
Tidak semua hadis yang populer saat Ramadan memiliki sanad yang kuat. Memahami mana yang sahih dan mana yang lemah menjadi bagian penting dari menjaga kemurnian ibadah.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
Tagar.co – Ramadan adalah bulan suci yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun kecintaan kepada Ramadan harus dibingkai dengan ilmu yang sahih. Tidak sedikit hadis yang populer di tengah masyarakat ternyata lemah dari sisi sanad.
Baca juga: Jangan Sia-siakan Ramadan, setiap Detiknya Bernilai Surga
Tulisan ini mengajak kita menjalani puasa dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis sahih, disertai penjelasan ilmiah mengenai kelemahan beberapa riwayat yang kerap dikutip, agar ibadah kita tetap lurus dan bernilai di sisi Allah Ta’ala.
Ramadan adalah madrasah takwa. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183).
Tujuan puasa adalah takwa. Takwa lahir dari ketaatan yang berdiri di atas ilmu, bukan sekadar semangat tanpa pijakan dalil yang kuat.
Di tengah masyarakat, kita sering mendengar hadis: “Awal Ramadan rahmat, pertengahannya maghfirah, akhirnya pembebasan dari neraka.” Riwayat ini disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman. Namun dalam sanadnya terdapat ‘Ali bin Zaid bin Jud‘an.
Para ulama jarh wa takdil menilai perawi ini lemah hafalannya. Ibn Hajar al-Asqalani menyebutnya dha‘if, dan Al-Albani juga menegaskan kelemahannya dalam Silsilah Ad-Daifah. Karena itu, cacat riwayat ini terletak pada perawi yang daif al-hifzh. Secara makna memang benar bahwa Ramadan penuh rahmat dan ampunan, tetapi pembagian tiga fase tersebut tidak memiliki sanad yang kuat.
Hadis lain yang cukup populer adalah ungkapan: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.” Riwayat ini juga disebut oleh Al-Baihaqi. Dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Abi Yahya, seorang perawi yang dinilai sangat lemah bahkan ditinggalkan oleh banyak ulama. Sebagian ulama menilainya matruk.
Dengan demikian, cacat sanadnya jelas karena terdapat perawi yang tidak tsiqah. Oleh sebab itu hadis ini dihukumi dha‘if jiddan. Jika dipahami secara mentah, orang bisa keliru memahami Ramadan sebagai bulan memperbanyak tidur, padahal Rasulullah ﷺ justru menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.
Dalam hadis sahih disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
Apabila masuk sepuluh malam terakhir, Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya.” (Bukhari dan Muslim).
Inilah teladan sahih tentang kesungguhan Rasulullah ﷺ dalam memuliakan Ramadan.
Ungkapan lain yang sering dikutip adalah: “Berpuasalah, niscaya kamu sehat.” Riwayat ini diriwayatkan oleh Al-Tabarani dalam al-Mu‘jam al-Awsath. Dalam sanadnya terdapat Nuh bin Abi Maryam.
Para ulama menilai perawi ini daif, bahkan sebagian menuduhnya memalsukan riwayat dalam bab fadail. Karena itu sanadnya tidak dapat dijadikan hujjah. Walaupun manfaat kesehatan puasa dapat dibuktikan secara medis, secara ilmu hadis riwayat tersebut tetap dinilai lemah. Islam tidak bergantung pada slogan, melainkan pada sanad yang terjaga.
Allah sendiri telah menjelaskan hikmah puasa:
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 184).
Kebaikan puasa bersifat menyeluruh, tetapi pijakannya tetap wahyu yang sahih.
Ada pula hadis ancaman bagi orang yang sengaja berbuka tanpa uzur: “Barang siapa berbuka satu hari di bulan Ramadan tanpa keringanan dan tanpa sakit, maka puasa sepanjang tahun tidak dapat menggantikannya.” Riwayat ini disebut oleh Abu Dawud dan Al-Tirmizi.
Dalam sanadnya terdapat Abu Al-Mutawwas yang dinilai majhul. Selain itu, terdapat kegoncangan dalam jalur periwayatannya. Karena itu banyak ulama menilai hadis ini daif. Cacatnya terletak pada perawi yang tidak jelas ke-tsiqah-annya serta ketidakstabilan sanad.
Namun sesungguhnya kita tidak membutuhkan riwayat lemah untuk menegaskan kewajiban puasa. Rasulullah ﷺ telah bersabda:
بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ … وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun atas lima perkara … dan puasa Ramadan.” (Bukhari dan Muslim).
Puasa adalah salah satu rukun Islam. Meremehkannya berarti meruntuhkan fondasi agama.
Ramadan juga merupakan bulan Al-Qur’an. Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” (Al-Baqarah: 185).
Sebagai furqan, Al-Qur’an mengajarkan kita membedakan antara riwayat yang sahih dan yang lemah.
Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (Bukhari dan Muslim).
Karena ancaman inilah para ulama meneliti sanad hadis dengan sangat ketat. Mereka menjaga sunnah sebagaimana penjaga menjaga permata berharga.
Mencintai Ramadan berarti juga mencintai kebenaran ilmiah. Kita boleh menyebut makna baik dari riwayat yang lemah selama tidak memastikan bahwa itu sabda Nabi ﷺ dan selama tidak dijadikan dasar hukum. Namun dalam ibadah dan keyakinan, kita tetap kembali kepada dalil yang sahih.
Semoga Allah menjadikan puasa kita berlandaskan iman dan ihtisab, menjadikan ilmu sebagai cahaya, serta menjaga lisan kita dari menisbatkan sesuatu kepada Rasulullah ﷺ tanpa kepastian. Ramadan yang dijalani dengan ilmu sahih akan melahirkan takwa yang kokoh. Dan takwa itulah tujuan akhir dari seluruh perjalanan ibadah kita. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












