Cerpen

Ora Usah Nunggu Weton

63
×

Ora Usah Nunggu Weton

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi cerpen Ora Usah Nunggu Weton

Ilustrasi cerpen Ora Usah Nunggu Weton (AI)

Karena pada akhirnya, dalam urusan cinta, tidak ada pertemanan yang benar-benar netral. Curhat kepada sesama perjaka sering kali sama saja membocorkan strategi perang kepada orang yang diam-diam sudah bersiap menyerang.

Cerpen oleh M. Afin Masrija, aktif menulis opini dan cerpen di berbagai media online maupun media cetak, dengan tema sosial, pendidikan, dan kehidupan keseharian.

Tagar.co – Aku belajar sejak kecil bahwa hidup jarang memberi kesempatan yang adil. Ia tidak pernah duduk bersamamu untuk menimbang latar belakang, silsilah, atau saldo tabungan.

Hidup hanya memberi dua pilihan: menunggu atau bergerak. Dan sering kali, yang menunggu akan kalah—bukan karena salah, melainkan karena kehabisan waktu.

Ablon tidak pernah kehabisan waktu. Ia anak priyayi kaya. Ayahnya pensiunan pejabat kecamatan, ibunya perempuan yang hafal silsilah keluarga seperti membaca daftar hadir.

Rumahnya besar, halamannya luas, dan masa depannya selalu dibicarakan seolah sudah dicetak sejak lahir. Ablon tumbuh dengan keyakinan sederhana bahwa dunia adalah ruang tamu: siapa pun boleh masuk, tapi ia tahu di kursi mana harus duduk.

Kuliah baginya bukan keharusan. Ia tidak merasa perlu menambah legitimasi apa pun pada hidupnya.

“Ngapain sekolah lama-lama,” katanya suatu kali, “Kalau ujungnya juga usaha.”

Kalimat itu tidak pernah terdengar arogan, karena ia mengucapkannya sambil tertawa santai, dengan jam tangan mahal berkilat di pergelangan. Aku berbeda.

Ayahku kurir antar kota. Ibuku honorer SD. Hidup kami diukur dengan jadwal cicilan dan doa-doa yang sering tertunda. Kami tidak pernah benar-benar jatuh, tetapi juga jarang berdiri tegak. Setiap keputusan harus dihitung. Setiap rencana selalu disertai kalimat: asal cukup.

Aku dipaksa kuliah. Bukan karena kami mampu, melainkan karena orang tuaku takut aku bernasib sama dengan mereka—selalu bekerja, jarang sampai. Aku masih ingat ayahku mengkis-mengkis saat membayar daftar ulang semester pertama. Ibu pura-pura kuat, meski aku tahu ia menunda membeli sepatu baru. Aku lulus. Sarjana. Kata itu dulu kami ucapkan seperti mantra.

Sekarang, ijazah itu kusimpan rapi di laci. Aku bekerja serabutan. Kadang bangga, kadang malu. Tapi aku tahu satu hal: aku pernah menyelesaikan sesuatu sampai tuntas, dan itu membuatku tidak sepenuhnya rapuh ketika hidup kembali menguji.

Baca Juga:  Ayat-Ayat di Ujung Senja

***

Sari adalah anak orang biasa. Ayahnya petani. Tangannya kasar oleh tanah, tetapi cara bicaranya selalu tertib. Ibunya guru ngaji di langgar kecil, suaranya lembut, hafal doa-doa pendek yang sering ia ulang ketika menunggu hujan reda.

Rumah mereka sederhana—temboknya tak dicat mencolok, perabotnya secukupnya. Tidak ada apa pun yang berusaha tampak lebih dari seharusnya.

Wajah Sari memang menyilaukan. Bukan cantik yang berisik, melainkan terang yang tenang. Seperti lampu di ruang tamu saat mati listrik—tidak menyilaukan mata, tetapi cukup membuat orang bertahan di tempatnya.

