Telaah

Jangan Lelah Berbuat Baik

95
×

Jangan Lelah Berbuat Baik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Meski kerap dicemooh dan diabaikan, setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat lurus tak pernah sia-sia di sisi Allah.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Di tengah dunia yang tak selalu ramah, kebaikan sering terasa kecil dan tak diperhitungkan. Namun iman mengajarkan bahwa setiap niat lurus memiliki nilai di sisi Allah. Meski dicemooh, ditertawakan, atau diabaikan, seorang mukmin tak pernah rugi ketika memilih terus berkarya, berbagi manfaat, dan menyalakan cahaya di tengah gelapnya zaman dengan keyakinan penuh akan balasan-Nya.

Tidak setiap karya akan disukai. Itu sunatullah. Bahkan para nabi dan rasul yang diutus membawa kebenaran pun tidak luput dari cemoohan dan penolakan. Al-Qur’an merekam bagaimana Nabi Nuh عليه السلام diejek kaumnya, Nabi Musa عليه السلام dituduh bermacam-macam, hingga Nabi Muhammad disebut penyair, orang gila, dan pendusta.

Baca juga: Doa Anak dan Amal yang Tak Terputus untuk Mayat

Namun Allah tidak pernah memerintahkan mereka untuk berhenti berbuat baik, melainkan tetap istiqamah menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan kesabaran.

Baca Juga:  Suara Paling Lantang di Balik Kekosongan

Allah Ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُ

“Dan bersabarlah (wahai Muhammad), dan kesabaranmu itu hanyalah dengan pertolongan Allah. Janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka lakukan.” (An-Nahl: 127)

Ayat ini meneguhkan bahwa reaksi manusia bukan ukuran nilai amal. Yang dinilai Allah adalah niat, ikhtiar, dan keistikamahan. Karena itu, jangan memilih diam hanya karena takut tidak disukai. Diam dalam kebaikan sering kali justru memperpanjang umur kegelapan. Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa iman menuntut peran, sekecil apa pun peran itu?

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَىٰ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَا

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (Muslim)

Hadis ini bukan hanya tentang mencegah keburukan, tetapi juga dorongan agar seorang mukmin tidak pasif. Berkarya adalah salah satu bentuk menghidupkan kebaikan. Menulis, mendesain, berdagang, membuat film, mengajar, atau sekadar menebar senyum dan empati, semuanya bisa menjadi jalan ibadah jika diniatkan karena Allah.

Baca Juga:  Surah Al-Waqiah Ungkap Rahasia Rezeki

Allah Ta’ala menegaskan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (Az-Zalzalah: 7)

Ayat ini menampar rasa putus asa. Kebaikan sekecil zarah pun dicatat, apalagi kebaikan yang terus diulang dan disebarkan. Kita tidak pernah tahu amal mana yang kelak menjadi sebab Allah rida. Bisa jadi bukan ibadah besar yang terlihat, melainkan karya sederhana yang menguatkan orang lain, tulisan yang mengetuk hati, atau usaha jujur yang menjaga banyak keluarga dari kelaparan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَىٰ أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria.” (Muslim)

Maka teruslah berkarya. Jika melalui tulisan, menulislah dengan jujur dan mencerahkan. Jika melalui desain, hadirkan keindahan yang menuntun pada nilai. Jika melalui bisnis, berdaganglah dengan amanah dan kebermanfaatan. Jika melalui film atau media, sampaikan pesan yang menumbuhkan iman dan akhlak. Semua itu adalah ladang amal, bukan sekadar ekspresi diri.

Baca Juga:  Ramadan dan Kehati-hatian Mengutip Hadis

Yang terpenting adalah istiqamah. Karena amal yang dicintai Allah bukan yang paling besar, tetapi yang paling konsisten. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.” (Bukhari dan Muslim)

Inilah makna terdalam dari pesan untuk terus menyebarkan kebaikan. Kita tidak sedang mengejar tepuk tangan manusia, melainkan mengharap perkenan Allah. Kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang kelak mengantarkan kita ke surga-Nya. Tugas kita hanyalah menanam, sementara Allah yang menumbuhkan dan menentukan hasilnya.

Semoga Allah menguatkan langkah kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya, melapangkan hati dari rasa lelah dan kecewa, serta menerima setiap amal kecil yang kita lakukan sebagai jalan menuju rida dan surga-Nya. Aamiin ya Rabb al-‘alamin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni