Cerpen

Bobby, Anak Istimewa yang Menghadirkan Makna Syukur

45
×

Bobby, Anak Istimewa yang Menghadirkan Makna Syukur

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Setelah dua anak pergi sebelum sempat tumbuh, Pak Syafii hampir kehilangan harapan. Hingga Bobby lahir dengan Down syndrome dan perlahan mengajarkan kepadanya satu pelajaran besar: menerima takdir dengan syukur.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Pagi itu udara Kabupaten Rempah terasa dingin. Kabut tipis masih menggantung di atas sawah, sementara lampu-lampu rumah belum seluruhnya padam. Jalan kampung masih lengang ketika sebuah motor Yamaha Jupiter merah berstrip hitam melaju perlahan menuju Masjid An-Nur.

Di atas motor itu, seorang lelaki berusia empat puluh dua tahun mengemudi dengan hati-hati. Namanya Pak Ahmad Syafii.

Baca cerpen lainnya: Astrea Tua yang Tak Mau Pensiun

Di depannya duduk seorang remaja yang memegang stang motor dengan kedua tangan kecilnya. Wajahnya bulat, matanya sedikit sipit, dan senyumnya lebar seolah selalu siap menyapa dunia.

Dialah Bobby Hasan, lima belas tahun.

“Pegang yang kuat ya, Bob,” kata Pak Syafii.

“Iya, Yah… Bobby kuat!” jawab Bobby ceria.

Pak Syafii tersenyum. Meski tubuh Bobby kini semakin besar, ia tetap menempatkan anaknya di depan agar bisa diajak berbincang sepanjang perjalanan menuju masjid.

Angin subuh menyentuh wajah mereka. Di kejauhan, lampu Masjid An-Nur tampak menyala lembut di tengah kampung yang masih terlelap.

Motor itu terus melaju.

Perjalanan sederhana itu menyimpan kisah panjang yang tak semua orang tahu.

Tujuh belas tahun lalu, Pak Syafii menikah dengan perempuan yang ia cintai, Bu Rahma. Rumah kecil mereka berdiri di pinggir sawah, sederhana tetapi hangat oleh harapan.

Setahun kemudian, kabar bahagia datang.

Bu Rahma hamil.

Pak Syafii begitu gembira. Ia bahkan sudah menyiapkan nama untuk anaknya: Syaiful Bahri. Di lemari kecil kamar mereka, Bu Rahma menyimpan beberapa baju bayi yang dibelinya dengan penuh suka cita.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama.

Baca Juga:  Yang Tak Ikut Runtuh: Kisah Danny Menjaga Mimpi

Pada usia kandungan tujuh bulan, dokter memanggil mereka ke ruang periksa. Wajah dokter terlihat berat.

“Maaf, Pak… bayinya tidak bisa diselamatkan.”

Pak Syafii tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lantai rumah sakit yang putih mengilap. Tangannya menggenggam erat kursi plastik di sampingnya.

Di sebelahnya, Bu Rahma menangis tanpa suara.

Anak pertama mereka pergi bahkan sebelum sempat melihat dunia.

Beberapa bulan berlalu. Luka itu perlahan mencoba mereka sembuhkan.

Lalu Allah memberi kesempatan kedua.

Bu Rahma kembali hamil.

Kali ini mereka lebih berhati-hati. Bu Rahma banyak beristirahat, dan Pak Syafii hampir setiap malam berdoa setelah salat.

Bayi itu lahir dengan selamat.

Tangisan kecil memenuhi ruang rumah sakit. Pak Syafii mengangkat kedua tangan dan menitikkan air mata syukur.

Namun kebahagiaan itu kembali diuji.

Dua bulan kemudian, bayi itu jatuh sakit.

Tubuh kecil itu terbaring di inkubator rumah sakit. Selang kecil menempel di hidungnya. Mesin berdetak pelan di samping tempat tidur.

Dokter mencoba menolong.

Namun takdir berkata lain.

Anak kedua mereka juga pergi.

Sejak hari itu rumah kecil mereka terasa berbeda.

Baju-baju bayi yang pernah disiapkan Bu Rahma tetap tersimpan rapi di lemari. Kadang pada malam hari, Pak Syafii melihat istrinya duduk lama di tepi ranjang, memegang baju kecil itu tanpa berkata apa-apa.

“Kenapa kita, Mas?” tanya Bu Rahma suatu malam dengan suara serak.

Pak Syafii tidak tahu harus menjawab apa.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang menyesakkan di dada—pertanyaan kepada takdir Allah yang tak berani ia ucapkan keras-keras.

Beberapa tahun kemudian, Allah memberi mereka kesempatan lagi.

Bu Rahma kembali hamil.

Kali ini mereka tidak banyak berharap. Mereka hanya berdoa agar diberi kekuatan menerima apa pun yang akan terjadi.

Bayi itu lahir dengan selamat.

Namun dokter mengatakan sesuatu yang membuat mereka terdiam.

Baca Juga:  Takbir di Balik Luka: Kisah Rini di Hari Kemenangan

“Anak Bapak mengalami Down syndrome.”

Pak Syafii belum langsung mengerti. Dokter menjelaskan perlahan bahwa perkembangan anak itu akan berbeda dari anak lain dan membutuhkan perhatian lebih.

Di perjalanan pulang dari rumah sakit, mereka hampir tidak berbicara.

Di kursi belakang mobil, bayi kecil itu tertidur di pelukan Bu Rahma.

“Mas…” kata Bu Rahma pelan.

“Iya?”

“Kita harus bagaimana?”

Pak Syafii menatap wajah bayi itu. Nafasnya kecil dan teratur.

Untuk beberapa waktu, hatinya dipenuhi kebingungan.

Mengapa ujian seperti ini kembali datang?

Beberapa malam kemudian, setelah salat isya, Pak Syafii duduk sendirian di ruang tengah. Rumah mereka sunyi.

Ia membuka mushaf Al-Qur’an.

Matanya jatuh pada Surah Luqman ayat 13 sampai 19.

Ayat demi ayat ia baca perlahan.

Tentang tauhid.

Tentang bersyukur kepada Allah.

Tentang berbakti kepada orang tua.

Tentang mendirikan salat.

Tentang berbuat baik dan bersabar.

Ketika sampai pada ayat tentang kesabaran, suaranya terhenti. Matanya mulai basah.

Pak Syafii menutup mushaf itu.

“Rahma…” katanya pelan.

Bu Rahma keluar dari kamar sambil menggendong bayi kecil mereka.

“Iya, Mas?”

Pak Syafii memandang anak itu lama.

“Mungkin Allah tidak sedang menghukum kita.”

Bu Rahma terdiam.

“Mungkin Allah sedang mempercayakan kita… mendidik anak istimewa.”

Sejak malam itu, cara pandang mereka perlahan berubah.

Bayi itu mereka beri nama Bobby Hasan.

Motor Jupiter merah itu berhenti di halaman Masjid An-Nur.

Pak Syafii turun, lalu membantu Bobby turun dari depan motor.

“Ayo Bob, kita salat dulu.”

Bobby mengangguk semangat.

“Iya, Yah! Bobby mau azan!”

Pak Syafii tertawa kecil.

“Pelan-pelan saja. Nanti kita belajar lagi.”

Sejak kecil, Bobby selalu diajak ke masjid. Saat masih kecil ia sering digendong Pak Syafii menuju saf depan.

Kini Bobby sudah remaja, tetapi semangatnya tetap sama.

Kadang ia berdiri di depan mikrofon masjid, lalu berkata keras:

Baca Juga:  Liburan Produktif Dua Sahabat Tuli, Sulap Botol Bekas Jadi Karya Bernilai Seni

“Allahu akbar… Allahu akbar…”

Lalu ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah ayahnya.

“Bener, Yah?”

Pak Syafii mengangguk sambil tersenyum.

Hari-hari Bobby di rumah juga penuh kegiatan kecil.

Setiap pagi setelah pulang dari masjid, Bobby menyapu halaman.

Sapu itu sering lebih banyak mengangkat debu daripada membersihkan halaman. Namun Bobby selalu terlihat bangga.

“Bobby kerja, Yah!”

“Iya,” jawab Pak Syafii, “anak laki-laki harus rajin.”

Bobby juga sekolah di SLB Bumi Indah.

Sepulang sekolah, ia punya tugas mengepel lantai rumah.

Kadang airnya terlalu banyak hingga lantai justru semakin basah.

Namun Pak Syafii tidak pernah memarahinya.

“Pelan-pelan saja, Bob. Yang penting kamu belajar.”

Sore hari adalah waktu favorit Bobby.

Pak Syafii sering mengajaknya berjalan menyusuri jalan kecil di pinggir sawah. Angin sore membawa bau tanah dan padi yang mulai menguning.

“Yah,” kata Bobby suatu sore.

“Iya?”

“Bobby anak baik?”

Pak Syafii berhenti berjalan.

Ia menatap wajah anaknya yang tersenyum polos.

Air matanya tiba-tiba jatuh tanpa ia sadari.

“Iya, Bob,” katanya lirih.

“Kamu anak yang sangat baik.”

Bobby tertawa kecil.

“Kalau Bobby baik… Allah sayang Bobby?”

Pak Syafii memeluk anaknya erat.

“Iya, Bob. Allah sangat sayang Bobby.”

Di langit sore Kabupaten Rempah, burung-burung kembali ke sarang.

Pak Syafii menatap wajah anaknya yang masih tersenyum.

Dulu ia pernah bertanya kepada Allah mengapa ia diberi anak seperti Bobby.

Namun kini ia berhenti bertanya.

Sebab setiap kali Bobby tertawa, Pak Syafii merasa sedang diajari sesuatu yang tidak pernah ia temukan di buku mana pun:

tentang sabar, tentang syukur, dan tentang cinta yang tulus.

Dan di dalam hatinya, ia tahu—Bobby bukan sekadar anak yang Allah titipkan.

Bobby adalah cara Allah mendidik mereka menjadi manusia yang lebih dekat kepada-Nya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni