
Para ulama sejak lama menyebut malam ke-25 sebagai salah satu kemungkinan besar turunnya Lailatulqadar. Namun rahasia malam agung itu tetap tersembunyi agar umat Islam menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan.
Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur
Tagar.co – Sepuluh malam terakhir Ramadan selalu membawa suasana yang berbeda. Masjid terasa lebih hidup. Bacaan Al-Qur’an lebih panjang dengan intonasi irama Masjidilharam atau Masjid Nabawi. Indah sekali. Doa-doa lebih khusyuk. Mengapa? Karena kita sedang menunggu sesuatu yang sangat agung, yaitu berharap dapat Lailatulqadar.
Sebuah malam yang oleh Allah digambarkan lebih baik daripada seribu bulan. Malam yang disebut dalam Surah Al-Qadr sebagai malam penuh kedamaian hingga terbit fajar.
Baca juga: Jika Malam Ini Lailatulqadar, Sudahkah Kita Siap?
Namun menariknya, Al-Qur’an tidak menyebut tanggalnya secara pasti. Rasulullah pun tidak menunjukkan tanggal pastinya. Beliau justru memberi petunjuk yang bersifat terbuka: “Carilah Lailatulqadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan.” Hadis ini diriwayatkan oleh para imam hadis besar seperti Muhammad al-Bukhari dan Muslim Ibn al-Hajjaj.
Karena itu perhatian umat Islam biasanya tertuju pada lima malam: 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan. Di antara malam-malam itu, malam ke-25 memiliki tempat yang cukup menarik dalam pembahasan para ulama.
Sebagian ulama klasik menyebut bahwa dalam pola tertentu kalender Ramadan, Lailatulqadar sering kali bertepatan dengan malam ke-25. Pendapat ini dinisbatkan kepada ulama besar seperti al-Ghazali dalam berbagai penjelasan yang kemudian dikutip dalam literatur fikih klasik.
Tentu saja pendapat ini tidak dimaksudkan untuk memastikan tanggalnya secara mutlak. Sebab para ulama besar seperti al-Nawawi, Ibn Hajar al-Asqalani, dan Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa Lailatulqadar dapat berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil.
Hikmah dari kerahasiaan ini sangat mendalam. Allah tidak ingin kita hanya beribadah pada satu malam saja. Allah ingin kita menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan kesungguhan.
Karena itu Rasulullah sendiri memberikan teladan yang luar biasa. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, beliau menghidupkan malam dengan ibadah, membangunkan keluarganya, dan memperbanyak doa.
Ada satu doa yang sangat terkenal yang diajarkan Rasulullah tentang apa yang sebaiknya dibaca ketika berjumpa dengan Lailatulqadar, yaitu: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.
Maka ketika malam ke-25 Ramadan datang seperti malam ini, sebenarnya kita sedang berdiri di salah satu kemungkinan terbesar dari perkiraan turunnya Lailatulqadar.
Mungkin saja malam ini adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Mungkin saja malam ini adalah malam ketika doa-doa diangkat dengan cara yang sangat istimewa. Mungkin saja malam ini adalah malam ketika seseorang memulai kembali hidupnya setelah sekian lama tenggelam dalam kelalaian.
Namun satu hal yang pasti: Lailatulqadar tidak selalu datang dengan tanda-tanda besar yang dapat dilihat oleh mata. Ia sering hadir dalam kesunyian, dalam hati yang tunduk, dalam doa yang tulus di tengah malam.
Karena itu yang terpenting bukanlah memastikan apakah malam ini benar-benar Lailatulqadar atau bukan. Tetapi yang terpenting adalah memastikan bahwa ketika malam itu datang, kita sedang terjaga dalam ibadah: bermunajat, salat, membaca Al-Qur’an, beristigfar, menengadahkan tangan memohon ampunan Allah, atau ibadah lainnya sesuai yang diajarkan Rasulullah Saw.
Dan jika malam ini benar-benar Lailatulqadar, maka semoga Allah menuliskan kita sebagai hamba-hamba yang mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Karena Lailatulqadar bukan hanya tentang satu malam dalam kalender Ramadan, tetapi tentang pertemuan antara rahmat Allah yang sangat luas dan hati manusia yang benar-benar ingin kembali kepada-Nya. Wallāhualambisawab.
Penyunting Mohammad Nurfatoni












