Cerpen

Ladang Kentang dan Pertolongan yang Tak Terduga

77
×

Ladang Kentang dan Pertolongan yang Tak Terduga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seorang remaja desa berjuang menjual kentang demi obat kakeknya. Di tengah kesulitan, kebaikan kecil yang ia lakukan justru membuka jalan pertolongan tak terduga.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Sahur Ramadan ke-18 di rumah kecil itu berlangsung sederhana, tetapi hangat.

Di dapur kayu yang temaram oleh lampu kuning, Nenek Fatimah sudah bangun sejak pukul tiga dini hari. Tangannya cekatan menyiapkan hidangan kesukaan cucunya.

Di atas meja kayu tersaji sego jagung, sayur kelor hangat, dan sambel ikan klotok. Aromanya menguar pelan memenuhi ruangan.

“Cahyo, ayo sahur dulu, Le,” panggilnya lembut.

Baca cerpen lainnya: Bobby, Anak Istimewa yang Menghadirkan Makna Syukur

Nur Cahyo, remaja enam belas tahun yang duduk di kelas satu SMK Pertanian Wanakusumo, keluar dari kamar dengan rambut sedikit berantakan. Ia tersenyum begitu melihat hidangan di meja.

“Wah… sambel klotok lagi, Nek. Ini yang paling Cahyo suka.”

Nenek Fatimah tertawa kecil.

“Kalau cuma makan enak tapi malas bekerja, nanti sambelnya juga nggak terasa.”

Tak lama kemudian Kakek Firman keluar dari kamar dengan langkah pelan. Tubuhnya memang tak lagi sekuat dulu sejak terserang stroke empat tahun lalu, tetapi semangatnya masih sama.

“Bismillah… kita sahur dulu,” ucapnya.

Mereka makan bersama. Tidak mewah, tetapi penuh rasa syukur.

Selepas salat Subuh berjemaah di Surau Mutmainnah, Cahyo tidak langsung kembali tidur seperti sebagian remaja lain. Ia justru berjalan ke belakang rumah.

Di sana berdiri kandang kecil dari bambu.

Lima ekor ayam kampung berlarian menyambutnya. Dua pasang entok sibuk menjaga delapan anak entok yang masih kecil.

“Pagi, kalian semua,” sapa Cahyo sambil menaburkan pakan.

Baca Juga:  Rahasia Manis Sumi Cake

Kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak kecil. Kakek Firman yang mengajarkannya.

Dulu, ketika Cahyo baru berusia tiga tahun, kakeknya selalu menggandeng tangannya berjalan menuju surau setiap subuh.

“Kalau kita rajin salat dan rajin merawat ternak, hidup kita akan selalu cukup,” kata kakeknya suatu pagi.

Kini Cahyo mulai memahami maksud kalimat itu.

Rumah yang mereka tempati adalah rumah limasan kayu khas Jawa Timuran, peninggalan orang tua Kakek Firman.

Delapan pilar kayu menopang bagian depan rumah, sementara empat pilar lain berdiri kokoh di ruang tengah. Dinding papan tua mengelilinginya, dengan pintu kupu-kupu lebar di bagian depan.

Di kanan kiri pintu terdapat amben panjang tempat mereka sering duduk pada sore hari.

Lantai ubin kuning yang mulai kusam menyimpan banyak kenangan.

Di rumah itulah Cahyo tumbuh sejak kedua orang tuanya berpisah ketika ia masih bayi.

Hari itu hari Ahad.

Cahyo berencana memanen kentang di ladang kecil milik keluarga mereka. Hasil panen itu biasanya dijual untuk membeli kebutuhan rumah sekaligus obat kakeknya.

Menjelang siang, panen selesai. Sebuah keranjang besar berisi hampir tiga puluh kilogram kentang siap dibawa ke kota.

Cahyo berdiri di tepi jalan desa sambil memegang keranjang itu. Ia berharap ada kendaraan yang mau memberinya tumpangan menuju Pasar Asem Rowo.

Namun waktu terus berjalan.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Empat puluh lima menit.

Belum ada kendaraan yang berhenti.

Cahyo mulai merasa lelah.

Tiba-tiba sebuah mobil pick-up hitam berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri. Kap mobil terbuka. Mesin tampak bermasalah.

Tanpa berpikir panjang, Cahyo berlari mendekat.

“Pak, mogok ya?” tanyanya.

Baca Juga:  Nomor Lima yang Sengaja Dikosongkan

“Iya, Nak. Mau coba didorong sedikit,” jawab sopir itu.

Cahyo segera meletakkan keranjang kentangnya lalu membantu mendorong mobil itu. Beberapa kali mereka mencoba.

Akhirnya mesin mobil menyala kembali.

“Alhamdulillah!” seru sopir itu lega.

Ia menatap Cahyo sambil tersenyum.

“Kamu mau ke mana?”

“Ke kota, Pak. Mau jual kentang.”

Sopir itu tertawa kecil.

“Ya sudah, naik saja. Sekalian saya antar. Jalannya searah.”

Cahyo mengucap syukur dalam hati.

Di pasar, Cahyo berhasil menjual sebagian kentangnya.

Tujuh belas kilogram laku terjual.

Ia menerima uang Rp170.000.

Namun masih tersisa sekitar lima belas kilogram kentang di keranjangnya. Hari sudah mulai sore dan pembeli semakin sepi.

Cahyo memutuskan menyimpannya kembali.

Ia kemudian berjalan menuju sebuah apotek kecil untuk membeli obat stroke bagi kakeknya.

Sebelum ke sana, ia berhenti di musala untuk menunaikan salat asar.

Usai berdoa, ia melihat jam di dinding.

15.30.

Ia berjalan ke apotek. Namun pintunya masih tertutup.

Di kaca tertulis:

Buka kembali pukul 15.45

Cahyo duduk di kursi kayu di depan apotek.

Sambil menunggu, pikirannya melayang ke masa kecilnya. Ia teringat bagaimana nenek selalu menungguinya pulang sekolah dengan makanan hangat. Ia juga teringat bagaimana kakek menggendongnya ketika ia sakit.

Kini giliran dirinya yang berusaha merawat mereka.

Tak lama kemudian pintu apotek terbuka.

Seorang perempuan berkacamata keluar dari dalam.

“Maaf ya, Nak. Karyawan saya sedang sakit, jadi saya yang menjaga hari ini,” katanya ramah.

Namanya Halimah, S.Apt., pemilik apotek itu.

Cahyo menyerahkan resep obat.

Beberapa menit kemudian obat itu sudah siap.

“Totalnya Rp370.000, ya.”

Cahyo terdiam.

Tangannya menggenggam uang hasil penjualan kentang tadi.

Baca Juga:  Atma, Ingat Pesan Kunto

Masih jauh dari cukup.

Ia menunduk pelan.

“Maaf, Bu… sepertinya uang saya belum cukup. Saya kembali lagi lain hari.”

Halimah memperhatikan keranjang kentang di samping Cahyo.

“Kentang ini milikmu?”

“Iya, Bu. Sisa panen tadi.”

Halimah tersenyum.

“Kalau begitu, saya beli saja kentangnya.”

Cahyo terkejut.

“Benarkah, Bu?”

“Iya. Saya juga butuh kentang untuk dapur di rumah.”

Ia mengambil semua kentang yang tersisa.

Setelah dihitung, Halimah bahkan masih mengembalikan Rp70.000 kepada Cahyo.

“Ini untuk membeli bibit kentang lagi,” katanya.

Mata Cahyo terasa hangat.

“Terima kasih banyak, Bu…”

Perjalanan pulang terasa jauh lebih ringan.

Ketika Cahyo tiba di rumah, jam menunjukkan pukul 17.17.

Ia segera membersihkan diri.

Di dapur, Nenek Fatimah sudah menyiapkan hidangan berbuka: sayur godhok benguk kentang, tempe goreng, dan tahu hangat.

“Kamu capek, Le?” tanya nenek.

Cahyo tersenyum sambil menunjukkan obat kakeknya.

“Obatnya sudah dapat, Nek.”

Kakek Firman menatapnya dengan bangga.

Tak lama kemudian azan maghrib berkumandang dari Surau Mutmainnah.

“Kakek ingin salat berjemaah di rumah,” kata kakek pelan.

“Kali ini… Cahyo yang jadi imam.”

Cahyo terdiam sejenak. Lalu ia mengangguk mantap.

Di ruang tengah rumah limasan itu mereka berdiri berjajar.

“Allahu akbar…”

Suara Cahyo terdengar tenang.

Di dalam hatinya ia menyadari sesuatu.

Pagi tadi ia menolong seseorang yang kesulitan.

Lalu siang harinya orang lain menolongnya.

Kebaikan itu seperti benih di ladang.

Sekali ditanam, ia akan tumbuh—diam-diam, pelan-pelan—hingga suatu hari melahirkan kebaikan-kebaikan lain.

Ramadan ke-18 itu mengajarkan Cahyo satu hal sederhana:

kebaikan yang tulus tidak pernah benar-benar hilang.

Ia selalu menemukan jalan untuk kembali. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni