Telaah

Mengapa Puasa Disebut Milik Allah?

79
×

Mengapa Puasa Disebut Milik Allah?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Hadis qudsi menjelaskan keistimewaan puasa sebagai ibadah yang paling jauh dari riya dan paling dekat dengan keikhlasan.

Serial Ramadan (18); Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani

Tagar.co – Di antara seluruh ibadah dalam Islam, puasa memiliki kedudukan yang sangat unik. Jika ibadah lain memiliki ukuran pahala yang jelas dan sering kali tampak secara lahiriah, puasa justru berdiri dalam ruang yang sangat sunyi: ruang antara manusia dan Tuhannya.

Keistimewaan ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah Saw. melalui sebuah hadis qudsi. Dalam hadis tersebut, Allah sendiri menjelaskan kedudukan puasa di antara amal-amal manusia.

Baca juga: Mengapa Bau Mulut Orang Berpuasa Lebih Harum di Sisi Allah?

Rasulullah Saw. bersabda bahwa Allah berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan kedudukan puasa yang sangat istimewa dibandingkan dengan ibadah lainnya.

Baca Juga:  Puasa dan Al-Qur’an: Dua Pilar yang Disatukan Ramadan

Ibadah yang Paling Tersembunyi

Banyak ibadah dapat terlihat oleh manusia. Salat dapat disaksikan, zakat dapat diketahui, dan haji dapat terlihat oleh banyak orang.

Puasa berbeda. Ia adalah ibadah yang sangat personal.

Seseorang bisa saja berpura-pura berpuasa di hadapan manusia, tetapi sebenarnya tidak. Karena itu, puasa menjadi ibadah yang sangat terkait dengan kejujuran batin.

Dalam penjelasannya, Ibnu Hajar al-Asqalani menyebut bahwa puasa dinisbatkan langsung kepada Allah karena ia adalah ibadah yang paling jauh dari riya.

“Li”: Kepemilikan Khusus dari Allah

Dalam hadis tersebut Allah berfirman:

فَإِنَّهُ لِي

“Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku.”

Huruf li di sini menunjukkan pengkhususan. Semua amal pada dasarnya memang untuk Allah, tetapi puasa memiliki kedekatan yang sangat khusus.

Menurut penjelasan An-Nawawi, puasa disebut secara khusus karena ia merupakan ibadah yang paling murni dari unsur pamer dan paling kuat dalam melatih keikhlasan.

Puasa adalah ibadah yang hampir sepenuhnya hanya diketahui oleh Allah dan pelakunya.

“Wa Anā Ajzī Bih”: Balasan Tanpa Batas

Allah melanjutkan firman-Nya:

Baca Juga:  Lailatulqadar: Malam ketika Malaikat Turun Berbondong-bondong

وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan ini menunjukkan besarnya pahala puasa yang tidak dibatasi angka tertentu.

Amal lain disebutkan kelipatannya. Namun puasa tidak disebutkan batas balasannya.

Dalam penafsiran hadis ini, Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa adalah ibadah yang paling dekat dengan sifat malaikat karena menahan kebutuhan jasmani demi mendekat kepada Allah. Karena itu, balasannya diserahkan langsung kepada Allah.

Puasa dan Keikhlasan

Puasa mengajarkan dimensi penting dalam ibadah: keikhlasan.

Ikhlas berarti beribadah bukan karena dilihat manusia, tetapi semata-mata karena Allah.

Ramadan adalah sekolah keikhlasan. Ia melatih manusia untuk tetap taat meskipun tidak ada yang melihat.

Di sinilah puasa menjadi ibadah yang sangat mendalam secara spiritual.

Momentum Hari Ke-18

Memasuki hari ke-18, Ramadan telah melewati setengah perjalanan.

Pada fase ini biasanya muncul dua kemungkinan. Sebagian orang justru semakin kuat dalam ibadah, sementara sebagian lainnya mulai kehilangan semangat.

Hadis ini mengingatkan bahwa setiap hari puasa memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah.

Baca Juga:  Wahyu sebagai Kompas: Mengapa Kita Butuh Petunjuk Al-Qur’an?

Tidak ada satu hari pun yang sia-sia jika dijalani dengan keikhlasan.

Refleksi

Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Ia adalah latihan kejujuran spiritual.

Ketika seseorang tetap berpuasa meskipun tidak ada manusia yang melihat, ia sedang menunjukkan bahwa Allah lebih penting daripada dirinya sendiri.

Dan ketika Allah berfirman, “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya,” maka itu berarti pahala puasa berada di luar perhitungan manusia.

Ramadan mengajarkan bahwa amal yang paling sunyi sering kali justru memiliki nilai paling tinggi di sisi Allah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni