Feature

Gugatan Cerai di Balik Senyum Kekuasaan

65
×

Gugatan Cerai di Balik Senyum Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ketika sebuah gugatan cerai menjadi pintu masuk terbongkarnya kekuasaan, seorang perempuan memilih jalan paling sunyi untuk menegakkan kejujuran — meski harus membayar dengan seluruh hidup yang pernah ia bangun.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Ruang tunggu Pengadilan Keluarga Aryasena pagi itu dipenuhi kilatan kamera. Wartawan berdiri berderet, menunggu potongan emosi dari peristiwa yang mereka kira sederhana. Di dinding lobi, foto lama pasangan terkenal itu kembali muncul di layar monitor.

Senyum mereka tampak rapi, teratur, seolah tak pernah disentuh retak. Dari sanalah cerita ini bermula, dari sebuah citra yang terlalu sempurna untuk jujur.

Maya Pranadya, anggota Dewan Federasi periode baru, melangkah masuk dengan langkah pelan. Orang-orang mengenalnya sebagai Ibu Teduh, figur publik yang jarang meninggikan suara. Ia mengenakan busana sederhana dan sebuah jam tua di pergelangan tangan kirinya.

Baca cerpen lainnya: Langkah Kecil yang Mengubah Segalanya

Jam itu hadiah pernikahan dari Arka Mahendra dua puluh sembilan tahun lalu—satu-satunya benda yang tak pernah ia lepaskan, bahkan ketika semua yang lain perlahan runtuh. Detiknya berdetak pelan, seperti mengukur sisa kesabaran yang lama terkuras.

Arka Mahendra bukan sosok sembarangan. Ia mantan Gubernur Lembah Parahyasa, pemimpin karismatik yang dibesarkan oleh pidato hangat dan citra keluarga harmonis. Selama bertahun-tahun, Maya berdiri setengah langkah di belakangnya, hadir dalam peresmian, kampanye, dan acara kenegaraan. Senyumnya menjadi penegas narasi bahwa kekuasaan mereka dibangun di atas cinta yang utuh.

Baca Juga:  Meniti Usia Senja dengan Hati yang Tenang

Namun di rumah yang tak pernah disorot kamera, retakan tumbuh perlahan. Bukan ledakan, melainkan bunyi halus seperti kayu tua yang terus menahan beban. Retakan itu mulai terasa ketika nama seorang perempuan lain, Lira Manara, beredar lirih. Isu itu dibantah, diredam, lalu ditutup dengan foto keluarga dan kata-kata manis. Publik percaya. Maya memilih diam.

Diam Maya bukan tanpa gejolak. Malam-malamnya diisi gelisah; ia sering duduk sendiri di ruang makan setelah semua lampu dipadamkan, menatap pantulan wajahnya di permukaan meja kaca, seolah sedang berbicara dengan seseorang yang tak lagi berani ia sebut namanya.

Ia mengulang-ulang percakapan lama, janji yang diucapkan Arka dengan mata meyakinkan. Berkali-kali ia hampir berbicara, hampir bertanya, hampir menuntut kejujuran. Namun setiap kali, ia ingat bagaimana rumah tangga mereka telah menjadi bagian dari panggung kekuasaan. Setiap kata memiliki konsekuensi.

Ketika isu lain mulai menyeruak tentang proyek bayangan dan aliran dana tak wajar, Maya menyadari sesuatu yang lebih berbahaya. Rumah tangga mereka bukan hanya hubungan personal, tetapi juga perisai citra. Senyum bersama, foto lama, dan narasi romantis dipakai untuk menutup ruang tanya. Pada suatu malam, Maya membuka laci kerja Arka. Di sana bukan surat cinta yang ia temukan, melainkan catatan transaksi dan nama-nama samar. Saat itulah kesunyian berubah menjadi keputusan.

Baca Juga:  Suara Hati Rina

Gugatan cerai didaftarkan tanpa konferensi pers. Panitera pengadilan hanya mengonfirmasi tanggal sidang pertama. Media bergerak cepat, membangun spekulasi. Kuasa hukum Arka mengirim pernyataan singkat bahwa keretakan telah lama terjadi akibat pihak ketiga. Nama Lira Manara kembali disebut. Publik pun sibuk menghakimi, membagi simpati, dan melupakan pertanyaan lain yang lebih besar.

Di ruang sidang, Maya duduk tenang. Arka tidak hadir, diwakili pengacara. Ketidakhadiran itu menimbulkan tafsir dingin. Hakim membaca pokok perkara dengan suara datar. Tidak ada detail diumbar. Bagi Maya, sidang itu bukan panggung pengakuan, melainkan penanda waktu. Ia tahu, cerita sesungguhnya berjalan di jalur lain.

Jam tua di pergelangan tangannya kembali berdetak ketika ia melangkah keluar. Seorang wartawan memanggil namanya, menanyakan perasaan. Maya berhenti sejenak, menoleh, lalu tersenyum tipis. Senyum itu berbeda dari foto-foto lama. Lebih singkat, lebih jujur.

Malamnya, di rumah yang kini terasa asing, Maya duduk di depan meja kerja. Ia membuka penutup belakang jam tua itu. Di dalamnya tersimpan kartu memori kecil, diselipkan bertahun-tahun lalu ketika kecurigaan pertama muncul.

Baca Juga:  Menunda Tobat, Menunda Selamat

Tangannya sempat gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sadar bahwa setelah ini tak ada lagi jalan kembali, tak ada lagi rumah yang bisa ia sebut aman, tak ada lagi kebohongan yang bisa ia rawat demi siapa pun. Ia menatap layar laptop, mengingat semua yang ia pertaruhkan, lalu menekan tombol kirim.

Keesokan paginya, arah berita berubah drastis. Media tidak lagi membicarakan perceraian romantis yang gagal, melainkan penyelidikan besar yang menyeret banyak nama. Proyek bayangan dibuka. Transaksi diselidiki. Arka Mahendra dipanggil sebagai saksi kunci. Publik terkejut. Narasi lama runtuh dalam semalam.

Gugatan cerai yang semula dianggap drama pribadi ternyata hanyalah pintu. Maya tidak pergi semata karena disakiti oleh kehadiran perempuan lain. Ia pergi karena menyadari bahwa bertahan berarti ikut menjaga kebohongan. Perceraian itu adalah cara paling sunyi untuk menjatuhkan tirai, agar cahaya masuk ke tempat yang selama ini gelap.

Di tengah hiruk pikuk pemberitaan baru, Maya memilih menghilang dari sorotan. Jam tua itu masih melingkar di pergelangan tangannya. Detiknya tetap berjalan, tenang dan setia, menandai satu hal yang kini ia genggam sepenuhnya: kejujuran yang akhirnya dibayar mahal, tetapi tak lagi ditunda. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni