Opini

Ketika ‘Jurusan Sampah’ Viral: Apakah Ilmu Islam Juga Akan Dibuang?

85
×

Ketika ‘Jurusan Sampah’ Viral: Apakah Ilmu Islam Juga Akan Dibuang?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Viral “jurusan sampah” menghakimi pendidikan. Jika ilmu diukur dari gaji cepat, di mana posisi Tafsir, Fikih, dan Tasawuf dalam sistem yang kian tunduk pada logika pasar sempit?

Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Dewan Syariah Lazismu Tulungagung, Dekan FEBI UIN Ponorogo

Tagar.co – Sebuah video dengan judul berani “10 Jurusan Kuliah yang Tidak Berguna dan Buang-Buang Uang di Indonesia” dalam kanal YouTube https://www.youtube.com/watch?v=OD0GUpcGbMk telah mengguncang ruang digital.

Fotografi, Biologi, Filsafat, bahkan Ilmu Perpustakaan disebut sebagai “pembuang uang”. Namun, yang luput dari perbincangan adalah: jika logika pasar sempit yang diartikan tidak berguna itu diterapkan secara konsisten, lalu di mana posisi ilmu-ilmu keislaman di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan jurusan-jurusan umum di UIN?

Baca juga: Mengapa Masjid Belum Jadi Solusi Umat? Saatnya Membuka Mental Block Takmir

Jangan-jangan, vonis publik itu lebih cepat dari rapat senat yang merumuskan kurikulum. Mari kita bedah dengan dingin dan kritis.

Ilmu-ilmu Keislaman di PTKIN—Antara Surga Akhirat dan Neraca Dunia

PTKIN seperti UIN, IAIN, dan STAIN memiliki ruh keilmuan yang khas: Tafsir Hadis, Ilmu Al-Qur’an, Fikih, Ushul Fikih, Tasawuf, hingga Ilmu Dakwah. Secara pasar kerja formal di Indonesia, lowongan khusus untuk “ahli tafsir” atau “mursyid tasawuf” hampir tidak ada di JobStreet atau Google.

Kantor-kantor swasta tidak membuka posisi “Sarjana Tasawuf”. Maka, dengan logika video tersebut, apakah jurusan-jurusan ini layak masuk daftar “kesebelas”?

Jawabannya: tidak, dan itulah letak kebodohan nalar pasar semata.

Ilmu keislaman memiliki ranah yang tidak bisa diukur dengan statistik lowongan kerja. Ia mencetak ulama, kiai, hakim agama, penyuluh, pendidik moral bangsa, hingga perancang fatwa ekonomi syariah yang kini menggerakkan industri keuangan nasional.

Baca Juga:  Mood Booster Pergi, Puasa Tetap Tinggal: Pelajaran Emosi bagi Gen Z

Seorang lulusan Tafsir Hadis mungkin tidak menjadi CEO, tetapi ia menjadi rujukan etika di tengah korupsi. Seorang lulusan Tasawuf mungkin tidak masuk BUMN, tetapi ia menenangkan jiwa-jiwa yang sakit oleh kapitalisme.

Jika pendidikan hanya diukur dari “berapa bulan bisa balik modal”, maka masjid, pesantren, dan lembaga dakwah akan tutup usia. Untungnya, Indonesia masih punya akal sehat: ilmu keislaman tidak perlu meminta maaf karena tidak “laku” di platform pencarian kerja.

Jurusan Umum di UIN—Menyelamatkan Diri dari “Stigma Anak Spillover”

Kini UIN tidak hanya mengajar ngaji. Ia memiliki Fakultas Kedokteran, Psikologi, Sosiologi, Komunikasi, Teknik Informatika, hingga Manajemen Bisnis. Di sinilah ironi terjadi: ketika video tersebut menyebut “Ilmu Komunikasi” dan “Psikologi” sebagai jurusan buang-buang uang, maka UIN yang memiliki jurusan itu otomatis terkena getah yang sama.

Padahal, lulusan Komunikasi UIN memiliki keunggulan tambahan: pemahaman etika Islam dan moderasi beragama—sesuatu yang tidak diajarkan di kampus umum. Lulusan Psikologi UIN dibekali psikologi Islami yang sangat dibutuhkan untuk konseling keluarga dan deradikalisasi. Lulusan Sosiologi UIN justru menjadi andalan dalam riset konflik agama dan kerukunan umat.

Namun, publik tidak melihat itu. Yang mereka lihat hanyalah judul sensasional: “Psikologi buang-buang uang”. Di situlah letak bahaya: konten viral telah melukai kepercayaan publik pada model pendidikan integrasi keilmuan yang justru menjadi keunggulan UIN.

Kritik Paling Mendasar: Siapa yang Sebenarnya “Tidak Berguna”?

Mari berterus terang. Masalah sebenarnya bukan pada jurusan, melainkan pada tiga hal:

  1. Lemahnya koneksi antara PTKIN dan pasar kerja syariah.
    Industri perbankan, asuransi, dan fintech syariah tumbuh pesat, tetapi kurikulum UIN sering tertinggal. Bukan salah jurusan—melainkan salah sistem.
  2. Absennya pendidikan kewirausahaan santri.
    Lulusan Ilmu Al-Qur’an seharusnya dapat menjadi kreator konten tafsir digital, konsultan spiritual daring, atau penerbit konten Islami yang produktif. Namun, hal itu tidak diajarkan. Jadi, jangan salahkan ilmunya—perbaiki metode pengajarannya.
  3. Kebijakan nasional yang kurang berpihak pada humaniora keagamaan.
    Riset tentang Islam, manuskrip kuno, atau fikih kontemporer sering kekurangan pendanaan. Akibatnya, lulusan Ilmu Perpustakaan UIN yang ahli merawat naskah kuno tidak terserap—bukan karena ilmunya tidak berguna, melainkan karena negara belum menyediakan ruang bagi mereka.
Baca Juga:  Rentenir Religius

Masa Depan yang Tidak Menakutkan Jika Kita Berhenti Meniru Logika Viral

Masa depan ilmu-ilmu keislaman dan jurusan umum di PTKIN tidak akan ditentukan oleh video semacam itu. Ia akan ditentukan oleh:

  1. Transformasi kurikulum yang membekali lulusan dengan keahlian digital dan kewirausahaan tanpa meninggalkan ruh keislaman.
  2. Penguatan tracer study yang jujur, yang menunjukkan bahwa lulusan UIN tidak hanya menjadi pegawai negeri, tetapi juga pengusaha halal, konsultan media ramah agama, atau aktivis perdamaian digital.
  3. Keberanian membangun narasi tandingan terhadap logika “tidak berguna = sedikit lowongan”.

Sebuah fakta: lulusan Filsafat UIN justru banyak menjadi jurnalis senior dan penulis buku laris. Apakah itu buang-buang uang?

Jangan Biarkan Algoritma Menghakimi Ilmu Tuhan

Video viral itu bukan musuh utama. Musuh utama adalah cara berpikir instan yang mengukur segala sesuatu dengan “berapa banyak lowongan di JobStreet”. Jika itu yang terjadi, maka Tafsir Hadis, Fikih, Tasawuf, bahkan ilmu tentang Tuhan sekalipun akan divonis “tidak berguna”.

Namun, Indonesia tidak boleh kehilangan akal. Bangsa ini berdiri di atas tradisi keilmuan Islam yang kaya—jauh sebelum JobStreet dan Google lahir. Dan tradisi itu tidak membutuhkan legitimasi dari konten viral untuk tetap relevan.

Baca Juga:  Menata Langkah Menuju Khusyuk Tarawih

PTKIN dan UIN tidak perlu panik menghadapi gempuran label “jurusan sampah”. Evaluasi diri memang perlu, tetapi jangan sampai mengubah fakultas menjadi pabrik pencari kerja instan. Biarlah ilmu keislaman tetap menjadi oase—meskipun dunia menganggapnya tidak “laku”. Sebab, pada akhirnya, yang “tidak berguna” adalah logika yang hanya mampu membaca angka, tetapi buta terhadap makna.

Penutup

Sebelum memvonis suatu jurusan sebagai “buang-buang uang”, tanyakan pada diri sendiri: apakah ukuran keberhasilan hidup hanya gaji pertama? Jika iya, maka hidup telah direduksi oleh algoritma yang tidak pernah mencintai ilmu.

Tulisan ini tidak anti terhadap kritik pendidikan. Kritik terhadap kurikulum yang usang dan lemahnya koneksi industri sangat diperlukan. Namun, kritik harus disampaikan secara bermartabat, tanpa menghakimi disiplin ilmu dengan label “sampah” yang merendahkan.

Tulisan ini juga tidak bertujuan mendiskreditkan pembuat video, melainkan mengajak pembaca untuk menyikapi secara kritis konten populer tentang pendidikan. Gunakan data resmi, seperti tracer study dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi atau laporan job outlook dari Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai dasar penilaian yang lebih objektif. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…