Perjaka sekampung mendadak rajin lewat depan rumahnya. Alasannya selalu samar: beli pulsa, numpang lewat, cari angin.

Awalnya aku menganggapnya biasa saja. Hidupku terlalu sibuk mengurus hari esok untuk memberi ruang pada kagum. Sampai Ablon membicarakannya.

Ablon selalu punya selera yang menyilaukan. Apa pun yang ia incar—motor, jam tangan, perempuan—selalu tampak lebih bernilai karena ia yang memilih. Dari situlah aku mulai memperhatikan Sari.

Dan pelan-pelan aku sadar: kalau selera Ablon berhenti di sini, berarti ada sesuatu yang selama ini luput dari penglihatanku.

***

Suatu sore kami duduk di warung langganan. Ablon bercerita panjang lebar tentang strateginya. Ia bicara seperti orang menyusun rencana usaha: hitung peluang, baca situasi, cari jalan pintas. Aku mendengarkan sambil mengaduk kopi.

“Tenang,” kataku akhirnya. “Strategimu sudah bagus. Tinggal kurang dukunnya saja.”

Ia tertawa.

“Kamu tahu dukun yang bagus nggak, Jan?”

“Kalau dukun perihal asmara, namanya Mbah Cokro. Istimewa. Tapi amalannya banyak.”

“Tidak masalah.”

“Tapi kayaknya Mbah Cokro sibuk. Musim orang kawinan. Paling cepat dua minggu lagi.”

“Ok. Anterin ya.”

Aku menolak. Beralasan ada urusan keluarga. Lalu—entah kenapa—aku malah membocorkan beberapa persyaratan ritualnya dengan rinci, supaya ia tidak bolak-balik.

Ablon memesan kopi dan gorengan lima. Ia menatapku sambil berharap aku membayari. Aku mengangguk. Hitung-hitung jasa curhat.

Saat itu aku belum sadar: aku sedang memberi Ablon waktu. Dan waktu adalah kemewahan yang tidak pernah benar-benar kumiliki.

***

Dua pekan berlalu. Aku gelisah. Bukan karena cinta—belum—melainkan karena aku mengenal Ablon. Ia tidak suka kalah, dan ia terbiasa menang cepat. Aku membayangkan ia pulang dari Mbah Cokro dengan keyakinan baru, dengan rasa percaya diri yang semakin tebal.

Baca Juga:  Doa yang Berangkat Lebih Dulu

Dan di situlah aku memutuskan: aku akan memakai strateginya. Cepat. Diam-diam. Tidak menunggu semua terasa siap.

***

Aku menemui Sari di beranda rumahnya. Senja turun malas. Bau tanah basah bercampur kayu bakar. Ayahnya sedang membersihkan alat tani, ibunya melipat sajadah. Aku tidak membawa apa-apa. Tidak juga membawa janji besar.

Aku tidak memakai bahasa sarjana.Tidak pula bahasa pejabat. Aku memakai bahasa blantik—bahasa yang jujur karena tidak berusaha tampak pintar.

“Ri,” kataku pelan, “Aku iki wong ora sugih. Kerjoanku durung cetha. Nanging nek urusan tanggung jawab, aku ora seneng ninggal janji.”

Sari menunduk.

“Aku ora pinter nggunakke tembung manis,” lanjutku.

“Tapi nek kowe gelem, uripku tak lebokake kene. Ora akeh, nanging sakabehe.”

“Aku mungkin ora iso nuruti kekarepanmu sekabehane, tapi ri.. opo sik tak nduweni tak kekno kabeh marah awakmu. Termasuk nyowoku.”

Aku ragu sejenak, lalu menambahkan—hampir seperti catatan kaki—

“Aku iki sarjana. Ora kanggo pamer. Mung ben kowe ngerti, aku tau rampungke sing tak mulai.”

Ia tidak menjawab panjang. Hanya tersenyum tipis. Cukup.

***

Orang tuaku menolak. Ibu menangis. Ayah diam lama. “Kita ini siapa, Jan?” kata ibu lirih.

Aku menjawab pelan tapi tegas, “Kalau bapak-ibu tidak mau datang, saya akan datang sendiri ke rumah Sari. Lelaki tidak butuh wali untuk niat.”

Ayah menatapku lama, lalu menghela napas. “Kamu keras kepala,” katanya. Tapi ia kalah dan ikut.

***

Aku menemui Kiai Mimbar. Ia mendengarkan ceritaku sambil tersenyum kecil. Ketika aku menyebut weton, ia tertawa.

“Ngapain itung-itungan weton? Kesuwen,” katanya.

“Amal apik ora usah nunggu weton. Kalau niatmu baik, langsung saja ijab kabul.”

Ia menyelipkan amplop ke sakuku.

“Buat uang saku nikah.”

Wajahnya tampak tulus bahagia.

“Soal saksi,” tambahnya,

“Biar saya. Sekalian saya yang menikahkan. Khutbah, doa, kabeh tak urus.”

***

Hari itu datang cepat. Tidak ada hitung weton. Tidak ada dukun. Tidak ada ritual aneh. Kiai Mimbar membaca khutbah singkat. Ia menjadi saksi. Ia pula yang menikahkan. Ijab kabul sekali tarik napas. Sah.

Baca Juga:  Kenyang dari Sampah Masjid

***

Sore itu aku membonceng Sari ke warung. Di sana Ablon duduk. Rapi. Percaya diri. Jam tangannya berkilat seperti biasa.

“Gimana, Mbah?” tanyanya. “Sudah cocok jadi suami Sari belum?”

Mbah Ginem menjawab datar, “Kemarin Sari sudah ijab sama Jani. Kiai Mimbar sendiri yang menikahkan.”

Wajah Ablon berubah. Bukan sedih—lebih seperti orang yang kehilangan hak istimewa.

“Asem kowe, Jan.”

Aku tidak menjawab.

***

Malamnya, setelah Sari tertidur lebih dulu, ponselku bergetar. Nama Ablon muncul di layar.

Pesannya singkat. Tanpa salam. Tanpa basa-basi.

“MUNAFIK!!”

Huruf kapital semua. Seperti teriak yang disimpan terlalu lama. Aku menatap layar cukup lama. Banyak jawaban muncul di kepalaku—penjelasan, pembelaan, bahkan ejekan kecil.

Aku bisa bilang bahwa aku hanya lebih cepat. Bisa juga bilang bahwa ia sendiri yang mengajariku strategi.

Tapi setiap kalimat terasa salah. Kalau kujawab, aku seperti mengakui bahwa ini pertandingan.

Kalau membela diri, aku justru memperpanjang kekalahan yang sudah terjadi.

Aku akhirnya meletakkan ponsel di meja. Membiarkan layar gelap kembali. Pesan itu tetap di sana—tidak terbalas, tidak terhapus.

Aku bangkit, mematikan lampu, dan kembali ke ranjang. Malam menyisakan kehangatan yang tenang. Ada hal-hal yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata, cukup dijalani sebagaimana mestinya oleh pengantin baru.

Di luar, suara jangkrik terdengar seperti penonton yang akhirnya bubar setelah pertandingan selesai.

Karena pada akhirnya, dalam urusan cinta, tidak ada pertemanan yang benar-benar netral. Curhat kepada sesama perjaka sering kali sama saja membocorkan strategi perang kepada orang yang diam-diam sudah bersiap menyerang.

Aku tidak menang karena lebih kaya. Tidak juga karena lebih suci. Bahkan mungkin tidak sepenuhnya jujur.

Aku hanya berhenti menunggu hari baik dan percaya bahwa amal apik ora nunggu weton. Kadang, ia juga tidak butuh pembelaan. Bagiku, malam itu sederhana: yang penting, aku menang. (#)

Penyunting Ichwan Arif

 

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…