Feature

Doa yang Berangkat Lebih Dulu

238
×

Doa yang Berangkat Lebih Dulu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Foto itu biasa saja—dua pesawat, relawan, senja. Sampai seorang staf menemukan sesuatu yang tidak tercatat di laporan resmi.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Aku mengenalnya sebagai perempuan yang selalu tiba lebih awal dan pulang paling akhir. Di lantai atas gedung perusahaannya, ia kerap berdiri di balik kaca, memandang kota tanpa gestur kepemilikan. Namanya dikenal luas, tetapi di kantor kami ia hanya dipanggil Bu Rani. Ia tidak suka disebut dengan gelar. Katanya, gelar sering membuat orang lupa pada niat.

Cerita ini bermula dari sebuah foto. Dua pesawat jet kargo berwarna pucat. Relawan berdiri berjajar. Tak ada pose kemenangan. Tak ada tangan mengepal ke udara. Foto itu dipasang di papan pengumuman internal, menjadi bingkai sunyi bagi rapat-rapat pagi.

Baca cerpen lainnya: Gugatan Cerai di Balik Senyum Kekuasaan

Aku, Arga, staf komunikasi yang ditugasi menulis laporan pengiriman bantuan. Tiga puluh ton logistik dikirim ke Sumatra. Lokasi bantuan disebut sesuai data lapangan. Selebihnya harus disamarkan. Nama, tempat, bahkan waktu. Itu pesan singkat Bu Rani melalui asistennya.

Baca Juga:  Menjaga Lisan, Merawat Perasaan

“Cerita boleh panjang,” katanya. “Fakta bantuan jangan diubah. Tapi jangan taruh kami di tengah cerita.”

Aku menulis laporan sebagaimana mestinya. Tentang kolaborasi relawan. Tentang pesawat yang disewa. Tentang dana masyarakat yang dikumpulkan. Tentang lembaga kemanusiaan yang bekerja di lapangan. Rapi. Aman. Selesai.

Namun foto itu terus menarikku kembali.

Di sudut kiri foto, agak terpisah dari rombongan, berdiri seorang perempuan tua berkerudung kusam. Tubuhnya kecil. Tangannya terkatup. Matanya terpejam. Ia tidak sedang melihat kamera. Seolah ia hadir bukan untuk mengantar bantuan, melainkan melepas sesuatu yang lebih pribadi.

Aku mencari wajah itu di daftar relawan, di video dokumentasi, di arsip keberangkatan. Tak ada namanya.

Sore hari aku bertemu Bu Rani di lorong parkir. Ia membawa tas kain sederhana. Tanpa sopir. Tanpa pengawal.

“Bu,” kataku ragu, “di foto pengiriman bantuan, ada seorang ibu tua di belakang. Itu siapa?”

Ia berhenti. Lama. Lalu menoleh.

“Itu ibuku,” jawabnya singkat.

Aku terdiam. Selama ini cerita tentang ibunya selalu disebut dalam bentuk lampau. Kisah perjuangan hidup yang berakhir lama sebelum Bu Rani membangun usahanya.

Baca Juga:  Cahaya dari Senyum Abah

“Ibu masih hidup?” tanyaku pelan.

Ia tersenyum tipis. “Sudah tidak. Tapi doa tidak pernah mati.”

Ia melangkah pergi, meninggalkanku di lorong parkir dengan pertanyaan yang belum selesai.

Malam itu aku membuka arsip lama—wawancara, catatan perusahaan. Semuanya menyebut hal yang sama: ibunya telah lama wafat. Aku menutup laptop dengan kepala penuh.

Keesokan harinya aku dipanggil ke ruangannya. Ia menyerahkan sebuah map cokelat, usang.

“Ini jangan dipublikasikan,” katanya. “Simpan saja.”

Di dalamnya ada surat tulisan tangan. Tinta pudar. Kertas menguning. Surat seorang ibu kepada anak perempuannya. Tentang hidup yang harus dijalani pelan. Tentang menolong orang tanpa menunggu dilihat. Tentang takut jika kebaikan berubah menjadi kebanggaan.

Kalimat terakhirnya singkat: Jika suatu hari kau mampu mengirim bantuan dengan pesawat, jangan ikut terbang bersamanya.

Aku menutup map itu dengan tangan gemetar.

Hari pengiriman bantuan, Bu Rani berdiri jauh dari kamera. Namanya tak tercantum di daftar dokumentasi. Ia memilih berada di belakang, di titik yang sama dengan sosok perempuan tua dalam foto.

Baca Juga:  Lak Bulu

Aku menulis ulang laporanku. Dengan alur bingkai. Tentang seseorang yang mengantar bantuan bukan untuk dikenal, melainkan untuk menepati janji.

Beberapa pekan kemudian kabar dari Sumatra datang. Bantuan tiba. Tepat sasaran. Relawan bekerja. Masyarakat terbantu. Media menulis singkat. Tanpa sorotan berlebihan. Tanpa nama besar.

Foto itu kemudian diturunkan dari papan pengumuman. Diganti target baru. Proyek baru.

Namun sebelum itu terjadi, aku kembali memandang foto tersebut lebih lama. Ada sesuatu yang baru kusadari. Kerudung kusam yang dikenakan perempuan tua itu bermotif sama dengan kerudung lama yang pernah kulihat tersimpan rapi di laci meja Bu Rani.

Saat dua pesawat kargo itu lepas landas menuju Sumatra, yang benar-benar berangkat lebih dulu bukanlah barang bantuan.

Melainkan seorang anak yang akhirnya menepati janjinya kepada doa ibunya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni