Cerpen

Bayangan yang Berbalik Arah

76
×

Bayangan yang Berbalik Arah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seorang analis citra mulai gelisah saat teknologi yang ia percaya justru berbalik mengawasi. Dari ruang sunyi, ia sadar: pengetahuan yang dilepas tak pernah benar-benar bisa dikendalikan manusia.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Aku membaca kabar itu saat roti panggang hampir gosong dan pagi terasa biasa. Iran merilis citra satelit resolusi tinggi dari orbit—bukan kota sendiri, melainkan fasilitas strategis Amerika.

Berita itu disebut sebagian orang sekadar pamer teknologi. Bagiku, ia adalah isyarat sunyi. Sebuah catatan kecil yang diperlihatkan tanpa suara, tetapi cukup membuat ruang dapur terasa menyempit.

Baca juga: Doa ke Makkah sebelum Dewasa

Cerita ini tidak dimulai di dapur, melainkan di sebuah ruangan tanpa jendela yang selama bertahun-tahun menjadi tempatku bekerja. Dindingnya penuh layar yang memantulkan bumi dari berbagai sudut. Laut, gurun, kota, dan infrastruktur terlihat seperti diagram raksasa. Di sana kami diajari satu hal utama: melihat tanpa terlihat, mencatat tanpa bersuara.

Namaku Arman. Aku analis citra. Aku bukan orang yang menekan tombol peluncuran atau menyusun pidato. Tugasku membaca bayangan, mengukur sudut matahari, dan menafsirkan apa yang disembunyikan manusia di balik beton. Sejak awal karier, aku diyakinkan bahwa semua ini demi keamanan global. Kalimat itu diulang hingga terdengar seperti kebenaran.

Baca Juga:  Ora Usah Nunggu Weton

Ketika Iran meluncurkan satelit Khayyam pada 2022 menggunakan roket Soyuz, kami mempelajarinya sebagai catatan teknis. Media internasional menyebutnya kerja sama sipil; sebagian analis meragukannya, sebagian lain mencurigainya.

Bertahun-tahun kemudian, ketika citra resolusi tinggi dirilis ke publik dan memperlihatkan fasilitas energi di Amerika Serikat—termasuk yang disebut Vogtle dalam pemberitaan—ruang kerjaku mendadak senyap.

Tidak semua orang sepakat tentang detail citra itu. Ada yang menyebut sudutnya simbolik, ada yang menilai resolusinya pesan politik, ada pula yang mengatakan ini hanya demonstrasi kemampuan. Tidak ada pernyataan ancaman resmi. Justru di situlah maknanya. Dalam dunia intelijen, sinyal paling keras sering disampaikan tanpa satu kata pun.

Aku mengenali sudut pengambilan gambar itu seperti mengenali tulisan tanganku sendiri. Ada kesalahan kecil pada perhitungan sudut matahari—jenis kekeliruan yang tidak akan dilakukan oleh pemula.

Tenggorokanku mendadak kering. Aku berdiri dan berjalan ke layar, mendekat seolah bisa mencium bau logam dari fasilitas yang jauh ribuan kilometer.

Atasanku masuk tanpa mengetuk.

“Kau melihatnya juga,” katanya singkat.

Aku mengangguk.

“Ini bukan ancaman,” lanjutnya.

Aku menatap layar beberapa detik lebih lama sebelum menjawab.
“Tidak,” kataku pelan. “Ini pengingat.”

Baca Juga:  Di Antara Dua Amanah

Sejak hari itu, aku merasa diawasi oleh pekerjaanku sendiri. Aku teringat tahun-tahun awal ketika membantu menyusun modul pelatihan analisis citra untuk program kerja sama internasional. Secara resmi, modul itu untuk tujuan damai dan akademik. Tidak ada kebohongan di sana. Hanya kebenaran yang tidak utuh.

Di rumah, anak perempuanku bertanya kenapa aku sering diam.

“Ayah capek?” katanya suatu malam.

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di kepalaku berputar peta, orbit, dan bayangan fasilitas yang pernah kutandai dengan presisi nyaris sempurna. Aku hanya mengusap kepalanya pelan.

“Iya, sedikit,” jawabku akhirnya—dan untuk kali pertama aku tidak yakin itu sepenuhnya bohong.

Media bergerak cepat. Topik itu segera tenggelam oleh isu lain. Pasar kembali normal. Para pejabat menenangkan publik. Tetapi di ruang tanpa jendela, kami mulai bekerja lebih keras. Akses dibatasi. Log dicermati. Setiap orang berpotensi menjadi celah.

Suatu malam, aku membuka folder lama di komputer kantor yang jarang disentuh. Di sana tersimpan algoritma peningkatan citra yang dulu kubuat. Aku menelusuri catatan pengembangannya, baris demi baris.

Lalu aku berhenti.

Ada pola yang terasa terlalu familier.

Keesokan harinya, aku dipanggil untuk klarifikasi internal. Tidak ada teriakan. Tidak ada tuduhan. Hanya pertanyaan yang disusun rapi, seperti laporan teknis.

Baca Juga:  Perbedaan Itu Biasa, tapi Cara Menyikapinya Menentukan Segalanya

Aku menjawab jujur.
Ya, algoritma itu pernah dibagikan dalam forum akademik terbuka.
Ya, siapa pun bisa mempelajarinya.
Ya, aku tidak pernah membayangkan ke mana ia akan pergi.

Ketika aku kembali ke mejaku, sebuah pesan singkat menunggu di layar internal. Bukan dari luar. Dari sistem.

Metadata citra terbaru mencantumkan struktur pemrosesan yang tidak asing.

Aku membaca ulang. Sekali. Dua kali.

Namanya tidak persis sama, tetapi logikanya identik.

Dingin merambat pelan dari tengkuk ke punggungku.

Saat itulah aku mengerti. Bukan negara tertentu yang membuatku gelisah, melainkan kenyataan bahwa pengetahuan tidak pernah bisa dikurung oleh batas politik. Mata dari langit tidak memilih bendera. Ia hanya melihat, setenang mungkin.

Malam itu aku pulang lebih awal. Roti di dapur sudah dingin, persis seperti pagi ketika aku membaca berita itu. Anak perempuanku sudah tidur di sofa dengan buku terbuka di dadanya.

Aku mematikan lampu dapur perlahan.

Lalu aku sadar—buku kecil yang diperlihatkan dunia itu bukan milik siapa pun secara tunggal.

Aku ikut menuliskannya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…