Opini

Menabung Jantung

89
×

Menabung Jantung

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nuratoni/AI

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering berhenti peduli. Yang kita abaikan hari ini, diam-diam sedang dihitung untuk esok.

Catatan Ahmadie Thaha; Kolumnis

Tagar.co – Di tengah peradaban yang begitu bangga pada teknologi medisnya, manusia modern sesungguhnya sedang menyimpan satu ironi yang nyaris tragis: kita semakin pintar mengobati, tetapi tidak semakin serius mencegah.

Itulah nada dasar yang diungkap Dr. Sadiya S. Khan, seorang kardiolog dan epidemiolog dari Northwestern University, dalam tulisannya terbaru di Time, yang terasa seperti laporan ilmiah sekaligus teguran moral.

Baca juga: Setan Makanan Olahan yang Mengintai Kesehatan Kita

Ia membuka dengan fakta yang tidak memberi ruang untuk berkelit: lebih dari 900 ribu orang Amerika meninggal karena penyakit kardiovaskular dalam satu tahun—jumlah yang melampaui gabungan kematian akibat kanker dan kecelakaan.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menyebut, di antara pasien jantung, kelompok usia 25–34 tahun berjumlah 140.206 orang, menduduki peringkat teratas. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia seperti alarm yang terus berbunyi, tetapi kita memilih menekan tombol “snooze”.

Padahal, jika sejarah dijadikan saksi, seratus tahun terakhir adalah masa keemasan dunia kedokteran. Kita punya perangkat stent untuk membuka pembuluh darah, defibrillator untuk menghidupkan kembali jantung yang berhenti.

Kita juga punya obat-obatan yang mampu menurunkan kolesterol dan tekanan darah dengan presisi farmasi yang nyaris seperti sihir. Kita tahu pentingnya tidur, pola makan, dan olahraga. Kita tahu segalanya.

Dan justru di situlah masalahnya: kita tahu, tetapi tidak bertindak.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Sadiya Khan pada 2025 menyajikan satu temuan yang nyaris memalukan: lebih dari 99 persen orang yang mengalami serangan jantung, stroke, atau gagal jantung, sudah memiliki setidaknya satu faktor risiko jauh sebelum peristiwa itu terjadi.

Ia menyebut beberapa kondisi yang sudah ada pada diri kita dan berisiko menyebabkan serangan jantung di kemudian hari, misalnya hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, penyakit ginjal kronis, dan penggunaan tembakau alias merokok.

Baca Juga:  Empati di Tengah Reruntuhan: Perang di Mata Hewan

Dengan kata lain, penyakit jantung bukanlah bencana mendadak. Ia adalah undangan yang kita kirim sendiri, bertahun-tahun sebelumnya, dengan “memelihara” penyakit-penyakit berisiko tadi.

Di titik ini, narasi “tiba-tiba kena serangan jantung” menjadi seperti mitos yang nyaman. Kita pakai istilah ini untuk menghibur diri dari kenyataan bahwa tubuh sebenarnya sudah lama memberi sinyal, hanya saja kita tidak mau membaca.

Dan sains hari ini bahkan melangkah lebih jauh. Melalui Prevent equation—sebuah kalkulator risiko yang dikembangkan bersama American Heart Association—para ilmuwan kini mampu memperkirakan kemungkinan seseorang terkena penyakit jantung.

Ramalannya tak hanya untuk sekarang, tetapi dalam rentang 10 hingga 30 tahun ke depan. Artinya, masa depan kesehatan kita bukan lagi misteri. Ia sudah menjadi semacam “ramalan ilmiah” yang bisa diakses, dihitung, bahkan diintervensi.

Anda dapat menggunakan Prevent equation sekarang juga secara daring, dengan menyediakan data awal untuk diinput ke dalam aplikasi. Namun manusia, rupanya, tetap setia pada satu kebiasaan lama: menunda.

Bagi Anda yang suka mengotak-atik kode pemrograman, Anda dapat menginstal aplikasi dengan source code Prevent yang tersedia di repositori GitHub. Tersedia pula versi Python, dengan menjalankan perintah di konsol: pip install pyprevent.

Kembali ke masalah jantung: kita ini makhluk yang unik. Kita bisa merencanakan pensiun sejak usia 25, menghitung bunga majemuk, membeli asuransi berlapis-lapis. Tetapi untuk tubuh sendiri, kita berlaku seperti penyewa yang tahu kontraknya akan habis, tetapi tetap merusak rumah tanpa rencana perbaikan.

Lebih ironis lagi, faktor risiko utama penyakit jantung bekerja dengan cara yang nyaris “sopan”. Ia tidak berteriak.

Hipertensi tidak selalu membuat pusing. Kolesterol tinggi tidak selalu menimbulkan rasa sakit. Gula darah yang melonjak tidak selalu terasa dramatis oleh tubuh.

Baca Juga:  Keberanian di Podium, Ujian di Konstitusi

Semua berjalan pelan, rapi, diam—seperti rayap yang bekerja di balik dinding, sampai suatu hari rumah itu runtuh tanpa aba-aba. Lalu kita berkata: “Kok bisa?”

Mari kita pindahkan cermin itu ke Indonesia. Di negeri ini, penyakit jantung dan pembuluh darah juga telah lama menjadi penyebab kematian tertinggi. Lebih dari 650 ribu penduduk meninggal dunia akibat penyakit kardiovaskular setiap tahunnya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi nasional berada di kisaran lebih dari sepertiga populasi dewasa.

Diabetes terus meningkat, bahkan Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia. Sementara itu, konsumsi gula, garam, dan lemak kita sering kali melampaui batas yang dianjurkan.

Di kota-kota besar, gaya hidup sedentari menjadi norma baru: duduk berjam-jam di depan layar, memesan makanan cepat saji dengan satu sentuhan jari di ponsel, dan mengganti aktivitas fisik dengan kenyamanan digital.

Di desa, masalahnya berbeda tetapi sama seriusnya. Akses terhadap layanan kesehatan terbatas, edukasi kesehatan belum merata, dan deteksi dini sering kali tidak terjadi.

Kita seperti dua sisi mata uang yang berbeda, tetapi sama-sama menuju satu arah: keterlambatan.

Dan di sinilah dimensi yang paling sering kita abaikan: kesehatan bukan hanya urusan individu, tetapi juga urusan sistem.

Dr. Sadiya Khan menegaskan bahwa risiko penyakit jantung dipengaruhi oleh banyak faktor di luar kendali pribadi: akses terhadap makanan sehat, lingkungan yang aman untuk berolahraga, waktu yang tersedia, hingga keterjangkauan layanan kesehatan.

Dengan kata lain, menyuruh orang hidup sehat tanpa menyediakan ekosistem yang mendukung adalah seperti menyuruh orang berenang tanpa air.

Di Indonesia, ini terasa nyata. Program seperti BPJS Kesehatan telah membuka akses yang lebih luas, tetapi tantangan kualitas layanan, distribusi tenaga medis, dan kesadaran masyarakat masih menjadi pekerjaan besar.

Kita masih lebih piawai membangun rumah sakit daripada membangun kesadaran untuk tidak masuk rumah sakit.

Baca Juga:  Kejahatan Perang Trump

Padahal, proyeksi ke depan tidak memberi kita kemewahan untuk santai. Di Amerika, diperkirakan lebih dari 40 juta orang akan hidup dengan penyakit kardiovaskular pada tahun 2050 jika tren ini berlanjut.

Jika pola global ini kita jadikan cermin, maka Indonesia bukan sedang menonton, tetapi sedang berjalan ke arah yang sama—dengan langkah yang kadang lebih cepat karena bonus demografi yang tidak diimbangi dengan bonus kesadaran kesehatan.

Di titik ini, kita perlu mengganti cara berpikir. Selama ini, kita memperlakukan kesehatan seperti pemadam kebakaran: bergerak cepat ketika api sudah membesar. Padahal, yang dibutuhkan adalah arsitek yang merancang sejak awal agar rumah tidak mudah terbakar.

Kesehatan jantung bukan proyek sesaat. Ia adalah investasi tabungan seumur hidup. Ia tidak spektakuler, tidak viral, tidak dramatis.

Ia justru membosankan: makan lebih baik, bergerak lebih banyak, tidur cukup, dan memeriksa diri secara rutin. Tidak ada yang heroik di sana, tetapi justru di situlah letak keselamatan.

Mungkin karena itu kita sering mengabaikannya. Manusia lebih tertarik pada krisis daripada pencegahan, lebih tergerak oleh tragedi daripada disiplin.

Namun tubuh tidak pernah bernegosiasi dengan kebiasaan buruk. Ia hanya mencatat. Dan pada suatu hari yang tampaknya biasa, ia akan mengirimkan tagihan—dengan bunga yang tidak pernah kita perhitungkan.

Maka pelajaran dari semua ini sebenarnya sederhana, meski tidak selalu mudah dijalankan: penyakit jantung bukan takdir yang jatuh dari langit, tetapi hasil akumulasi yang kita bangun sendiri. Ia bukan kejutan, melainkan konsekuensi.

Dan di antara detak jantung yang terus bekerja tanpa kita sadari itu, ada satu pesan yang tidak pernah berubah—bahwa waktu selalu berpihak pada mereka yang mulai lebih awal. (#)

Ma’had Tadabbur Al-Qur’an, 18 April 2026

Penyuntng Mohammad Nurfatoni