangat seperti keluarga.

Ia teringat kata-kata Ustaz Zakaria beberapa bulan lalu.

Tugas membuat orang bekerja.

Tetapi komitmen membuat orang peduli.

Hj. Sumiati tersenyum pelan.

Ia akhirnya memahami sesuatu yang dulu hanya ia rasakan samar-samar.

Ketika pekerjaan dilakukan dengan niat ibadah, dengan rasa memiliki, dan dengan hati yang saling menjaga, bukan hanya usaha yang tumbuh.

Persaudaraan juga ikut berkembang.

Dan dari komitmen kecil yang dijaga bersama, lahirlah kebaikan-kebaikan lain yang terus mengalir—seperti aroma kue hangat dari dapur Sumi Cake yang setiap pagi menyebar ke gang kecil Desa Asem Kunir. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni