Film

Empati di Tengah Reruntuhan: Perang di Mata Hewan

77
×

Empati di Tengah Reruntuhan: Perang di Mata Hewan

Sebarkan artikel ini
Salah satu adegan dalam Animals in War (Foto idmb.com)

Perang biasanya dicatat lewat angka dan statistik. Namun film Animals in War menunjukkan sesuatu yang lebih sunyi: bagaimana seekor sapi, kelinci, hingga kucing menjadi saksi bisu yang memantulkan wajah kemanusiaan.

Opini oleh Ahmadie Thaha; Kolumnis

Tagar.co – Perang biasanya kita ceritakan lewat angka. Terlihat sekian ribu korban, sekian kota hancur, sekian tank terbakar. Angka-angka itu berbaris seperti siswa upacara, rapi, tegas, tapi dingin.

Lalu datanglah Sean Penn, aktor, sineas, sekaligus aktivis yang kariernya tak pernah puas hanya di karpet merah penghargaan dunia. Ia gemar mengubah momen getir menjadi karya kreatif, seolah setiap ledakan harus punya gema moral.

Baca juga: Film Conclave: Ketika Politik Masuk Surga di Kapel Sistina

Dalam film Animals in War, karya terbarunya, ia memilih jalur bercerita yang tak biasa. Kali ini bukan manusia sebagai pusat tragedi, melainkan binatang.

Ia merangkai tujuh cerita pendek tentang tujuh makhluk tanpa paspor dalam kemasan film yang apik. Tanpa pidato, tanpa akun media sosial—tetapi justru paling jujur memantulkan wajah perang modern Ukraina–Rusia.

Film ini diproduksi sineas Ukraina sebagai respons atas invasi Rusia dan sudah tayang perdana di Tribeca. Secara naratif, ia bukan propaganda yang berteriak, melainkan semacam doa yang patah-patah.

Setiap dari tujuh episode itu berdiri sendiri. Namun semuanya disatukan oleh satu kalimat tak tertulis: kemanusiaan diuji bukan saat damai, melainkan saat semuanya terasa tak masuk akal.

Sean Penn (Foto idmb.com)

Kisah pertama tentang seorang bocah lelaki yang menuntun seekor sapi keluar dari desa yang diduduki. Ia bisa saja berlari sendirian—lebih cepat, lebih aman. Namun ia memilih menarik tali tambang nasib bersama si sapi.

Baca Juga:  Ribosom dan Rahasia Membangun Ulang Kehidupan

Adegan itu sederhana, tetapi simboliknya seperti menampar kita pelan. Dalam situasi ekstrem, siapa yang kita selamatkan menunjukkan siapa diri kita yang sejati.

Dalam kacamata aktivisme Sean Penn, ini bukan sekadar soal hewan ternak, melainkan tentang kesetiaan pada yang lemah. Aktivisme baginya bukan konferensi pers, melainkan keberanian memanggul beban yang tidak menguntungkan secara politis.

Cerita kedua menghadirkan kelinci putih di tengah reruntuhan kota di Ukraina. Kelinci itu berpindah dari tangan ke tangan—dari anak kecil, relawan, hingga tentara muda. Hewan bermata indah itu menjadi semacam saksi bisu yang tak bisa bersaksi di pengadilan mana pun.

Di sini film bermain di antara realisme dan metafora. Kelinci yang tulangnya rapuh, namun disayang anak-anak karena mata lucu dan kulit halusnya, menjadi kontras brutal dengan suara artileri.

Sean Penn (Foto idmb.com) dalam proses pembuatan film Animals in War (Foto idmb.com)

Sean Penn, yang lama dikenal turun langsung ke zona konflik dan bencana, seakan ingin berkata: lihatlah, yang paling tak bersalah justru paling duluan menjadi korban. Dalam logika aktivismenya, simpati harus dimulai dari yang paling tak berdaya.

Kisah ketiga tentang seorang pemuda Kyiv dan kucingnya. Masih di Ukraina. Saat listrik padam, sirene meraung, dan kota berubah menjadi labirin ketakutan, si pemuda tetap menggendong kucingnya saat mengungsi.

Ini bukan romansa sentimental. Ini potret psikologi perang semasa konflik di berbagai belahan dunia. Hewan peliharaan sering menjadi jangkar kewarasan di tengah trauma.

Riset psikologi menunjukkan bahwa interaksi manusia dan hewan dapat menurunkan stres serta menjaga stabilitas emosi. Film ini menjahit fakta itu menjadi narasi yang lembut. Sean Penn memaknainya sebagai bukti bahwa empati bukan kemewahan, melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup.

Baca Juga:  David, Penakluk Raksasa di Layar Ramadan
Salah satu adegan dalam syuting film Animals in War (Foto idmb.com)

Ada pula cerita tentang seekor serigala bertubuh kekar yang terjebak di hutan yang terkontaminasi sisa-sisa perang. Hutan, yang biasanya netral, berubah menjadi ladang ranjau.

Episode ini bernada paling ekologis. Perang bukan hanya menghancurkan kota, tetapi juga ekosistem. Tanah, air, dan satwa liar menanggung konsekuensi yang jarang masuk ke headline utama.

Dalam pola pikir aktivisme Penn, ini memperluas definisi korban perang. Bukan hanya warga sipil, tetapi seluruh lanskap kehidupan.

Cerita berikutnya bergerak ke bawah laut—sebuah dongeng surealis tentang kehidupan bawah air yang terguncang ledakan dan polusi. Ikan-ikan berenang dalam dunia yang tak lagi sunyi.

Adegan-adegan ini nyaris puitis, seperti puisi yang ditulis di atas ombak yang berdarah.

Pesannya jelas: perang modern bukan lagi konflik lokal; ia merembet ke ekologi global. Aktivisme Penn di sini menjadi seruan kesadaran lintas batas bahwa kerusakan di satu wilayah dapat menjadi beban seluruh planet.

Salah satu adegan dalam Animals in War (Foto idmb.com)

Ada pula kisah penyelamatan anjing di sebuah kota di Ukraina yang dibombardir, dan cerita tentang hewan ternak yang ditinggalkan di wilayah pendudukan.

Semua disatukan oleh satu benang: warga biasa yang tak pernah berhenti membantu. Mereka bukan pahlawan sinematik dengan musik latar heroik. Mereka hanyalah orang-orang biasa yang memilih tidak menjadi biasa ketika menghadapi kejahatan.

Sean Penn sendiri menyebut film ini sebagai pernyataan penting tentang bagaimana orang Ukraina—dan tentu juga orang di medan perang mana pun—mempertahankan kemanusiaan di tengah kekerasan dan kehancuran.

Kalimat itu terdengar klise jika dibacakan di seminar, tetapi dalam film ini ia terasa organik.

Baca Juga:  Narasi Pemimpin Jahat dan Tipu Daya Geopolitik Global

Aktivisme Penn kerap menuai pro dan kontra, namun pola konsistensinya jelas. Ia hadir, menyaksikan, dan mengangkat suara yang tertindas ke panggung global.

Salah satu adegan dalam Animals in War (Foto idmb.com)

Secara artistik, film ini memadukan realisme keras dengan citraan puitik. Hewan-hewan menjadi cermin tanpa retorika. Mereka tak memahami geopolitik, tak mengenal NATO atau Kremlin, tetapi tubuh mereka merasakan akibatnya.

Di sinilah film ini cerdas. Ia memindahkan pusat gravitasi empati dari debat politik ke ranah moral.

Kita sering mengira kemanusiaan adalah konsep besar yang hanya layak dibahas di forum internasional. Padahal ia kadang tersembunyi dalam tindakan kecil: menggendong kucing, menuntun sapi, atau memberi makan anjing liar di tengah dentuman bom.

Film ini mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk perlawanan bersenjata. Ia bisa berbentuk kesetiaan pada makhluk yang bahkan tak mampu mengucapkan terima kasih.

Perang memang menguji siapa yang paling kuat. Namun lewat mata hewan-hewan itu, kita diingatkan bahwa ujian sebenarnya adalah siapa yang masih mampu merasa.

Dan mungkin di situlah letak aktivisme sejati yang ingin disampaikan Penn: bukan sekadar mengutuk kegelapan, melainkan menjaga agar hati tidak ikut menjadi reruntuhan.

Pada akhirnya, angka-angka korban perang tetap akan dicatat dalam sejarah. Namun wajah seekor sapi yang dituntun bocah keluar dari desa yang terbakar, atau kelinci putih di antara debu bangunan runtuh, mungkin lebih lama tinggal dalam ingatan kita.

Dari situlah empati tumbuh. Dan dari empati, tindakan menemukan jalannya. (#)

Ma’had Tadabbur Al-Qur’an, 08 Maret 2026

Penyunting Mohammad Nurfatoni