Cerpen

Notifikasi Terakhir dari Grup 1983

109
×

Notifikasi Terakhir dari Grup 1983

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Sebuah candaan ringan tentang Canva dan Linux memenuhi WhatsApp grup alumni 1983. Tak ada yang menyadari bahwa dua menit sebelumnya, seseorang di antara mereka telah menulis pesan yang diam-diam menjadi salam perpisahan.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Pagi itu, notifikasi WhatsApp berbunyi seperti biasa di grup alumni angkatan 1983. Candaan ringan tentang Canva, neraca, dan Linux mengalir santai, menertawakan profesi masing-masing di zaman yang serba digital.

Tak ada yang menyangka, di balik tawa itu, salah satu dari kami sedang menyiapkan perpisahan paling sunyi dalam hidupnya.

Baca juga: Bayangan yang Berbalik Arah

Nama grup itu sederhana: Alumni 1983 Bersama. Anggotanya tidak banyak, hanya sekitar tiga puluh orang yang dulu lulus SMA pada tahun 1983—kini menjelma bapak-bapak dengan rambut menipis dan tekanan darah yang rutin diperiksa.

Pagi itu, pukul 05.47, pesan pertama muncul.

“Anak graphic designer kalau mati dibungkus kain Canva.”

Pengirimnya Pak Hendra.

Beberapa detik kemudian Pak Damar membalas,
“Sungguh candaan yang tidak ber-Adobe.”

Stiker tertawa bermunculan.

Pak Yudi ikut menimpali,
“Padahal yang paling parah anak finance. Kalau mati tidak bakal masuk surga, masuknya neraca.”

Pak Roni yang bekerja di bidang teknologi menambahkan,
“Kenapa anak IT sering minum jamu? Karena sering pegel Linux.”

Notifikasi bersahut-sahutan seperti sendok beradu di warung kopi.

Saya yang lebih sering membaca hanya tersenyum. Grup ini memang ruang pelarian kecil dari hidup yang terasa semakin mahal dan rumit.

Pak Hendra kembali menulis.

“Kalau anak percetakan dibungkus apa ya? Kertas folio.”

Pak Damar cepat membalas,
“Dibungkus invoice yang belum dibayar klien.”

Baca Juga:  Manusia di Balik Linimasa

Tawa kembali memenuhi layar.

Di sela candaan itu, Pak Hendra sempat menulis satu kalimat lain.

“Kadang hidup ini seperti desain gratisan—kelihatan indah, tetapi watermark di mana-mana.”

Tak ada yang menanggapi serius. Obrolan segera bergeser.

Pak Damar mengeluh proyek konstruksinya tertunda karena pembayaran belum cair. Pak Yudi bercerita tentang nasabah yang kesulitan membayar cicilan. Pak Roni mengungkapkan kecemasannya pada kecerdasan buatan yang mulai menggantikan banyak pekerjaan.

“Sekarang AI bisa bikin desain, bisa bikin tulisan. Nanti kita kerja apa?”

Pak Hendra membalas singkat.

“Selama masih ada kertas, percetakan tidak mati.”

Saya berhenti sejenak membaca kalimat itu. Usaha percetakannya memang kecil. Beberapa bulan lalu ia sempat mengeluh bahwa pesanan berkurang. Orang lebih suka mengirim file digital daripada mencetak.

Obrolan lalu melebar ke harga beras, biaya sekolah cucu, dan baliho politik yang mulai bertebaran di sudut kota menjelang pemilihan kepala daerah.

Pak Arman mengirim foto baliho besar di dekat sekolahnya.

“Janjinya tinggi. Ukurannya lebih tinggi lagi.”

Pak Yudi bercanda,
“Kalau anak politik mati masuknya mana?”

Pak Damar menjawab,
“Masuk survei dulu.”

Tawa kembali memenuhi layar.

Di tengah riuh itu, Pak Hendra hanya mengirim satu stiker tersenyum. Foto profilnya memang selalu begitu—ia berdiri di depan mesin cetak, tersenyum lebar, seolah hidup tak pernah memukulnya.

Siang hari saya menerima pesan pribadi dari nomor tak dikenal.

“Mas, ini benar teman-teman grup Alumni 1983?”

“Saya adik Pak Hendra.”

Saya membaca pesan itu beberapa kali sebelum benar-benar memahami maksudnya.

“Mas Hendra tadi pagi wafat. Serangan jantung. Beliau sering cerita tentang grup ini. Katanya cuma di sini beliau bisa ketawa lepas.”

Baca Juga:  Hisab Digital: Ketika Layar Menjadi Saksi Amal Manusia

Saya menatap layar cukup lama. Pagi tadi ia masih bercanda tentang Canva dan kertas folio.

Saya membuka kembali percakapan grup. Pesan pukul 05.47 itu terasa berbeda sekarang. Bukan sekadar lucu, melainkan seperti salam yang baru dipahami setelah semuanya selesai.

Dengan tangan sedikit gemetar saya menulis di grup.

“Teman-teman, saya baru dapat kabar. Pak Hendra meninggal dunia pagi tadi.”

Notifikasi yang sebelumnya riuh mendadak sunyi.

Satu per satu pesan masuk.

Doa. Ungkapan duka. Emotikon tangan terangkat.

Pak Yudi menulis,
“Maaf ya kalau tadi bercandanya kebablasan.”

Pak Roni menambahkan,
“Kita sering pegel Linux. Ternyata yang lebih pegel itu hidup.”

Pak Damar hanya menulis pendek.

“Ternyata hidup ini tidak punya tombol undo.”

Malamnya beberapa teman datang melayat.

Rumah Pak Hendra sederhana. Di ruang tamu, mesin cetak kecilnya berdiri diam. Di dekatnya masih tercium bau tinta yang belum lama kering. Di dinding tergantung kalender promosi percetakannya. Halamannya masih menunjukkan bulan Februari.

Anaknya yang paling kecil memegang foto ayahnya. Wajah yang sama dengan foto profil di grup.

Di sudut ruangan saya melihat tumpukan invoice yang belum dibayar. Candaan pagi tadi tentang invoice terasa seperti ironi yang terlalu nyata.

Seminggu setelah pemakaman, grup mulai ramai lagi. Namun ada yang berubah. Setiap candaan tentang mati selalu berhenti di tengah jalan.

Suatu malam, saat menelusuri arsip percakapan, saya menemukan pesan Pak Hendra yang terlewat pagi itu.

Ia menulis pukul 05.45—dua menit sebelum jokes Canva.

“Doakan ya kawan-kawan. Semoga hari ini ada kabar baik.”

Tak ada yang membalas pesan itu. Pesan tersebut tertimbun oleh candaan yang datang sesudahnya.

Baca Juga:  Saatnya Mengunci Istikamah di Ujung Ramadan

Baru kemudian saya tahu dari adiknya, pagi itu Pak Hendra sedang menunggu jawaban bank atas pengajuan pinjaman untuk menutup utang usaha. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, mungkin dengan dada yang sudah terasa sesak.

Dan dua menit setelah menulis permintaan doa itu, ia memilih membuka percakapan dengan humor.

“Anak graphic designer kalau mati dibungkus kain Canva.”

Kini kalimat itu tidak lagi sekadar lucu. Ia seperti tirai yang dibuka perlahan sebelum panggung ditutup selamanya.

Kami, para alumni 1983 yang dulu merasa paling kuat menghadapi hidup, mendadak sadar bahwa usia tidak membuat siapa pun kebal dari cemas, dari utang, dari tekanan zaman yang berubah terlalu cepat.

Teknologi terus melaju. Baliho politik terus berdiri. Harga kebutuhan terus bergerak. Grup WhatsApp terus berbunyi.

Namun satu nomor di daftar anggota kini hanya menyisakan foto dan tulisan terakhirnya.

Setiap kali notifikasi berbunyi pukul lima pagi, saya teringat kalimatnya tentang watermark kehidupan.

Mungkin benar—hidup memang seperti desain gratisan. Tampak cerah di layar, tetapi menyimpan tanda yang tidak semua orang lihat.

Dan di antara Canva, neraca, Linux, dan baliho yang menjulang tinggi, kami akhirnya mengerti sesuatu yang tidak pernah diajarkan di kelas pada tahun 1983.

Bahwa kadang yang paling keras tertawa adalah yang paling sunyi menanggung beban.

Bahwa pesan yang tak sempat dibalas bisa menjadi kalimat paling menyakitkan.

Dan bahwa notifikasi terakhir pagi itu bukan sekadar candaan, melainkan salam yang tidak kami sadari sebagai perpisahan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni